Aipda Lalu Satya Kandayan Kurnia, seorang Bhabinkamtibmas Desa Lelede yang bertugas di bawah naungan Polres Lombok Barat, Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan sebuah inovasi pendekatan dalam mengawal keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Dengan memanfaatkan momentum khutbah Jumat, ia berhasil menyisipkan pesan-pesan penting mengenai kamtibmas secara humanis dan persuasif, sebuah metode yang kini menjadi sorotan positif dari jajaran kepolisian daerah. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 7 Agustus 2026, di Masjid Nurul Iman, Dusun Dasan Bawak, Desa Lelede, Kabupaten Lombok Barat, di mana Aipda Lalu Satya dipercaya sebagai khatib oleh masyarakat setempat. Pendekatan ini tidak hanya menunjukkan kapasitas personal Aipda Lalu Satya dalam bidang keagamaan, tetapi juga menegaskan efektivitas strategi pembinaan masyarakat yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan tugas kepolisian, menjadikannya model dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan nyaman bagi seluruh warga.

Kronologi Pendekatan Inovatif di Mimbar Jumat

Pada hari Jumat yang penuh berkah itu, suasana khidmat menyelimuti Masjid Nurul Iman, pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat Dusun Dasan Bawak, Desa Lelede. Sebagaimana tradisi mingguan, jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, sesepuh, pemuda, hingga anak-anak, berkumpul untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Namun, pada hari itu, ada sebuah pemandangan yang sedikit berbeda dan menarik perhatian. Bukan seorang ulama atau tokoh agama yang lazim mengisi mimbar, melainkan seorang anggota kepolisian, Aipda Lalu Satya Kandayan Kurnia, yang tampil sebagai khatib. Kepercayaan masyarakat setempat untuk menunjuk seorang Bhabinkamtibmas sebagai penceramah utama merupakan bukti nyata dari kedekatan dan penerimaan warga terhadap sosok Aipda Lalu Satya. Ia tidak hanya dikenal sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pemahaman agama yang mendalam, aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam khutbahnya, Aipda Lalu Satya dengan lugas namun penuh hikmah menyampaikan seruan untuk memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan antarwarga. Pesan-pesan kamtibmas yang disisipkan tidak terasa menggurui atau berbau instruksi formal kepolisian, melainkan melebur secara harmonis dalam ajaran agama yang menuntun umat untuk berbuat kebaikan, menjaga silaturahmi, dan menghindari segala bentuk perpecahan atau kemungkaran. Ia secara khusus menekankan pentingnya nilai-nilai universal yang diajarkan oleh Islam dan juga relevan dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kejujuran dalam berinteraksi, saling menghormati perbedaan pendapat dan latar belakang, serta kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan atau rentan.

Aipda Lalu Satya menjelaskan bagaimana nilai-nilai luhur ini tidak hanya menjadi fondasi dalam kehidupan beragama, tetapi juga esensial dalam membangun tatanan sosial yang aman, damai, dan kondusif. Ia mengaitkan setiap ajaran moral dengan praktik nyata dalam menjaga lingkungan sekitar, mulai dari hal-hal kecil seperti tidak memicu konflik atau perdebatan yang tidak perlu, menghormati hak-hak tetangga, hingga aktif melaporkan potensi gangguan keamanan kepada pihak berwenang secara bertanggung jawab. Pendekatan ini dipilih karena masjid, sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial, merupakan tempat yang sangat strategis untuk menjangkau lapisan masyarakat secara luas, terutama para kepala keluarga dan pemuda yang menjadi tulang punggung komunitas. Dengan penyampaian yang berbasis nilai-nilai keagamaan, pesan kamtibmas menjadi lebih mudah dicerna, diterima, dan diinternalisasi oleh jamaah, karena relevan dengan keyakinan dan etika hidup mereka sehari-hari. Ini adalah contoh nyata bagaimana Bhabinkamtibmas, sebagai ujung tombak kepolisian di tingkat desa, mampu beradaptasi dan berinovasi dalam menjalankan tugasnya, melampaui sekadar penegakan hukum semata, menuju peran sebagai pengayom, pembimbing, dan mitra strategis masyarakat.

Peran Strategis Bhabinkamtibmas dalam Pembinaan Masyarakat

Bhabinkamtibmas, atau Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, merupakan garda terdepan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam membangun kemitraan dengan masyarakat. Peran mereka jauh melampaui sekadar penegakan hukum; mereka adalah agen perubahan sosial, mediator konflik, dan sumber informasi bagi warga desa. Setiap Bhabinkamtibmas ditugaskan di satu desa atau kelurahan, memastikan keberadaan polisi yang dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Tugas utama mereka meliputi pembinaan dan penyuluhan kamtibmas, deteksi dini potensi gangguan keamanan, serta mediasi penyelesaian masalah sosial yang terjadi di tingkat lokal sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Keberhasilan seorang Bhabinkamtibmas sangat bergantung pada kemampuannya membangun kedekatan emosional dan kepercayaan dengan warga. Ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang adat istiadat, budaya, karakteristik sosial, dan bahkan dinamika politik lokal masyarakat setempat. Bhabinkamtibmas harus mampu berbaur, mendengarkan keluh kesah warga, dan memberikan solusi yang relevan dan diterima. Aipda Lalu Satya Kandayan Kurnia adalah contoh nyata bagaimana seorang Bhabinkamtibmas dapat mengoptimalkan perannya secara luar biasa. Dengan kemampuannya dalam bidang keagamaan, ia tidak hanya dikenal sebagai penegak hukum yang berwibawa, tetapi juga sebagai tokoh yang dihormati dalam konteks keagamaan. Hal ini memberinya kredibilitas tambahan yang sangat berharga, memungkinkan pesan-pesan yang sensitif dan penting, seperti ajakan untuk menjaga kamtibmas, dapat disampaikan dengan dampak yang lebih besar dan tingkat penerimaan yang lebih tinggi.

Polda NTB secara konsisten mendorong para Bhabinkamtibmas untuk tidak hanya menjalankan tugas normatif yang telah digariskan, tetapi juga untuk berinovasi dan memanfaatkan potensi diri yang dimiliki. Pendekatan seperti yang dilakukan Aipda Lalu Satya menunjukkan bahwa kemampuan personal, seperti kefasihan dalam berkhutbah, pemahaman mendalam tentang nilai-nilai lokal, atau keterampilan sosial lainnya, dapat menjadi aset tak ternilai dalam tugas pembinaan masyarakat. Ini sejalan dengan visi Polri yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang dicanangkan oleh Kapolri, yang menekankan pada pendekatan humanis, pelayanan prima kepada masyarakat, serta responsif terhadap dinamika sosial yang berkembang di tengah-tengah komunitas. Dengan demikian, Bhabinkamtibmas tidak hanya menjadi simbol kehadiran negara, tetapi juga representasi dari polisi yang melayani, mengayomi, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Pendekatan Humanis dan Religius sebagai Pilar Keamanan

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama, di mana nilai-nilai keagamaan memegang peranan sentral dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Dalam konteks ini, pendekatan yang mengintegrasikan aspek spiritual dan humanis seringkali terbukti lebih efektif dalam membentuk kesadaran dan perilaku masyarakat dibandingkan pendekatan represif atau sekadar hukum semata. Kombes Pol. Mohammad Kholid, S.I.K., Kabid Humas Polda NTB, dengan tegas membenarkan dan mengapresiasi metode yang diterapkan oleh Aipda Lalu Satya. "Kami sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Penyampaian pesan-pesan kamtibmas melalui bahasa agama merupakan pendekatan yang sangat baik karena lebih mudah diterima masyarakat, terutama para tokoh dan jamaah yang hadir dalam pelaksanaan ibadah," ujar Kombes Pol. Mohammad Kholid, memberikan penekanan pada efektivitas pendekatan ini.

Pernyataan ini menggarisbawahi pemahaman mendalam kepolisian terhadap sosiologi masyarakat Indonesia. Ketika pesan kamtibmas disampaikan melalui medium yang dipercaya dan dihormati secara spiritual, resistensi akan berkurang drastis, dan tingkat penerimaan akan meningkat secara signifikan. Agama mengajarkan kebaikan, kedamaian, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial, nilai-nilai yang secara inheren selaras dengan tujuan kamtibmas. Dengan mengaitkan menjaga keamanan dan ketertiban dengan ajaran agama, masyarakat diajak untuk melihatnya bukan hanya sebagai kewajiban hukum atau tuntutan negara, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah, tanggung jawab moral, dan manifestasi keimanan. Hal ini menciptakan motivasi internal yang lebih kuat untuk patuh dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan.

Bhabinkamtibmas Lelede Sampaikan Pesan Kamtibmas Lewat Mimbar Jumat

Pendekatan ini juga memperkuat citra Polri sebagai institusi yang humanis dan dekat dengan rakyat. Alih-alih hanya tampil sebagai penegak hukum yang berjarak dan ditakuti, polisi hadir sebagai mitra, pembimbing, dan bagian integral dari komunitas yang memahami nilai-nilai dan aspirasi warga. Ini membantu membangun jembatan kepercayaan yang sangat penting untuk kerjasama jangka panjang dalam menjaga keamanan. Dalam konteks Desa Lelede, kehadiran seorang Bhabinkamtibmas yang mampu berkhutbah Jumat tidak hanya meningkatkan respek masyarakat terhadap individu Aipda Lalu Satya, tetapi juga terhadap institusi Polri secara keseluruhan. Ini adalah investasi sosial yang tak ternilai harganya dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kamtibmas dan memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat.

Konteks Keamanan dan Ketertiban di Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat, dengan keindahan alamnya yang memukau, kekayaan budayanya yang beragam, dan sektor pariwisata yang terus berkembang, adalah salah satu provinsi penting di Indonesia. Namun, seperti daerah lain, NTB juga tidak luput dari tantangan kamtibmas yang kompleks. Tantangan tersebut meliputi berbagai bentuk kejahatan konvensional seperti pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang masih menjadi perhatian utama di beberapa wilayah. Selain itu, penyalahgunaan narkoba, konflik sosial antar kelompok atau individu yang dipicu oleh isu-isu sepele, kenakalan remaja, serta peredaran minuman keras juga seringkali menjadi pemicu gangguan kamtibmas di tingkat desa dan kota.

Data statistik kejahatan yang dirilis oleh Polda NTB secara berkala menunjukkan fluktuasi kasus, meskipun upaya pencegahan dan penindakan terus digalakkan. Misalnya, laporan tahunan kepolisian seringkali menyoroti bahwa intervensi dini di tingkat komunitas sangat krusial untuk mencegah eskalasi masalah. Dalam menghadapi kompleksitas ini, peran serta aktif masyarakat menjadi kunci utama. Kepolisian tidak dapat bekerja sendirian dalam menjaga keamanan; dukungan dan partisipasi warga adalah elemen vital. Oleh karena itu, strategi yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat, seperti yang dilakukan Aipda Lalu Satya, menjadi sangat relevan dan efektif. Di NTB, di mana nilai-nilai agama Islam sangat kuat dan tokoh agama (ulama, tuan guru) memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini dan perilaku masyarakat, memanfaatkan jaringan dan kredibilitas para tokoh agama untuk menyampaikan pesan kamtibmas adalah langkah cerdas yang dapat mempercepat proses internalisasi nilai-nilai keamanan di kalangan warga.

Polda NTB terus berupaya memperkuat sinergi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dan organisasi kemasyarakatan. Program-program seperti sambang desa, patroli dialogis, dan kegiatan sosial kemasyarakatan secara rutin dilaksanakan oleh Bhabinkamtibmas di seluruh pelosok NTB. Pendekatan keagamaan yang dilakukan Aipda Lalu Satya adalah salah satu dari sekian banyak upaya kreatif yang didorong oleh pimpinan Polda untuk mencapai tujuan kamtibmas yang lebih baik. Ini menunjukkan komitmen Polda NTB untuk tidak hanya reaktif terhadap kejahatan, tetapi juga proaktif dalam membangun fondasi keamanan dari akar rumput, memberdayakan masyarakat agar menjadi subjek aktif dalam menjaga keamanan lingkungan mereka sendiri.

Dampak Jangka Panjang dan Implikasi Lebih Luas

Pendekatan humanis dan religius yang diimplementasikan oleh Aipda Lalu Satya di Desa Lelede memiliki potensi dampak jangka panjang yang signifikan, tidak hanya bagi komunitas lokal tetapi juga sebagai model inspiratif bagi wilayah lain di NTB dan bahkan di seluruh Indonesia.

Pertama, penguatan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Ketika polisi dilihat sebagai bagian dari komunitas yang memahami dan menghargai nilai-nilai lokal serta keagamaan, stigma negatif yang mungkin melekat pada citra polisi dapat terkikis. Kepercayaan adalah modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga kamtibmas, karena masyarakat akan lebih terbuka untuk berbagi informasi, melaporkan kejadian, dan berpartisipasi aktif dalam program-program keamanan tanpa rasa takut atau sungkan. Ini menciptakan lingkaran positif di mana kepercayaan menghasilkan kerjasama, dan kerjasama menghasilkan keamanan yang lebih baik.

Kedua, peningkatan kesadaran kamtibmas di kalangan masyarakat secara holistik. Dengan pesan yang disampaikan melalui mimbar agama, individu-individu diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga keamanan secara rasional, tetapi juga merasakannya sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral. Ini dapat mendorong terbentuknya "polisi diri" dalam setiap individu, di mana mereka secara sukarela menjaga diri, keluarga, dan lingkungannya dari potensi gangguan. Ini adalah bentuk pencegahan kejahatan yang paling efektif, karena berasal dari kesadaran internal yang kuat, bukan paksaan eksternal.

Ketiga, mempererat tali persaudaraan dan kerukunan antarwarga. Khutbah yang menekankan persatuan, saling menghormati, dan kepedulian dapat meredakan potensi konflik sosial yang seringkali muncul dari kesalahpahaman atau perbedaan. Di tengah tantangan polarisasi sosial yang terkadang muncul, pendekatan ini dapat menjadi perekat yang kuat, mengingatkan semua pihak akan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi bersama. Lingkungan yang rukun dan harmonis secara inheren lebih aman dan kondusif, karena konflik seringkali menjadi pintu masuk bagi gangguan kamtibmas lainnya.

Keempat, menciptakan model community policing yang adaptif dan relevan dengan konteks lokal. Keberhasilan Aipda Lalu Satya dapat menjadi inspirasi bagi Bhabinkamtibmas lain di NTB, bahkan di seluruh Indonesia, untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan potensi unik yang mereka miliki atau karakteristik lokal yang ada di wilayah tugas mereka. Tidak semua Bhabinkamtibmas mungkin memiliki kemampuan berkhutbah, tetapi setiap daerah memiliki tokoh-tokoh yang dihormati dan forum-forum lokal yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kamtibmas secara efektif. Fleksibilitas, kreativitas, dan kepekaan terhadap kearifan lokal dalam pendekatan adalah kunci untuk keberhasilan program community policing.

Kombes Pol. Mohammad Kholid

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *