DOMPU – Deretan rumah permanen berdinding kokoh berdiri megah di sepanjang jalan Dusun Aik Ampat, Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Di halaman rumah-rumah tersebut, kendaraan roda empat terparkir rapi, memantulkan sinar matahari pagi di lereng megah Gunung Tambora. Pemandangan makmur ini mungkin sekilas tidak biasa untuk sebuah kawasan pedesaan pertanian yang dulunya didominasi tanaman jagung. Namun, di lereng gunung api bersejarah ini, kemewahan tersebut adalah buah nyata dari manisnya komoditas tebu, yang perlahan namun pasti telah mengubah total wajah sosial-ekonomi masyarakat setempat.

Setiap pagi, jalan-jalan usaha tani di Desa Pekat riuh oleh hilir mudik truk pengangkut yang mengular panjang, membawa hasil panen tebu yang melimpah menuju pabrik pengolahan. Di kejauhan, hamparan tebu hijau tumbuh subur, menutup sebagian besar lanskap tanah Pekat yang kini menjadi tumpuan harapan baru bagi ribuan keluarga. Transformasi ini bukan sekadar cerita tentang pergantian komoditas, melainkan sebuah epik tentang ketahanan, adaptasi, dan keberanian petani dalam meraih kesejahteraan yang lebih baik.

Dari Jagung ke Tebu: Sebuah Revolusi Ekonomi Pedesaan

Sebelum era keemasan tebu, mayoritas warga Desa Pekat sangat bergantung pada budidaya jagung. Jagung telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal selama puluhan tahun, namun seringkali dihadapkan pada tantangan fluktuasi harga pasar yang tidak menentu, biaya produksi yang tinggi, serta kerentanan terhadap perubahan iklim. Petani harus mengeluarkan modal besar untuk pembelian benih baru dan pengolahan tanah setiap musim tanam, sebuah siklus yang membatasi potensi akumulasi modal dan peningkatan kesejahteraan.

Pergeseran drastis menuju budidaya tebu mulai terjadi secara signifikan dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir. Kepala Desa Pekat, Sahlan, mengungkapkan bahwa lonjakan tren ini didorong oleh kalkulasi bisnis yang jauh lebih menjanjikan. "Petani melihat sendiri manfaatnya di lapangan. Tebu cukup sekali tanam, lalu bisa dipanen beberapa kali. Efisiensi inilah yang sebenarnya membuat roda ekonomi masyarakat melesat," kata Sahlan, menggarisbawahi keunggulan utama tebu yang dikenal dengan sistem Ratoon Cane atau keprasan.

Sistem Ratoon Cane memungkinkan tanaman tebu yang sama untuk dipanen berulang kali—umumnya 3 hingga 5 kali—dari satu kali penanaman awal. Ini berarti, setelah panen pertama, tunas baru akan tumbuh dari sisa batang tebu, mengurangi kebutuhan untuk membajak ulang lahan, membeli benih baru, dan menanam kembali. Penghematan biaya operasional ini sangat signifikan, diperkirakan mampu menekan biaya produksi hingga 30-40% dibandingkan jagung. Selain itu, karakteristik tanaman tebu relatif lebih tangguh terhadap fluktuasi cuaca ekstrem dan tidak membutuhkan perawatan se-intensif jagung, seperti pemupukan yang terlalu sering atau pengendalian hama yang rumit, sehingga semakin menekan biaya operasional petani. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Dompu menunjukkan bahwa pendapatan bersih petani tebu per hektar dapat mencapai 2-3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan jagung, tergantung pada kualitas tanah dan harga pasar.

Dusun Aik Ampat: Simbol Kemakmuran Baru

Perubahan paling radikal dan nyata terlihat jelas di Dusun Aik Ampat. Dusun ini menjadi simbol nyata keberhasilan budidaya tebu, di mana sekitar 99 persen kepala keluarga kini menggantungkan hidupnya secara penuh sebagai petani tebu. Jalan-jalan yang dulunya becek dan berdebu, kini terlihat lebih terawat, dan rumah-rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu, telah berganti menjadi bangunan permanen dari batu bata dengan arsitektur modern. Mobil-mobil pribadi, sepeda motor terbaru, dan berbagai perabotan rumah tangga modern bukan lagi barang mewah, melainkan bagian dari keseharian.

Dusun Aik Ampat sendiri menyimpan cerita historis yang kuat. Mayoritas warganya merupakan keturunan perantau asal daerah Aik Ampat di Pulau Lombok yang datang puluhan tahun silam. Mereka adalah generasi pelopor yang dengan gigih berjuang membuka lahan di tengah keterbatasan dan tantangan alam. Memasuki generasi ketiga, keturunan para perantau ini kini sukses memetik hasil kerja keras dan semangat pantang menyerah. Kisah mereka adalah cerminan dari bagaimana inovasi pertanian dapat mengubah nasib sebuah komunitas, dari keterbatasan menuju kemandirian ekonomi.

Infrastruktur Vital dan Kemitraan Strategis

Keberhasilan pertanian tebu di Desa Pekat disokong penuh oleh ketersediaan infrastruktur air yang memadai. Keberadaan DAM Ombo Tonda menjadi urat nadi utama pertanian di Desa Pekat dan sekitarnya. Pasokan air yang stabil sepanjang tahun memungkinkan para petani tetap produktif mengelola lahan tanpa perlu cemas akan ancaman kekeringan, terutama di musim kemarau panjang. Irigasi yang andal ini menjadi faktor krusial dalam menjaga kualitas dan kuantitas panen tebu, serta memungkinkan diversifikasi tanaman lain.

Menengok Kejayaan Tebu di Pekat, Dari Lahan Kering Menuju Jalan Sejahtera Warga Dompu

Selain air, aksesibilitas menjadi kunci. Pada tahun sebelumnya, Pemerintah Desa Pekat berhasil membuka empat ruas jalan usaha tani baru. Jalan-jalan ini sangat vital untuk mempermudah jalur distribusi panen tebu dari lahan pertanian menuju jalan utama dan selanjutnya ke pabrik. Tanpa infrastruktur jalan yang memadai, biaya logistik akan membengkak, dan kualitas tebu dapat menurun akibat penundaan pengangkutan. Namun, pengerjaan fasilitas pendukung krusial seperti gorong-gorong dan jembatan penghubung kecil masih terhambat dana, menghadirkan tantangan besar bagi keberlanjutan infrastruktur ini.

Terkait hal ini, Sahlan berharap ada intervensi dan kepedulian berkelanjutan dari pihak korporasi, khususnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS). PT SMS adalah perusahaan produsen gula yang beroperasi di wilayah tersebut dan menjadi pembeli utama hasil panen tebu dari petani Pekat. Kemitraan bisnis antara petani, perusahaan, pemerintah daerah, dan para wakil rakyat diakui Sahlan telah berjalan dengan sangat harmonis. Kerjasama ini mencakup perjanjian pembelian tebu yang adil, penyediaan bibit unggul, serta pendampingan teknis bagi petani. Dukungan CSR dari PT SMS untuk pembangunan infrastruktur logistik akan menjadi investasi strategis yang tidak hanya menguntungkan petani tetapi juga memastikan kelancaran rantai pasok perusahaan.

Diversifikasi Pangan dan Visi Masa Depan

Meski tebu tengah menjadi primadona, Desa Pekat tidak serta merta meninggalkan komoditas lama. Desa ini nyatanya masih memegang predikat sebagai produsen jagung terbesar di tingkat Kecamatan Pekat. Di samping itu, petani juga mengombinasikan lahan mereka untuk menanam padi, tembakau, sayur-sayuran, hingga tanaman hortikultura. Pendekatan diversifikasi ini menunjukkan kesadaran petani akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dan meminimalkan risiko ketergantungan pada satu komoditas saja.

Pemerintah Desa Pekat kini melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan momentum kesejahteraan ini untuk memperkenalkan program diversifikasi pangan yang lebih ambisius. Warga mulai didorong menanam pohon buah-buahan produktif bernilai jual tinggi seperti durian, manggis, dan rambutan di lahan-lahan mereka. Program ini bukan hanya tentang menambah sumber pendapatan, tetapi juga tentang memperkuat ketahanan pangan lokal dan menciptakan identitas baru bagi Desa Pekat. "Kalau sekarang orang mengenal Pekat karena tebu dan jagungnya, ke depan kami bermimpi dan sedang menyiapkan desa ini agar dikenal juga sebagai daerah penghasil buah-buahan bernilai jual tinggi," tutur Sahlan optimis, memproyeksikan masa depan di mana Pekat menjadi sentra agrowisata dan produsen buah-buahan unggulan.

Efek Domino dan Perluasan Kawasan Tebu

Manisnya keuntungan tebu di Desa Pekat kini mulai memicu efek domino ke wilayah sekitarnya. Sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat kini dilaporkan mulai masif mengadopsi budidaya tebu sebagai alternatif komoditas unggulan baru. Ini adalah bukti nyata bahwa keberhasilan Desa Pekat telah menjadi model dan inspirasi bagi komunitas pertanian lainnya. Beberapa desa yang kini ikut tumbuh menjadi basis hijau perkebunan tebu di antaranya Desa Nangamiro, Desa Calabai, Desa Sorinomo, Desa Doropeti, Desa Kadindi Barat & Kadindi Timur, serta Desa Beringin Jaya.

Fenomena ini didukung dengan karakteristik ketersediaan lahan luas di Pulau Sumbawa serta pengembangan jaringan irigasi yang terus diperluas oleh pemerintah daerah. Dengan dukungan ini, Kecamatan Pekat kini resmi bertransformasi menjadi salah satu episentrum pertumbuhan industri tebu paling progresif di Kabupaten Dompu. Pertumbuhan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor terkait seperti transportasi, perdagangan, dan jasa.

Tantangan dan Keberlanjutan Ekonomi Hijau

Meskipun prospeknya cerah, perjalanan menuju keberlanjutan penuh masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain pemeliharaan jalan logistik yang membutuhkan suntikan dana, fluktuasi harga gula global juga dapat memengaruhi stabilitas pendapatan petani. Oleh karena itu, diversifikasi tanaman pangan dan pengembangan produk turunan dari tebu (seperti bioetanol atau produk makanan olahan) bisa menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Pemerintah daerah perlu terus mendukung petani melalui kebijakan yang pro-petani, seperti subsidi pupuk, pelatihan teknis, dan akses permodalan yang mudah. Peran aktif akademisi dan lembaga penelitian juga penting untuk mengembangkan varietas tebu yang lebih unggul, tahan hama, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Keberhasilan Desa Pekat ini mempertegas satu teori ekonomi pedesaan yang fundamental: ketika sektor pertanian hulu digarap dengan tepat, inovasi diterapkan, dan kemitraan strategis dibangun, maka kesejahteraan masyarakat di hilir akan tumbuh bersamanya. Kisah Desa Pekat bukan hanya tentang tebu, tetapi tentang semangat juang masyarakat, visi kepemimpinan lokal, dan potensi besar pertanian Indonesia untuk menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. (rl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *