Wajah Desa Soritatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini telah berubah drastis. Jika beberapa tahun lalu lanskapnya didominasi hamparan kuning tanaman jagung, kini mata memandang akan disuguhi hijaunya pucuk tebu yang melambai ditiup angin, menjadi simbol kedaulatan ekonomi baru yang tumbuh subur di bawah kaki Gunung Tambora. Perubahan ini bukan sekadar pergantian komoditas pertanian, melainkan sebuah revolusi ekonomi mikro yang dipelopori oleh kegigihan warga dan kepemimpinan desa yang visioner, menawarkan harapan baru bagi ribuan keluarga petani di wilayah tersebut. Dari Keterpurukan Jagung Menuju Kestabilan Tebu Pergeseran besar-besaran ini berakar dari pengalaman pahit yang dialami para petani jagung di Dompu. Pada medio 2024 hingga 2025, asa petani jagung di Dompu sempat hancur lebur ketika harga pasar komoditas ini anjlok drastis. Janji-janji manis tentang stabilitas harga dan potensi keuntungan yang besar buyar, menyisakan tumpukan utang pupuk, bibit, dan biaya operasional lainnya yang mencekik leher para petani. Kondisi ini diperparah oleh fluktuasi pasar global, biaya produksi yang terus meningkat, serta minimnya nilai tambah dari komoditas jagung yang sebagian besar dijual mentah. Banyak petani terpaksa menjual hasil panen di bawah harga pokok produksi, bahkan ada yang membiarkan jagungnya membusuk di ladang karena tidak sepadan dengan biaya panen dan transportasi. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Dompu pada periode tersebut menunjukkan penurunan pendapatan petani jagung hingga 40-50% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, memicu gelombang kekhawatiran akan keberlanjutan hidup mereka. Krisis ini menjadi titik balik, memaksa masyarakat untuk mencari alternatif yang lebih stabil dan berkelanjutan. Di tengah situasi pelik itulah, Kepala Desa Soritatanga, Merafudin, muncul sebagai figur kunci. Ia tidak tinggal diam melihat warganya terjerat masalah ekonomi. Merafudin secara proaktif menangkap keresahan masyarakat dan mulai memperkenalkan tebu sebagai alternatif komoditas yang menjanjikan masa depan lebih cerah. Pendekatannya yang persuasif dan berbasis bukti nyata berhasil meyakinkan banyak petani. "Tanpa harus dipaksa, ternyata masyarakat mulai berpikir sendiri untuk beralih ke tebu. Mereka melihat perbedaan nyata: tebu menawarkan kepastian," ujar Merafudin saat ditemui tim media baru-baru ini, menyoroti respons positif dari warganya. Model Kemitraan yang Memberdayakan Petani Salah satu daya tarik utama tebu yang ditekankan Merafudin adalah efisiensi produksinya. Berbeda dengan jagung yang menuntut penanaman ulang setiap musim dengan biaya bibit dan olah lahan yang tinggi, tebu hanya membutuhkan satu kali masa tanam untuk dapat dipanen hingga lima kali (lima tahun) secara berturut-turut, asalkan perawatan yang tepat diberikan. Ini secara signifikan mengurangi biaya input dan tenaga kerja dalam jangka panjang. Siklus panen yang berkelanjutan ini memberikan kepastian pendapatan yang tidak dimiliki oleh komoditas tanaman semusim seperti jagung. Lebih lanjut, transformasi ini didukung oleh pola kemitraan strategis dengan perusahaan pabrik gula. Model kemitraan ini dirancang untuk memberikan kedaulatan kepada masyarakat dalam mengelola lahan mereka. Perusahaan tidak hanya bertindak sebagai pembeli, tetapi juga sebagai fasilitator yang menyediakan bibit unggul, pendampingan teknis, akses permodalan untuk pupuk dan obat-obatan, serta jaminan harga beli yang stabil. "Masyarakat merasa memiliki. Mereka menanam, merawat, dan menjaga tebu dengan rasa tanggung jawab seperti merawat kebun pribadi. Itulah kunci sukses kemitraan ini," tambah Merafudin. Kemitraan ini bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan sebuah ekosistem yang saling menguntungkan, di mana petani mendapatkan dukungan penuh dari hulu hingga hilir, sementara pabrik gula mendapatkan pasokan bahan baku yang konsisten dan berkualitas. Sistem ini juga mencakup pelatihan bagi petani mengenai praktik pertanian tebu terbaik, pengelolaan hama penyakit, hingga teknik panen yang efisien, memastikan produktivitas lahan tetap optimal. Dampak Ekonomi Nyata: Kemakmuran yang Tumbuh Bersama Dampak ekonomi dari "demam tebu" ini bukan sekadar angka di atas kertas atau janji-janji kosong. Perubahan taraf hidup warga terlihat nyata di depan mata, mengubah lanskap sosial-ekonomi Desa Soritatanga dan sekitarnya. Di Dusun Karyasari, salah satu bagian dari Desa Soritatanga, warga asli maupun pendatang dari Lombok yang sebelumnya menghadapi kesulitan ekonomi, kini mulai menikmati hasil yang signifikan dari budidaya tebu. Merafudin dengan bangga menceritakan beberapa kisah sukses yang menjadi bukti nyata keberhasilan program ini. "Jujur, saya kaget. Ada warga yang sebelumnya kesulitan transportasi, kini sudah mampu membeli sepeda motor baru, bahkan mobil pikap seharga puluhan juta dari hasil panen tebu," ungkapnya. Kendaraan-kendaraan ini tidak hanya menjadi simbol kemakmuran, tetapi juga mempermudah mobilitas petani dan akses mereka ke pasar. Salah satu Kepala Dusun di wilayahnya bahkan dilaporkan mampu meraup pendapatan hingga ratusan juta rupiah per tahun dari komoditas tebu. Pendapatan sebesar ini sebelumnya nyaris tidak terbayangkan ketika mereka masih bergantung pada jagung. Peningkatan pendapatan ini tidak hanya meningkatkan daya beli masyarakat, tetapi juga memicu perputaran ekonomi lokal yang lebih dinamis. Warung-warung desa semakin ramai, permintaan akan barang dan jasa meningkat, menciptakan efek domino positif bagi sektor informal lainnya. Melihat keberhasilan yang dirasakan warganya, Merafudin sendiri termotivasi untuk turun langsung menjadi petani tebu. Ia kini mengelola dua hektare lahan tebu dan berencana menambah luasannya menjadi lima hektare. Keikutsertaannya sebagai petani tebu bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk memberikan contoh nyata dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap potensi komoditas ini. Tantangan dan Upaya Mitigasi: Menjaga Harmoni Pertanian Namun, jalan menuju kemakmuran tidak selalu mulus tanpa hambatan. Seiring dengan ditetapkannya Dompu sebagai kawasan tebu nasional oleh pemerintah pusat, tantangan baru muncul, yakni gangguan hewan ternak. Di wilayah perbatasan antara area peternakan dan perkebunan tebu, tanaman tebu kerap rusak karena masuknya sapi atau kerbau milik warga lain yang dibiarkan lepas. Kerusakan ini tidak hanya menyebabkan kerugian materiil bagi petani, tetapi juga berpotensi memicu konflik horizontal antarwarga. "Ini bukan faktor alam, tapi kelalaian manusia. Kadang pagar dirusak sengaja agar ternak masuk. Ini bisa memicu konflik horizontal antarwarga," tegas sang Kades, menyoroti akar masalah yang seringkali berasal dari kurangnya kesadaran dan tanggung jawab. Konflik semacam ini dapat mengganggu stabilitas sosial dan menghambat kemajuan yang telah dicapai. Menyikapi hal ini, Merafudin berperan sebagai diplomat desa. Ia aktif berkoordinasi dengan aparat kepolisian sektor setempat dan pemerintah kecamatan untuk mencari solusi komprehensif. Upaya yang dilakukan meliputi sosialisasi regulasi terkait kepemilikan dan penggembalaan ternak, mediasi antara kelompok petani dan peternak, serta penegakan aturan desa yang mengatur tentang penertiban hewan ternak. Tujuan utamanya adalah memastikan komunikasi antarpeternak dan petani tebu tetap terjaga guna menghindari pertikaian fisik dan menemukan titik temu yang saling menguntungkan. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan juga diharapkan dapat berperan aktif dalam menyediakan fasilitas penggembalaan terpadu atau program kandang komunal untuk mengurangi risiko konflik ini. Replikasi Keberhasilan dan Potensi Pengembangan Regional Transformasi ekonomi di Desa Soritatanga ternyata tidak berhenti di satu titik, melainkan menular ke desa-desa tetangga di Kecamatan Pekat. Keberhasilan yang nyata dan testimoni dari para petani menjadi daya tarik yang kuat bagi komunitas lain untuk mengikuti jejak serupa. Data terbaru menunjukkan lonjakan luas lahan tebu yang sangat signifikan di beberapa desa sekitarnya: Desa Sorinomo: 1.700 Hektare Desa Beringin Jaya: 1.200 Hektare Desa Pekat: 700 Hektare Desa Nangakara: 500 Hektare Desa Karombo: 500 Hektare Desa Kadindi: 450 Hektare Total luas lahan tebu di Kecamatan Pekat kini telah mencapai ribuan hektare, menunjukkan skala perubahan yang masif dan terstruktur. Lonjakan ini tidak hanya mencerminkan adopsi komoditas tebu yang cepat, tetapi juga potensi Dompu sebagai salah satu sentra produksi gula nasional. Produktivitas tebu di wilayah ini dilaporkan meningkat hingga dua kali lipat dibanding komoditas sebelumnya, didukung oleh praktik pertanian yang lebih baik dan iklim yang mendukung. Dukungan insentif dari pabrik gula, seperti pembelian hasil panen dengan harga kompetitif dan program-program pemberdayaan, semakin memperkuat posisi tebu sebagai tulang punggung baru perekonomian masyarakat Dompu. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dompu, Bapak Ir. Ahmad Yani, M.Si., dalam pernyataannya mengapresiasi inisiatif Desa Soritatanga. "Kami sangat mendukung diversifikasi pertanian ke komoditas tebu, terutama dengan model kemitraan yang memberdayakan petani. Ini sejalan dengan program pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional, khususnya gula," ujarnya, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung keberlanjutan program ini melalui kebijakan yang berpihak kepada petani dan investasi infrastruktur pertanian. Visi Jangka Panjang: Tebu sebagai Jembatan Masa Depan Bagi Merafudin, tebu bukan sekadar komoditas pertanian atau sumber penghasilan. Ia melihat tebu sebagai "kendaraan" untuk masa depan anak-anak desa. Ia memiliki mimpi besar: dari hasil manisnya tebu, lahir generasi baru dari Soritatanga yang bisa mengenyam pendidikan tinggi, hingga mampu menjadi anggota TNI atau Polri, mewujudkan cita-cita yang sebelumnya sulit terjangkau. "Perusahaan membawa misi kesejahteraan, dan tugas kita adalah menjaganya bersama. Jika tidak ada hasil, tidak mungkin petani berbondong-bondong beralih ke tebu," pungkas Merafudin, dengan keyakinan yang kuat pada potensi tebu untuk mengangkat harkat dan martabat warganya. Visi ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang siklus kemiskinan dan bagaimana pendidikan dapat memutusnya. Dengan pendapatan yang stabil dan meningkat, keluarga petani kini memiliki kemampuan finansial untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi, membuka pintu kesempatan yang lebih luas bagi generasi penerus. Ini adalah investasi jangka panjang yang diharapkan akan membawa perubahan struktural pada kualitas sumber daya manusia di Dompu. Di bawah kaki Gunung Tambora yang megah, wajah Desa Soritatanga kini telah berubah. Tebu bukan lagi sekadar tanaman industri, melainkan simbol kedaulatan ekonomi, ketahanan, dan harapan baru yang tumbuh subur, membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang kuat, inovasi, dan kerja keras, masyarakat dapat bangkit dari keterpurukan menuju kemakmuran yang berkelanjutan. Model Soritatanga menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam sektor pertanian. Post navigation PT Sumbawa Timur Mining Memimpin Transformasi Sanitasi, Lebih dari 600 Jamban Keluarga Telah Mengubah Hidup Ribuan Warga di Dompu Penanganan Multidimensi Kasus Pencabulan Anak di Dompu: Rangkaian Peristiwa dari Dugaan Pelecehan, Amuk Massa, hingga Penegakan Hukum Berkeadilan