Universitas Mataram (Unram) kembali mencatatkan momentum bersejarah dalam perjalanan akademiknya dengan menambah kekuatan jajaran tenaga pendidik tingkat tertinggi. Sebanyak enam dosen dari berbagai disiplin ilmu resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan di Ruang Sidang Senat Rektorat Universitas Mataram pada Kamis, 10 September. Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah manifestasi dari komitmen institusi dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi serta memperluas cakupan riset yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Langkah strategis ini menempatkan Universitas Mataram pada posisi yang lebih kompetitif di tingkat nasional maupun internasional. Penambahan guru besar ini diharapkan mampu mengakselerasi pencapaian visi Unram untuk menjadi lembaga pendidikan tinggi berbasis riset yang berdaya saing global. Kehadiran para intelektual di puncak karier akademik ini menjadi energi baru bagi universitas dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari isu ketahanan pangan, transformasi digital, hingga penguatan sistem hukum dan ekonomi syariah.

Profil Enam Guru Besar Baru dan Spesialisasi Keilmuan

Keenam guru besar yang dikukuhkan mencerminkan keberagaman fokus keilmuan yang dimiliki oleh Universitas Mataram. Masing-masing membawa kepakaran yang sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan nasional:

  1. Prof. Dr. Ir. I Gst. Made Kusnarta, M.APP.Sc. (Fakultas Pertanian): Menekankan kepakarannya pada bidang Konservasi Tanah dan Reklamasi. Di tengah isu perubahan iklim dan degradasi lahan di NTB, peran Prof. Kusnarta sangat krusial dalam menjaga produktivitas lahan pertanian melalui teknik konservasi yang berkelanjutan.
  2. Prof. Dr. Ir. Muhamad Siddik, M.S. (Fakultas Pertanian): Fokus pada bidang Ekonomi Pertanian. Penelitiannya diharapkan dapat memberikan solusi atas rantai pasok pangan dan peningkatan kesejahteraan petani melalui model ekonomi yang lebih efisien dan berpihak pada produsen lokal.
  3. Prof. Dr. Muaidy Yasin, M.S. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis): Ahli dalam bidang Ekonomi Islam. Kehadirannya sangat relevan mengingat posisi NTB sebagai salah satu destinasi wisata halal unggulan dunia, di mana penguatan ekosistem ekonomi syariah menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah.
  4. Prof. Dr. Ir. Misbahuddin, S.T., M.T., IPU (Fakultas Teknik): Mendalami bidang Teknik Komputer. Di era industri 4.0, kepakaran ini menjadi tulang punggung bagi Unram dalam memimpin inovasi teknologi informasi, pengembangan kecerdasan buatan, dan keamanan siber di lingkungan akademis dan pemerintahan.
  5. Prof. Dr. H. Kaharudin, S.H., M.H. (Fakultas Hukum): Pakar di bidang Administrasi Negara. Fokus keilmuannya sangat dibutuhkan dalam memberikan masukan terhadap tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance) serta penyusunan kebijakan publik yang berbasis pada supremasi hukum.
  6. Prof. drh. Made Sriasih, M.Agr.Sc., Ph.D. (Fakultas Peternakan): Spesialis di bidang Sains Veteriner. Mengingat sektor peternakan adalah salah satu komoditas unggulan di NTB, peran Prof. Sriasih dalam memastikan kesehatan hewan dan keamanan pangan asal hewan menjadi sangat vital.

Amanat Rektor: Jabatan Guru Besar Sebagai Titik Awal Pengabdian

Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., dalam pidato sambutannya memberikan penekanan mendalam mengenai esensi dari gelar guru besar. Ia menegaskan bahwa jabatan ini bukanlah sebuah garis finis bagi seorang akademisi, melainkan sebuah pintu gerbang menuju tanggung jawab yang lebih luas terhadap peradaban.

"Guru besar bukanlah garis akhir dari perjalanan akademik. Justru sebaliknya, ini adalah awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar," ujar Prof. Sukardi di hadapan anggota senat dan tamu undangan. Ia mengingatkan bahwa otoritas keilmuan yang melekat pada seorang profesor harus digunakan untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang dihadapi oleh bangsa.

Rektor juga menyoroti peran penting guru besar dalam membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan. Seorang profesor diharapkan menjadi lokomotif yang menarik gerbong dosen muda dan mahasiswa di bawahnya untuk mencapai standar kualitas yang lebih tinggi. "Seorang guru besar yang hebat bukan yang membuat dirinya semakin sulit digantikan, tetapi yang membuat institusinya semakin kuat meskipun suatu hari dirinya tidak lagi berada di sana," tegasnya. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya regenerasi dan transfer pengetahuan agar budaya riset di Unram tetap hidup dan berkembang.

Dampak Strategis Terhadap Akreditasi dan Reputasi Institusi

Penambahan enam guru besar ini memiliki implikasi langsung terhadap posisi tawar Universitas Mataram di peta pendidikan tinggi Indonesia. Dalam skema penilaian akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) maupun lembaga akreditasi internasional, rasio guru besar terhadap jumlah dosen dan mahasiswa merupakan salah satu indikator kualitas yang sangat krusial.

Dengan bertambahnya jumlah profesor, Unram berpeluang besar untuk meningkatkan peringkat universitas dalam berbagai pemeringkatan, seperti klasterisasi perguruan tinggi oleh Kemendikbudristek. Selain itu, kehadiran guru besar meningkatkan peluang institusi untuk memenangkan berbagai hibah penelitian kompetitif berskala nasional maupun internasional. Hal ini secara otomatis akan berdampak pada peningkatan jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi (Scopus/Web of Science), yang merupakan salah satu syarat utama dalam membangun reputasi akademik di tingkat global.

Keberadaan pakar di berbagai bidang ini juga memungkinkan Unram untuk menjalin kolaborasi lebih luas dengan sektor industri dan pemerintah daerah. Guru besar seringkali bertindak sebagai konsultan strategis atau mitra ahli dalam berbagai proyek pembangunan, sehingga memperkuat fungsi pengabdian kepada masyarakat yang merupakan bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi.

Unram Kukuhkan Enam Guru Besar

Konteks Pembangunan Daerah: Relevansi Keilmuan dengan Potensi NTB

Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki karakteristik geografis dan ekonomi yang unik. Sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata menjadi motor penggerak utama ekonomi wilayah ini. Oleh karena itu, komposisi guru besar yang baru dikukuhkan ini dianggap sangat "tepat sasaran" bagi kebutuhan lokal.

Di bidang pertanian dan peternakan, NTB terus berupaya menjadi lumbung pangan nasional. Kehadiran Prof. Kusnarta, Prof. Siddik, dan Prof. Sriasih memberikan landasan ilmiah bagi pemerintah daerah untuk merancang kebijakan swasembada pangan yang berbasis data dan teknologi terbaru. Misalnya, dalam penanganan penyakit hewan menular atau optimasi lahan kering di Pulau Sumbawa, kepakaran mereka akan menjadi referensi utama.

Sementara itu, di bidang ekonomi dan hukum, Prof. Muaidy Yasin dan Prof. Kaharudin diharapkan dapat membantu menata regulasi daerah agar lebih ramah investasi namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai lokal dan prinsip keadilan. Di sisi lain, Prof. Misbahuddin memegang kunci dalam digitalisasi birokrasi dan pemberdayaan ekonomi digital bagi pelaku UMKM di NTB melalui inovasi teknologi komputer.

Proses Panjang Menuju Gelar Tertinggi

Pencapaian gelar Guru Besar bukanlah proses yang instan. Para profesor yang dikukuhkan ini telah melewati perjalanan akademik yang panjang dan penuh tantangan. Di Indonesia, untuk mencapai jabatan fungsional Guru Besar, seorang dosen harus mengumpulkan angka kredit (KUM) yang signifikan melalui kegiatan mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Syarat yang semakin ketat dalam beberapa tahun terakhir, seperti kewajiban mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi dengan faktor dampak (impact factor) tertentu, menuntut ketekunan dan konsistensi luar biasa. Keberhasilan keenam dosen Unram ini membuktikan bahwa kualitas intelektual pendidik di daerah tidak kalah bersaing dengan mereka yang berada di universitas-universitas besar di Pulau Jawa.

Pihak universitas sendiri terus mendorong para dosennya yang sudah bergelar Doktor (S3) dan menduduki jabatan Lektor Kepala untuk segera mengurus kenaikan jabatan ke Guru Besar. Berbagai fasilitas seperti pendanaan riset internal, workshop penulisan jurnal, hingga bantuan percepatan administrasi disediakan oleh rektorat guna memastikan pertumbuhan jumlah guru besar tetap stabil setiap tahunnya.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Meskipun pengukuhan ini membawa optimisme besar, tantangan di depan mata tetap nyata. Dunia pendidikan tinggi saat ini sedang menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan paradigma belajar-mengajar melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Guru besar diharapkan tidak hanya berdiam diri di "menara gading" akademik, tetapi harus aktif turun ke lapangan.

Masyarakat menantikan kontribusi nyata dari pemikiran-pemikiran para profesor ini dalam mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran, serta isu lingkungan di NTB. Transformasi dari hasil riset menjadi inovasi yang dapat dikomersialkan atau diterapkan langsung oleh masyarakat adalah tantangan berikutnya bagi para guru besar baru ini.

Dengan pengukuhan enam guru besar ini, Universitas Mataram kini memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk melangkah menuju cita-cita sebagai universitas kelas dunia. Semangat kolaborasi antar-disiplin ilmu yang diwakili oleh para profesor baru ini diharapkan dapat melahirkan solusi-solusi inovatif bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan. Masyarakat akademik dan publik luas kini menanti karya-karya hebat selanjutnya yang akan lahir dari rahim intelektual Universitas Mataram.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *