DOMPU – Hamparan perkebunan tebu di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kini bukan sekadar pemandangan hijau yang membentang di kaki Gunung Tambora. Lebih dari itu, komoditas ini telah menjadi denyut nadi perekonomian baru yang secara revolusioner mengubah nasib ribuan keluarga, mengangkat mereka dari keterpurukan dan membuka gerbang kesejahteraan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Tebu telah menjadi simbol ketahanan ekonomi, memberangkatkan warga ke Tanah Suci, hingga mengantarkan putra-putri daerah ke kursi legislatif. Namun, di balik kisah sukses ini, tantangan serius terkait infrastruktur dan dukungan kebijakan pemerintah masih membayangi, mengancam keberlanjutan potensi Dompu sebagai lumbung gula nasional. Dari Keterpurukan Jambu Mete Menuju Manisnya Tebu Kisah transformasi Beringin Jaya dimulai dari keterpurukan. Sebelum era tebu, masyarakat di Desa Beringin Jaya sangat bergantung pada komoditas jambu mete. Selama bertahun-tahun, jambu mete menjadi tulang punggung ekonomi lokal, menopang kehidupan dan harapan. Namun, sekitar satu dekade yang lalu, serangan hama yang masif dan berkepanjangan secara drastis merusak sebagian besar perkebunan jambu mete. Produksi anjlok, kualitas menurun, dan harga pasar pun terjun bebas. Situasi ini menciptakan krisis ekonomi yang mendalam di desa tersebut, memaksa warga untuk mencari alternatif mata pencaharian demi menyambung hidup. Banyak petani kehilangan sumber pendapatan utama mereka, dan prospek masa depan tampak suram. Dalam kondisi sulit inilah, tebu hadir sebagai penyelamat. Pengenalan budidaya tebu di Beringin Jaya bukanlah proses instan, melainkan melalui serangkaian uji coba dan adaptasi. Pemerintah daerah dan pihak swasta, dalam hal ini perusahaan gula yang beroperasi di wilayah tersebut, melihat potensi lahan dan iklim Dompu yang cocok untuk tanaman tebu. Melalui program kemitraan dan pendampingan, petani-petani di Beringin Jaya mulai beralih menanam tebu. Awalnya, ada keraguan dan kehati-hatian, mengingat trauma kegagalan jambu mete. Namun, seiring waktu, hasil yang menjanjikan mulai terlihat. Kepala Desa Beringin Jaya, Firman, mengungkapkan bahwa budidaya tebu sangat diminati karena karakteristik perawatannya yang relatif mudah dibandingkan komoditas lain, namun mampu menghasilkan keuntungan finansial yang signifikan dan stabil. "Kami melihat sendiri bagaimana tebu ini bisa mengubah hidup. Perawatannya tidak terlalu rumit, dan hasilnya jauh lebih pasti," ujar Firman, merefleksikan perubahan drastis di desanya. Dampak Ekonomi dan Sosial yang Menggembirakan Keberhasilan tebu di Beringin Jaya tidak hanya sebatas angka-angka produksi, tetapi juga terwujud dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Petani tebu di Beringin Jaya kini dapat meraup pendapatan bersih yang mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare dalam satu musim tanam. Angka ini merupakan lompatan besar dibandingkan pendapatan dari jambu mete yang terpuruk. Stabilitas ekonomi warga semakin terjamin berkat sistem pembayaran hasil panen yang transparan dan langsung ke rekening masing-masing petani (by name, by account). Sistem ini meminimalisir praktik percaloan, mengurangi potensi penyalahgunaan dana, dan melindungi petani dari jeratan utang rentenir yang seringkali menghimpit. Dengan kepastian pendapatan dan transparansi pembayaran, petani dapat merencanakan keuangan mereka dengan lebih baik, berinvestasi untuk masa depan, dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga tanpa rasa khawatir berlebihan. Dampak positif ini terwujud dalam berbagai aspek kehidupan sosial. "Setiap tahun, belasan hingga puluhan warga bisa menunaikan ibadah umrah. Ini adalah impian banyak orang yang kini bisa terwujud berkat hasil tebu," kata Firman dengan bangga. Selain ibadah, pendidikan anak-anak pun mengalami peningkatan signifikan. Banyak anak muda dari Beringin Jaya yang kini mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi, sebuah pencapaian yang sebelumnya sulit dijangkau. Peningkatan akses pendidikan ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa tersebut, membuka peluang karier yang lebih luas, dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Sektor sosial juga merasakan dampak positif yang besar. Budidaya tebu yang bersifat padat karya menyerap banyak tenaga kerja muda, baik sebagai pekerja harian di ladang maupun dalam proses panen dan pengangkutan. Hal ini secara signifikan menurunkan angka pengangguran di desa. Dengan adanya pekerjaan dan pendapatan yang layak, angka kriminalitas pun menunjukkan tren penurunan yang positif. Masyarakat menjadi lebih produktif, memiliki harapan, dan fokus pada pembangunan desa. Keberadaan tebu telah menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih stabil dan komunitas yang lebih harmonis. Tantangan Infrastruktur dan Kritik Terhadap Dukungan Pemerintah Meskipun "manisnya" pendapatan telah dirasakan, Firman tidak menampik bahwa petani tebu di Beringin Jaya masih "mencecap rasa getir" akibat minimnya dukungan infrastruktur dan perhatian serius dari pemerintah. Salah satu kendala utama adalah kondisi akses jalan usaha tani yang buruk. Jalan-jalan yang berlumpur saat musim hujan dan berdebu serta berlubang saat kemarau sering kali menghambat distribusi hasil panen. Truk pengangkut tebu kesulitan menjangkau ladang, menyebabkan biaya operasional meningkat, waktu pengiriman molor, dan bahkan berpotensi merusak hasil panen. Kondisi ini secara langsung mengurangi efisiensi dan profitabilitas petani. Lebih lanjut, Firman melontarkan kritik keras terhadap distribusi bantuan bibit dan pupuk yang dinilai sering tidak tepat sasaran. "Bantuan seringkali hanya menjadi formalitas dokumentasi tanpa realisasi nyata di lapangan. Bibit yang datang kualitasnya rendah, atau pupuk yang dijanjikan tidak pernah sampai," tegas Firman. Ketiadaan bibit unggul dan pasokan pupuk yang memadai pada waktu yang tepat dapat sangat mempengaruhi produktivitas tanaman tebu. Petani terpaksa membeli bibit dan pupuk dari pasar dengan harga yang lebih tinggi, menambah beban biaya produksi. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan di tingkat pusat atau daerah dengan implementasi di lapangan yang sangat mempengaruhi nasib petani kecil. Visi Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional dan Hambatan Industri Persoalan di tingkat desa ini berkelindan erat dengan tantangan yang lebih besar di tingkat kecamatan dan nasional. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, menyoroti pentingnya peran Dompu dalam upaya pencapaian swasembada gula nasional. Untuk mendukung Dompu sebagai kawasan tebu nasional yang signifikan, Mukhtar menyebutkan bahwa diperlukan perluasan lahan kemitraan secara drastis. Dari posisi saat ini yang baru mencapai sekitar 3.200 hektare, Dompu idealnya harus memperluas lahan tebu hingga 10.000 hingga 11.000 hektare. Target ambisius ini membutuhkan investasi besar, perencanaan yang matang, dan dukungan dari berbagai pihak. Mukhtar menjelaskan bahwa tantangan utama ke depan dalam mencapai target tersebut adalah keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan), khususnya traktor pembajak. Mekanisasi pertanian sangat krusial untuk meningkatkan efisiensi pengolahan lahan, mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual yang semakin mahal, dan mempercepat siklus tanam. Tanpa alsintan yang memadai, perluasan lahan akan terhambat, dan produktivitas per hektare tidak akan optimal. Selain alsintan, ketersediaan bibit unggul juga menjadi isu krusial. Bibit berkualitas tinggi adalah fondasi utama untuk mencapai hasil panen yang melimpah dan tahan terhadap penyakit. Kekurangan pasokan bibit yang terstandar dan bersertifikat memaksa petani menggunakan bibit seadanya, yang berisiko menurunkan produktivitas dan meningkatkan kerentanan tanaman. Tantangan lainnya adalah sulitnya akses kredit perbankan bagi petani pemula. Bank seringkali mensyaratkan agunan yang tinggi atau riwayat kredit yang panjang, hal ini menjadi tembok penghalang bagi petani kecil yang baru memulai usaha atau tidak memiliki aset memadai. Akses permodalan yang terbatas menghambat petani untuk berinvestasi dalam alsintan, bibit, pupuk, atau bahkan untuk menutupi biaya operasional selama masa tanam hingga panen. Skema pembiayaan yang lebih inklusif dan berpihak pada petani kecil sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan sektor ini. Pentingnya Sinergi dan Kebijakan Berpihak Petani Mukhtar menekankan perlunya sinergi yang jujur dan berkelanjutan antara pemerintah, perusahaan mitra, dan masyarakat desa. "Tanpa sinergi yang jujur, potensi besar ini hanya akan layu di tengah jalan," ujarnya. Sinergi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan tata ruang, penyediaan infrastruktur, pendampingan teknis, fasilitasi permodalan, hingga jaminan harga beli yang adil dari perusahaan. Pemerintah daerah dan pusat memiliki peran krusial dalam menyediakan regulasi yang mendukung, mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur jalan usaha tani, dan memastikan distribusi bantuan bibit serta pupuk berjalan efektif dan tepat sasaran. Perusahaan mitra, di sisi lain, diharapkan tidak hanya menjadi pembeli hasil panen, tetapi juga mitra sejati dalam pengembangan petani, menyediakan pendampingan teknis, akses ke alsintan, dan skema kemitraan yang transparan dan saling menguntungkan. Sementara itu, masyarakat desa, khususnya petani, perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bertani, serta aktif berpartisipasi dalam program-program yang ada. Implikasi yang Lebih Luas: Ketahanan Pangan Nasional dan Pembangunan Daerah Keberhasilan Desa Beringin Jaya adalah bukti nyata bahwa kekuatan lokal, didukung oleh semangat kemandirian dan adaptasi, mampu membawa perubahan besar. Transformasi ekonomi di Beringin Jaya bukan hanya kisah sukses lokal, melainkan juga sebuah studi kasus penting bagi upaya peningkatan ketahanan pangan nasional, khususnya dalam swasembada gula. Indonesia, sebagai salah satu negara konsumen gula terbesar di dunia, masih menghadapi tantangan dalam mencapai swasembada. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kebutuhan gula nasional terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan industri makanan-minuman. Dengan potensi lahan yang luas dan iklim yang mendukung, Dompu, bersama daerah-daerah lain, memiliki peran strategis untuk mengisi defisit produksi gula nasional. Namun, keberlanjutan status Dompu sebagai lumbung gula nasional sangat bergantung pada kehadiran nyata negara. Investasi dalam infrastruktur yang memadai, mulai dari jalan, irigasi, hingga fasilitas pascapanen, adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Kebijakan yang berpihak pada petani, seperti subsidi pupuk yang tepat waktu, penyediaan bibit unggul bersubsidi, dan akses permodalan yang mudah, akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan sektor ini. Selain itu, perluasan areal tanam juga harus diimbangi dengan praktik pertanian berkelanjutan. Edukasi kepada petani mengenai penggunaan pupuk dan pestisida yang bijak, rotasi tanaman, serta konservasi tanah dan air menjadi penting untuk menjaga kesuburan lahan dan produktivitas jangka panjang. Langkah ke Depan dan Rekomendasi Untuk memastikan "manisnya" tebu terus dirasakan dan tidak berubah menjadi pahit, beberapa langkah strategis perlu segera diimplementasikan: Prioritas Infrastruktur: Pemerintah Kabupaten Dompu dan Pemerintah Provinsi NTB harus menjadikan perbaikan jalan usaha tani sebagai prioritas utama. Anggaran khusus perlu dialokasikan untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur ini, yang secara langsung berdampak pada efisiensi logistik dan pengurangan biaya petani. Reformasi Bantuan Pertanian: Sistem distribusi bibit dan pupuk harus direformasi total. Perlu diterapkan sistem monitoring dan evaluasi yang ketat untuk memastikan bantuan tepat sasaran, tepat waktu, dan berkualitas. Keterlibatan aktif kelompok tani dalam perencanaan dan pengawasan distribusi juga penting. Akses Permodalan Inklusif: Perbankan dan lembaga keuangan perlu menciptakan skema kredit pertanian yang lebih mudah diakses oleh petani kecil dan pemula. Ini bisa berupa kredit tanpa agunan dengan jaminan dari pemerintah daerah atau program subsidi bunga. Mekanisasi Pertanian: Pemerintah perlu memfasilitasi pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) modern, baik melalui program bantuan, subsidi, maupun skema sewa-beli yang terjangkau bagi kelompok tani. Pusat pelatihan penggunaan alsintan juga perlu didirikan. Kemitraan yang Adil: Perusahaan gula harus memperkuat skema kemitraan yang transparan, adil, dan berkelanjutan, termasuk jaminan harga beli yang menguntungkan petani dan pendampingan teknis yang intensif. Peningkatan Kapasitas Petani: Program penyuluhan pertanian harus diperkuat, tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, tetapi juga pada manajemen usaha tani, akses pasar, dan literasi keuangan. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, serta komitmen terhadap kebijakan yang berpihak pada petani, Dompu memiliki potensi besar untuk tidak hanya mencapai target perluasan lahan tebu, tetapi juga menjadi contoh keberhasilan pembangunan ekonomi berbasis pertanian yang inklusif dan berkelanjutan. Kisah Beringin Jaya adalah cerminan harapan, bahwa dengan kerja keras dan dukungan yang tepat, masa depan yang lebih cerah dapat diwujudkan di kaki Tambora. Post navigation Inovasi Ditpolairud Polda NTB: Kapal Patroli Disulap Menjadi Perpustakaan Terapung, Tingkatkan Literasi dan Kesadaran Maritim di Dompu Revolusi Manis di Kaki Tambora: Desa Soritatanga Dompu Bangkit dari Krisis Jagung Menuju Kemakmuran Tebu