DOMPU – Sebuah inisiatif revolusioner telah mengubah wajah pendidikan dan kesadaran lingkungan di wilayah pesisir Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada Jumat, 7 November 2025, Pelabuhan Calabai, Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Dompu, menjadi saksi bisu transformasi luar biasa. Kapal Polisi XXI-2014 milik Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda NTB, yang lazimnya berpatroli menjaga keamanan laut, disulap menjadi sebuah "perpustakaan terapung" yang memukau. Kegiatan ini menyambut antusiasme puluhan siswa-siswi dari SMPN 01 Pekat, membawa mereka dalam sebuah petualangan ilmu pengetahuan yang tak terlupakan di tengah birunya laut.

Inisiatif ini bukan sekadar kegiatan membaca buku di atas kapal, melainkan sebuah program edukasi komprehensif yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap laut dan lingkungan maritim. Di bawah dukungan penuh dari Direktur Polairud Polda NTB, Kombes Pol Boyke FS Samola, S.I.K., M.H., program ini diharapkan menjadi wahana efektif untuk membentuk karakter peduli lingkungan dan maritim sejak dini. Kombes Boyke menegaskan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bagian integral dari upaya Polri untuk mendekatkan diri dengan masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus mengedukasi mereka tentang pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem laut yang merupakan aset bangsa. "Melalui perpustakaan terapung ini, kami ingin menunjukkan bahwa peran Polairud tidak hanya terbatas pada penegakan hukum di laut, tetapi juga mencakup edukasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam menumbuhkan kesadaran maritim," ujar Kombes Boyke dalam sebuah pernyataan tertulisnya.

Kronologi dan Ragam Aktivitas Edukatif di Lautan

Pagi itu, sejak pukul 08.00 WITA, Pelabuhan Calabai telah ramai dengan kehadiran siswa-siswi SMPN 01 Pekat yang mengenakan seragam sekolah dengan semangat membara. Mereka didampingi oleh beberapa guru dan Kepala Sekolah. Setelah mendapatkan pengarahan singkat di darat, para siswa diarahkan untuk naik ke atas Kapal Polisi XXI-2014. Suasana kapal yang biasanya identik dengan ketegasan dan kewaspadaan, pada hari itu berubah menjadi lebih hangat dan edukatif. Sudut-sudut kapal dihiasi dengan rak-rak buku sederhana yang berisi beragam bacaan, mulai dari buku cerita anak, ensiklopedia maritim, hingga buku-buku tentang lingkungan dan kebudayaan pesisir.

Kegiatan dibuka dengan sambutan singkat dari Komandan Kapal Polisi XXI-2014, Aipda Metusalak Dollu, SE., yang akrab disapa Capt Metus. Dalam sambutannya, Capt Metus menekankan pentingnya pengetahuan sebagai sumber kekuatan dan modal utama untuk memahami dunia serta menjaga kelestarian alam. Setelah itu, para siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk mengikuti serangkaian diskusi interaktif. Personel Polairud yang bertindak sebagai fasilitator, dengan sabar menjelaskan berbagai aspek terkait dunia maritim.

Salah satu sesi diskusi yang paling menarik adalah penjelasan mengenai seluk-beluk tugas polisi perairan. Para siswa mendapatkan gambaran langsung tentang bagaimana Polairud beroperasi menjaga keamanan, menangani kasus-kasus ilegal di laut, hingga melakukan operasi SAR (Search and Rescue). Mereka diperkenalkan dengan berbagai alat keselamatan dan navigasi kapal, seperti pelampung, GPS (Global Positioning System), radio komunikasi, dan kompas. Beberapa siswa bahkan diberi kesempatan untuk mencoba menggunakan teropong dan melihat langsung peta navigasi, yang semakin membangkitkan rasa ingin tahu mereka.

Selain itu, sesi edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pantai dan laut menjadi fokus utama. Dengan menggunakan ilustrasi dan contoh nyata, personel Polairud menjelaskan dampak buruk sampah plastik terhadap ekosistem laut, mulai dari kerusakan terumbu karang hingga ancaman bagi biota laut. Para siswa diajak berdiskusi tentang cara-cara sederhana yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi sampah dan turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan pesisir di sekitar tempat tinggal mereka. "Kami berharap, dengan melihat langsung kondisi laut dan mendapatkan penjelasan dari kami, anak-anak akan lebih tergerak untuk menjadi pelopor kebersihan lingkungan di komunitas mereka masing-masing," tambah Capt Metus.

Kehadiran Perpustakaan Terapung Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu Memukau Siswa SMPN 01 Pekat

Kegiatan diakhiri dengan sesi membaca bebas, di mana para siswa dapat memilih buku-buku yang tersedia dan membaca di berbagai sudut kapal. Beberapa siswa terlihat serius membaca, sementara yang lain berdiskusi dengan teman-temannya tentang apa yang baru mereka pelajari. Sebelum kembali ke darat, mereka juga diajak untuk berfoto bersama dengan personel Polairud, mengabadikan momen berharga ini.

Data Pendukung dan Konteks Latar Belakang

Inisiatif perpustakaan terapung ini tidak muncul begitu saja, melainkan didasari oleh beberapa fakta dan tantangan yang relevan, terutama di wilayah kepulauan seperti NTB. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, menghadapi tantangan besar dalam pemerataan akses pendidikan dan literasi, khususnya di daerah-daerah terpencil dan pesisir. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, meskipun angka literasi dasar secara nasional cukup tinggi, tantangan tetap ada dalam meningkatkan minat baca dan ketersediaan bahan bacaan berkualitas di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.

Kabupaten Dompu, yang terletak di Pulau Sumbawa, NTB, memiliki garis pantai yang panjang dan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor kelautan dan perikanan. Namun, akses terhadap fasilitas pendidikan yang memadai, termasuk perpustakaan, seringkali masih terbatas di desa-desa pesisir. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengetahuan tentang pentingnya menjaga kelestarian laut, yang seringkali berujung pada praktik-praktik yang merusak lingkungan, seperti pembuangan sampah sembarangan atau penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Peran Ditpolairud Polda NTB sendiri sangat vital dalam menjaga keamanan perairan NTB yang luas, yang mencakup jalur pelayaran strategis dan sumber daya kelautan yang melimpah. Selain tugas penegakan hukum terhadap tindak pidana di laut seperti illegal fishing, penyelundupan, atau perompakan, Ditpolairud juga memiliki mandat untuk melakukan pembinaan masyarakat pesisir (Binmasair) dan pelestarian lingkungan. Program perpustakaan terapung ini adalah perwujudan nyata dari fungsi Binmasair, yang bertujuan membangun hubungan positif antara polisi dan masyarakat, serta meningkatkan kesadaran kolektif terhadap isu-isu krusial.

Secara nasional, Indonesia juga tengah gencar menggalakkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat. Inisiatif Ditpolairud ini sejalan dengan semangat GLN, menawarkan metode yang inovatif dan interaktif untuk menarik minat baca anak-anak, terutama mereka yang mungkin belum pernah merasakan pengalaman belajar di luar kelas tradisional. Selain itu, sebagai negara maritim, penguatan kesadaran akan potensi dan tantangan kelautan menjadi sangat penting dalam mendukung visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Tanggapan Resmi dan Reaksi Positif

Kepala Sekolah SMPN 01 Pekat, Ibu Zupari, S.Pd, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Polri, khususnya Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu, atas inisiatif luar biasa ini. "Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada siswa-siswi kami. Ini adalah pengalaman belajar yang tak terlupakan bagi mereka, membuka cakrawala pengetahuan mereka tentang dunia maritim dan lingkungan yang mungkin tidak bisa mereka dapatkan di ruang kelas," kata Ibu Zupari dengan mata berbinar. Beliau juga menambahkan bahwa kegembiraan dan antusiasme terpancar jelas dari wajah para siswa, yang berulang kali menyatakan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan.

Kehadiran Perpustakaan Terapung Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu Memukau Siswa SMPN 01 Pekat

Dari pihak siswa, reaksi yang muncul sangat positif. Beberapa siswa yang diwawancarai mengungkapkan kegembiraan mereka. "Seru sekali bisa belajar di atas kapal polisi! Biasanya cuma lihat dari jauh, sekarang bisa masuk dan tahu banyak hal baru. Penjelasan tentang sampah di laut juga bikin kami sadar harus lebih menjaga lingkungan," ujar Dinda, salah seorang siswi kelas 8. Siswa lain, Bayu, menambahkan, "Saya jadi ingin jadi polisi laut setelah ini. Bisa menjaga laut dan juga mengajari anak-anak lain." Reaksi-reaksi ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang inovatif dan interaktif ini berhasil menyentuh dan memotivasi para peserta didik.

Masyarakat sekitar Pelabuhan Calabai juga menyambut baik kegiatan ini. Beberapa orang tua siswa dan tokoh masyarakat yang hadir di pelabuhan menyampaikan apresiasi mereka. "Anak-anak kami jadi punya pengalaman baru. Semoga ini bisa terus ada, agar mereka tidak hanya pintar di sekolah tapi juga peduli sama laut kita," kata salah satu orang tua siswa. Inisiatif ini berhasil menciptakan jembatan komunikasi yang kuat antara aparat kepolisian dan masyarakat, membangun citra positif Polri sebagai pelindung dan pengayom, bukan hanya penegak hukum.

Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas

Perpustakaan terapung ini bukan sekadar kegiatan sesaat. Ia adalah investasi masa depan yang memiliki dampak dan implikasi yang luas. Pertama, dalam konteks pendidikan, program ini memberikan alternatif pembelajaran yang inovatif dan experiential, sangat relevan untuk daerah pesisir. Pembelajaran di luar kelas, apalagi di atas kapal patroli, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan membantu mereka memahami konsep-konsep yang abstrak menjadi lebih konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Ini dapat menjadi model bagi pengembangan program pendidikan lainnya di daerah terpencil.

Kedua, dari sisi lingkungan, penanaman kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan laut sejak usia dini adalah kunci. Dengan memahami langsung dampak pencemaran dan pentingnya ekosistem laut, generasi muda diharapkan akan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan proaktif dalam menjaga kelestarian alam. Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 14 tentang Kehidupan Bawah Air.

Ketiga, program ini juga memperkuat konsep community policing atau polisi masyarakat. Dengan terlibat aktif dalam kegiatan edukasi dan sosial, Polairud tidak hanya menjalankan fungsi keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan dan kedekatan dengan masyarakat. Hal ini krusial untuk menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis, di mana masyarakat merasa nyaman untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan aparat keamanan. Citra Polri sebagai institusi yang humanis dan peduli terhadap masa depan bangsa semakin kokoh melalui inisiatif seperti ini.

Keempat, keberlanjutan dan potensi replikasi program ini menjadi sorotan. Dengan kesuksesan di Dompu, inisiatif brilian dari Ditpolairud Polda NTB dan Satpolairud Polres Dompu ini diharapkan dapat menginspirasi banyak pihak untuk melakukan hal serupa. Model perpustakaan terapung dapat diadopsi dan disesuaikan di berbagai wilayah kepulauan lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam akses pendidikan dan kesadaran lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta dapat memperluas jangkauan dan dampak program ini, menciptakan gelombang perubahan positif yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat di seluruh nusantara.

Dengan demikian, Kapal Polisi XXI-2014 tidak hanya berlayar mengamankan perairan, tetapi juga berlayar membawa harapan, pengetahuan, dan kesadaran untuk generasi penerus bangsa, menegaskan bahwa laut adalah masa depan yang harus dijaga bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *