Desa Nangamiro, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini tengah menjadi saksi bisu sebuah transformasi agraria yang signifikan. Hamparan lahan pertanian yang selama puluhan tahun didominasi oleh tanaman jambu mete, jagung, dan pisang, perlahan mulai menunjukkan wajah baru dengan kehadiran barisan tebu yang tumbuh berdampingan sebagai komoditas pilihan warga. Perubahan lanskap pertanian ini menandai sebuah era baru dalam upaya diversifikasi ekonomi lokal, yang diharapkan mampu mengangkat taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan. Jejak Sejarah dan Diversifikasi Pertanian Nangamiro Sejarah panjang Desa Nangamiro tak bisa dilepaskan dari sektor pertanian. Lebih dari 90 persen masyarakat desa menggantungkan hidupnya dari aktivitas bercocok tanam, menjadikan pertanian sebagai urat nadi perekonomian utama. Komoditas seperti jambu mete dan jagung telah lama menjadi penopang utama penghidupan keluarga, dengan pola tanam dan sistem distribusi yang telah mendarah daging dalam kultur petani setempat. Namun, ketergantungan pada komoditas tunggal seringkali membawa risiko fluktuasi harga dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Merespons kebutuhan akan stabilitas ekonomi dan peluang pasar yang lebih luas, pemerintah desa di bawah kepemimpinan Kepala Desa Saidin A Wahab mulai mendorong pengembangan komoditas alternatif. Proses diversifikasi ini bukanlah sebuah lompatan instan, melainkan sebuah strategi bertahap yang disesuaikan dengan kondisi riil lahan dan kapasitas masyarakat. Para petani tidak serta-merta meninggalkan komoditas lama mereka, melainkan secara perlahan mengalihkan sebagian lahan yang sebelumnya ditanami jambu mete untuk budidaya tebu dan juga kakao (cokelat). Pendekatan yang hati-hati ini penting untuk meminimalkan risiko dan memastikan adaptasi yang mulus bagi para petani. Ekspansi Tebu: Angka dan Prospek Pertumbuhan Pengembangan tebu di Desa Nangamiro telah menunjukkan progres yang menjanjikan. Meskipun belum seluruh petani secara merata membudidayakannya, kehadiran tebu kini telah tersebar di delapan dusun. Saidin A Wahab menjelaskan bahwa lambatnya ekspansi tebu disebabkan oleh status lahan yang dimanfaatkan. Pengembangan tebu tidak dilakukan di lahan kosong yang tidak produktif, melainkan melalui pengalihan lahan-lahan yang sebelumnya ditanami jambu mete. Proses transformasi ini, yang melibatkan pembongkaran tanaman lama dan penanaman baru, memang membutuhkan waktu, modal, dan kesabaran ekstra dari para petani. Kendati demikian, hasil nyata dari langkah bertahap ini mulai terlihat. Pada musim panen tebu tahun 2026 ini, total luas areal tanaman tebu di Desa Nangamiro diperkirakan telah mencapai sekitar 24 hektare. Angka ini mungkin tergolong masih terbatas jika dibandingkan dengan total lahan pertanian di Dompu, namun tren peningkatannya sangat konsisten setiap tahun. Lebih lanjut, sebagai persiapan menyambut musim tanam berikutnya, masyarakat Nangamiro telah menyiapkan sekitar 10 hektare lahan baru yang diproyeksikan khusus untuk penanaman tebu. Gerakan ekstensifikasi ini menjadi bukti nyata bahwa minat dan antusiasme petani terhadap komoditas tebu terus tumbuh secara berkelanjutan, didorong oleh harapan akan pendapatan yang lebih stabil dan menguntungkan. Dampak Sosial Ekonomi: Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Diversifikasi pertanian dan perkembangan sektor tebu ini mulai memberikan dampak positif yang nyata pada tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Nangamiro. Salah satu indikator paling mencolok adalah peningkatan kemampuan finansial setiap keluarga dalam membiayai pendidikan anak-anak mereka. Saidin A Wahab menuturkan, pada masa lalu, ketika warga hanya bergantung sepenuhnya pada panen jambu mete skala kecil, sangat sulit bagi orang tua untuk menguliahkan anak-anak mereka. Situasi ekonomi yang serba pas-pasan seringkali memaksa generasi muda untuk segera bekerja setelah lulus sekolah menengah. Namun, berkat peningkatan pendapatan dari diversifikasi pertanian, kini angka partisipasi generasi muda Nangamiro yang menembus jenjang perguruan tinggi mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ini merupakan investasi jangka panjang yang krusial bagi masa depan desa. Selain pendidikan, perbaikan taraf hidup warga juga terpotret jelas dari tingkat kepemilikan aset berupa hewan ternak. Dari total sekitar 669 kepala keluarga (KK) yang mendiami Desa Nangamiro, kini rata-rata setiap KK tercatat memiliki lebih dari satu ekor ternak. Peningkatan kepemilikan ternak ini tidak hanya menjadi simbol status ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai tabungan hidup atau cadangan modal yang dapat dicairkan saat dibutuhkan. Data ini secara gamblang menunjukkan bahwa diversifikasi ekonomi telah berhasil menciptakan fondasi yang lebih kuat bagi ketahanan ekonomi rumah tangga di desa tersebut. Sinergi Kemitraan: Peran Pemerintah Desa dan Industri Keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan tebu di Desa Nangamiro tidak terlepas dari terjalinnya sinergi dan komunikasi yang harmonis antara pemerintah desa dengan pihak perusahaan pengolahan tebu setempat, yakni PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS). Kemitraan ini mencakup berbagai tahapan strategis, mulai dari pendataan awal calon lahan potensial, penyiapan sarana akses menuju kawasan pertanian, hingga skema pengaturan tenaga kerja lokal. Pemerintah Desa Nangamiro secara aktif berupaya memastikan agar warga desa tidak sekadar menjadi penonton, melainkan terlibat langsung dalam proses pemanenan dan pengangkutan tebu. Hal ini penting untuk menciptakan efek berganda ekonomi di tingkat lokal, di mana pendapatan tidak hanya berasal dari hasil panen, tetapi juga dari upah tenaga kerja. Saidin A Wahab mengonfirmasi bahwa kemitraan dengan pihak perusahaan sejauh ini berjalan sangat baik dan sukses, sehingga menjadi pondasi utama keberlanjutan proyek pengembangan tebu. Model kemitraan semacam ini, di mana perusahaan menyediakan pasar yang pasti dan dukungan teknis, sementara desa mengorganisir petani dan memastikan ketersediaan lahan serta tenaga kerja, merupakan kunci sukses bagi pengembangan komoditas perkebunan berskala industri. Tantangan Klasik: Aksesibilitas dan Krisis Air Meski demikian, jalan menuju kesejahteraan penuh masih diwarnai tantangan fisik, utamanya terkait aksesibilitas dan infrastruktur jalan. Jalan yang memadai menjadi kebutuhan vital untuk mendukung mobilitas harian para petani serta kelancaran pengangkutan hasil panen tebu menuju pabrik. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pemerintah desa sebenarnya telah bekerja keras membuka sejumlah jalan akses baru menuju kawasan-kawasan pertanian. Namun, sebagian dari ruas jalan tersebut saat ini membutuhkan peningkatan kualitas perkerasan yang lebih permanen agar tidak cepat rusak dan menyulitkan aktivitas pengangkutan hasil bumi, terutama saat musim hujan. Di samping masalah jalan, tantangan terbesar dan paling krusial yang masih membayangi potensi pertanian di Nangamiro adalah masalah ketersediaan air. Desa Nangamiro sebenarnya dianugerahi dua titik sumber mata air. Sayangnya, keberadaan mata air tersebut belum dapat dimanfaatkan dan dikelola secara maksimal untuk menyokong kebutuhan irigasi pertanian dalam skala luas. Alhasil, pola tanam dan aktivitas pertanian warga hingga hari ini masih sangat bergantung pada curah hujan (tadah hujan). Pemanfaatan sumur bor pun dinilai belum memadai; Saidin menyebutkan bahwa sumur bor yang ada saat ini baru sebatas cukup untuk kebutuhan konsumsi harian warga, namun jauh dari kata ideal jika digunakan untuk kebutuhan penyiraman pertanian dalam skala luas. Saidin A Wahab meyakini penuh bahwa apabila krisis dan pengelolaan sumber air ini dapat teratasi, potensi ekonomi Desa Nangamiro akan melonjak drastis. Ketersediaan air tidak hanya akan menggenjot produksi tebu, tetapi juga menggerakkan sektor hortikultura, peternakan, hingga perikanan darat. Langkah diplomasi dan komunikasi terkait pemanfaatan sumber air sebenarnya telah dilayangkan pihak desa kepada pemerintah daerah serta DPRD setempat. Namun, realisasi proyek air bersih untuk irigasi tersebut hingga kini masih terkendala, salah satunya akibat keterbatasan alokasi anggaran daerah. Bagi Saidin dan warganya, air adalah kunci utama untuk membuka keran kesejahteraan desa secara utuh. Ini merupakan masalah klasik di banyak daerah pertanian di Indonesia, di mana potensi lahan subur seringkali tidak dapat dimaksimalkan karena ketiadaan infrastruktur irigasi yang memadai. Perspektif Akademis: Faktor Penentu Keberhasilan Tebu Melihat fenomena dinamika ekonomi di kawasan tersebut, Associate Professor Dosen Pascasarjana Universitas Mataram yang juga pakar Pembangunan Ekonomi Wilayah, Dr. H. Iwan Harsono, memberikan analisis akademisnya. Menurut Iwan, sukses tidaknya pengembangan komoditas tebu di Kabupaten Dompu sangat dipengaruhi oleh empat faktor utama: akses pasar, biaya transportasi, ketersediaan tenaga kerja, dan kondisi topografi wilayah. Dari keempat variabel tersebut, Iwan menggarisbawahi bahwa akses pasar dan biaya transportasi merupakan dua variabel yang paling menentukan. Sementara itu, ketersediaan tenaga kerja dan topografi berfungsi sebagai faktor penunjang yang dapat memperkuat atau justru memperlemah daya saing tebu jika dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya. Status Kabupaten Dompu yang telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan tebu nasional secara teoritis memang memberikan keuntungan tersendiri, sebab membuka peluang pasar yang relatif pasti dengan adanya orientasi industri gula. Adanya pabrik pengolahan gula di dekat lokasi pertanian seperti PT SMS, secara signifikan mengurangi risiko ketidakpastian pasar bagi petani. Akan tetapi, kepastian pasar tersebut dalam praktiknya tetap sangat bergantung pada efektivitas rantai pasok (supply chain), termasuk seberapa dekat lokasi lahan dengan pabrik pengolahan gula serta tingkat efisiensi logistiknya. Tingginya biaya transportasi di wilayah Pulau Sumbawa menjadi perhatian khusus. Menurut Iwan, ongkos logistik yang mahal berpotensi menggerus margin keuntungan yang diterima petani apabila produktivitas lahan tebu mereka tidak dikelola secara optimal. Biaya transportasi yang tinggi dapat mengurangi daya saing tebu dibandingkan dengan komoditas lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi per unit berat atau yang lebih mudah diangkut. Secara kaidah ekonomi, tanaman tebu hanya sangat layak untuk dikembangkan pada lahan-lahan yang benar-benar sesuai dan dikelola dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Karakteristik ini membuat tebu cukup berbeda dengan tanaman jagung, di mana jagung jauh lebih fleksibel dari segi waktu panen maupun sistem distribusinya, serta sudah sangat dikuasai oleh kultur petani setempat. Fleksibilitas jagung ini membuatnya menjadi pilihan yang lebih aman bagi banyak petani kecil. Oleh sebab itu, Iwan mengingatkan bahwa perencanaan pengembangan tebu tidak boleh semata-mata mengandalkan kalkulasi data makro di atas kertas. Pengetahuan lokal (local knowledge) dari kepala desa dan warga setempat sangat vital karena merekalah yang paling memahami realitas di lapangan, mulai dari karakteristik dan status kepemilikan tanah, peta ketersediaan tenaga kerja, kondisi jenis tanah, hingga titik-titik akses air. Penggabungan antara data teknis dan pengetahuan lokal inilah yang menjadi juru kunci dalam menentukan kelayakan pengembangan tebu di level desa dan memastikan keberlanjutannya. Jalan Menuju Masa Depan: Harapan dan Rekomendasi Saat ini, perjalanan pengembangan tebu di Desa Nangamiro memang masih berada pada fase-fase awal. Kendati demikian, tren penambahan alokasi lahan yang konsisten saban tahun membuktikan bahwa komoditas tebu memiliki ruang yang sangat terbuka untuk terus tumbuh dan berkembang. Ini adalah momentum krusial bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama lebih erat. Pekerjaan rumah besar yang kini dihadapi adalah memastikan bahwa proses ekstensifikasi lahan tebu tersebut berjalan sejajar dengan peningkatan produktivitas hasil panen, pembenahan infrastruktur jalan yang vital, jaminan kepastian akses air untuk irigasi yang berkelanjutan, serta pemeliharaan kemitraan yang harmonis dan saling menguntungkan antara petani, pemerintah desa, dan pelaku industri pengolahan. Dukungan dari pemerintah daerah dan pusat dalam hal alokasi anggaran untuk infrastruktur air dan jalan akan menjadi katalisator penting bagi percepatan pembangunan di Nangamiro. Bagi seluruh masyarakat Desa Nangamiro, tebu kini bukan sekadar tanaman baru, melainkan simbol dan lembaran baru dalam narasi panjang pembangunan ekonomi desa mereka. Tebu kini tumbuh dan berkembang berdampingan secara harmonis bersama jambu mete, jagung, cokelat, serta sektor peternakan dan perikanan yang juga memiliki potensi besar. Di tengah keterbatasan fasilitas air dan infrastruktur jalan, warga menyimpan harapan yang sederhana namun mendalam: jika seluruh potensi yang ada dapat dikelola dengan optimal dan bijaksana, keterbatasan lahan sekalipun akan mampu menjadi mata air kesejahteraan yang melimpah bagi seluruh lapisan masyarakat. Kisah Nangamiro adalah potret mikro dari perjuangan dan optimisme pembangunan pedesaan di Indonesia, di mana inovasi dan kemitraan menjadi kunci untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Post navigation Revolusi Manis di Kaki Tambora: Bagaimana Desa Soritatanga Dompu Beralih dari Jagung ke Tebu, Mengukir Kesejahteraan dan Harapan Baru