Kondisi infrastruktur pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menjadi sorotan tajam setelah enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, secara resmi dinyatakan tidak layak huni dan berisiko tinggi bagi keselamatan penghuninya. Langkah preventif yang diambil oleh Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) NTB ini memaksa ratusan siswa dan tenaga pendidik untuk mengalihkan aktivitas belajar mengajar ke ruang kelas darurat, termasuk tenda-tenda sementara dan fasilitas gedung lainnya yang masih dianggap aman. Keputusan pahit ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran akan potensi keruntuhan bangunan yang dapat memakan korban jiwa, sebuah skenario yang ingin dihindari oleh pemerintah daerah setelah serangkaian insiden serupa terjadi di wilayah lain di Mataram dan sekitarnya.

Kepala Dinas PUPRPKP NTB, Lalu Kusuma Wijaya, yang akrab disapa Miq Wijaya, memberikan klarifikasi mendalam mengenai status gedung tersebut dalam pertemuan dengan awak media pada Senin, 27 Juli 2026. Ia menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh tim teknisnya bukanlah penyegelan dalam konteks hukum atau sengketa, melainkan murni upaya pengamanan aset fisik yang membahayakan. "Maksudnya dilokalisasi supaya tidak digunakan karena berpotensi bahaya. Jadi, diamankan, bukan disegel," tegasnya. Menurut Wijaya, langkah ini merupakan bentuk mitigasi risiko yang sangat mendesak. Ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terkait nyawa siswa dan guru, mengingat indikasi kerusakan pada struktur bangunan sudah terlihat secara kasat mata dan didukung oleh hasil pemeriksaan teknis awal.

Kronologi dan Detail Pemeriksaan Teknis

Permasalahan di SMAN 1 Gunungsari mencuat setelah adanya laporan mengenai kondisi fisik bangunan yang mulai menunjukkan tanda-tanda degradasi struktural. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh tim ahli dari Dinas PUPRPKP, ditemukan bahwa enam ruang kelas tersebut mengalami masalah pada bagian atap dan dinding yang dinilai tidak lagi mampu menopang beban secara optimal. Dari hasil pemeriksaan lapangan, tim merekomendasikan agar seluruh aktivitas di dalam gedung tersebut segera dihentikan. "Saya tidak merekomendasikan untuk digunakan, nanti ambruk. Tidak ada korban saja kita kaget, apalagi kalau ada korban," ujar Wijaya dengan nada serius.

Keputusan untuk mengosongkan enam ruang kelas ini secara langsung berdampak pada manajemen ruang di sekolah tersebut. Pihak sekolah terpaksa melakukan penyesuaian jadwal dan memanfaatkan setiap jengkal lahan yang tersedia untuk memastikan proses transfer ilmu tetap berlangsung. Siswa-siswa kini harus beradaptasi dengan ruang belajar yang jauh dari kata ideal, di mana faktor kenyamanan seperti sirkulasi udara dan kebisingan menjadi kendala utama. Meskipun demikian, prioritas keselamatan tetap menjadi konsensus bersama antara pihak sekolah, orang tua siswa, dan pemerintah provinsi.

Dampak Psikologis dan Pedagogis bagi Siswa

Penggunaan ruang kelas darurat atau tenda dalam jangka waktu yang belum ditentukan membawa tantangan tersendiri bagi kualitas pendidikan di SMAN 1 Gunungsari. Secara psikologis, siswa mungkin merasa cemas akan kondisi bangunan sekolah mereka secara keseluruhan, sementara secara pedagogis, konsentrasi belajar di bawah tenda tentu berbeda dengan di dalam kelas yang permanen dan kedap suara. Cuaca panas yang sering melanda wilayah Lombok Barat juga menjadi faktor penghambat, mengingat tenda darurat cenderung memiliki retensi panas yang tinggi.

Kekhawatiran ini diakui oleh pemerintah. Lalu Kusuma Wijaya tidak menampik bahwa efektivitas belajar pasti menurun dalam kondisi seperti ini. Namun, ia kembali menekankan bahwa kenyamanan berada di urutan kedua setelah keselamatan. "Tentu ini mengganggu proses belajar mengajar. Namun, yang paling penting adalah jangan sampai ada korban. Keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas utama," tambahnya. Hal ini menunjukkan sebuah dilema infrastruktur yang sering dihadapi oleh daerah-daerah dengan anggaran rehabilitasi bangunan yang terbatas, di mana solusi sementara seringkali harus bertahan lebih lama dari yang direncanakan.

Fenomena Bangunan Tua dan Pola Kerusakan Sistemik

Kasus di SMAN 1 Gunungsari bukanlah sebuah insiden terisolasi. Dalam analisisnya, Dinas PUPRPKP NTB mengungkapkan bahwa sebagian besar gedung sekolah di NTB yang dibangun sekitar 20 tahun yang lalu kini berada pada titik kritis dalam siklus hidup bangunan. Bangunan-bangunan ini umumnya mengalami kelelahan material (material fatigue), terutama pada struktur atap yang menggunakan kayu atau baja ringan kualitas lama, serta fondasi yang mungkin telah bergeser akibat aktivitas seismik di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai pengingat, NTB memiliki sejarah kelam terkait kegagalan struktur bangunan sekolah. Insiden ambruknya atap di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar menjadi katalisator bagi pemerintah untuk lebih proaktif dalam melakukan inspeksi. Kejadian-kejadian tersebut membuktikan bahwa tanda-tanda kerusakan kecil, jika diabaikan, dapat berujung pada bencana besar. "Kami tidak bisa keliling se-NTB, jadi kita beri kisi-kisi sederhana agar sekolah melakukan asesmen sendiri. Kalau bentuknya begini (atap melengkung), harus diwaspadai," jelas Wijaya.

Kelas Tak Layak, Siswa SMAN 1 Gunungsari Belajar di Ruang Darurat

Kebijakan Asesmen Mandiri: Upaya Melibatkan Sekolah

Menyadari keterbatasan personel dan luasnya cakupan wilayah yang harus diawasi, Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas PUPRPKP kini mendorong kebijakan asesmen mandiri bagi seluruh satuan pendidikan. Pihak sekolah diminta untuk tidak pasif dan menunggu tim teknis datang, melainkan secara aktif melakukan pemeriksaan visual terhadap kondisi fisik gedung mereka. Beberapa indikator utama yang harus diperhatikan oleh pihak sekolah antara lain:

  1. Lendutan pada Atap: Adanya bagian plafon atau struktur atap yang terlihat melengkung ke bawah.
  2. Retakan pada Dinding: Terutama retakan diagonal atau retakan lebar yang menembus hingga ke sisi lain dinding, yang mengindikasikan adanya pergeseran fondasi.
  3. Suara Kretek dari Struktur: Seringkali bangunan yang akan runtuh memberikan peringatan berupa suara patahan kayu atau gesekan material.
  4. Kondisi Kusen dan Pintu: Pintu yang tiba-tiba sulit dibuka atau ditutup karena bingkai yang miring akibat beban bangunan yang tidak merata.

Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, sekolah diinstruksikan untuk segera melapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB serta Dinas PUPRPKP agar dapat ditindaklanjuti dengan pemeriksaan teknis yang lebih mendalam. Setelah laporan diterima, tim penilai ahli akan turun ke lapangan untuk menentukan apakah bangunan tersebut masih bisa diperbaiki melalui rehabilitasi ringan, sedang, atau harus dikosongkan sepenuhnya untuk pembangunan ulang.

Tantangan Anggaran dan Masa Depan Infrastruktur Pendidikan

Masalah mendasar yang membayangi krisis infrastruktur ini adalah ketersediaan anggaran. Rehabilitasi enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, ditambah dengan puluhan sekolah lain yang mengalami kondisi serupa, memerlukan dana yang sangat besar. Pemerintah Provinsi NTB harus membagi fokus antara pembangunan infrastruktur jalan, kesehatan, dan pendidikan, di tengah keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ada harapan agar pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan dapat memberikan porsi lebih besar bagi NTB, mengingat provinsi ini berada di zona rawan gempa yang menuntut standar bangunan lebih tinggi (tahan gempa). Selain itu, diperlukan adanya manajemen aset yang lebih baik di tingkat sekolah, di mana pemeliharaan rutin harus menjadi bagian dari budaya organisasi sekolah, bukan hanya menunggu kerusakan parah terjadi baru kemudian melapor.

Analisis Implikasi: Keamanan sebagai Standar Mutu Pendidikan

Keamanan bangunan sekolah seharusnya menjadi komponen fundamental dari standar nasional pendidikan. Kejadian di SMAN 1 Gunungsari memberikan pelajaran berharga bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari kurikulum atau kompetensi guru, tetapi juga dari lingkungan fisik yang menjamin rasa aman bagi seluruh warga sekolah. Ketika siswa harus belajar di bawah tenda karena gedung mereka berpotensi ambruk, ada kegagalan sistemik dalam pemeliharaan aset publik yang perlu segera dibenahi.

Langkah Dinas PUPRPKP NTB dalam "mengamankan" gedung ini patut diapresiasi sebagai tindakan tegas yang mendahulukan kemanusiaan di atas formalitas birokrasi. Namun, langkah ini harus segera diikuti dengan rencana aksi nyata untuk pembangunan kembali. Tanpa kepastian waktu renovasi, ruang kelas darurat yang seharusnya menjadi solusi sementara dikhawatirkan akan menjadi permanen, yang pada akhirnya akan mendegradasi martabat pendidikan di mata masyarakat.

Kesimpulan dan Harapan Masyarakat

Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah untuk segera mencari solusi pembiayaan. Masyarakat, khususnya para orang tua siswa di SMAN 1 Gunungsari, menaruh harapan besar agar anak-anak mereka tidak terlalu lama berada dalam ketidakpastian. Mereka menginginkan gedung sekolah yang kokoh, aman, dan representatif untuk mendukung proses belajar yang maksimal.

Secara lebih luas, krisis di Gunungsari ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan di NTB bahwa investasi pada infrastruktur pendidikan adalah investasi pada masa depan. Pengawasan ketat terhadap kontraktor pembangunan, penggunaan material berkualitas tinggi, dan audit struktur secara berkala harus menjadi prosedur standar operasional (SOP) di masa mendatang. Jangan sampai ada lagi sekolah yang harus "diamankan" karena kelalaian dalam pemeliharaan, dan jangan sampai ada satu pun nyawa siswa yang terancam hanya karena mereka ingin menuntut ilmu di bawah atap yang rapuh. (rat)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *