GIRI MENANG – Asosiasi UMKM Lombok Barat (AULB) menunjukkan komitmen dan kinerja nyata dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui serangkaian inisiatif strategis. Dua pilar utama program kerja mereka adalah penataan dan optimalisasi kegiatan Car Free Night (CFN) dan Car Free Day (CFD) di kawasan Taman Kota Gerung, serta pengembangan program pendampingan berbasis potensi desa yang inovatif. Langkah-langkah ini mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, khususnya melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), sebagai upaya kolektif untuk menciptakan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah yang lebih tangguh, terorganisir, dan berdaya saing di tengah dinamika ekonomi regional dan global. Meningkatkan Daya Saing UMKM Melalui Penataan Terpadu di Taman Kota Gerung Pengembangan UMKM telah lama diakui sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional, termasuk di Lombok Barat. Namun, tantangan yang kerap dihadapi oleh para pelaku UMKM, terutama yang beroperasi di ruang publik, adalah kurangnya penataan yang sistematis, persaingan yang tidak teratur, serta keterbatasan akses terhadap pendampingan dan pembinaan. Kondisi ini seringkali menghambat potensi pertumbuhan dan daya saing mereka. Menyadari urgensi tersebut, Asosiasi UMKM Lombok Barat mengambil inisiatif untuk melakukan penataan komprehensif terhadap kegiatan CFN dan CFD yang telah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial di Taman Kota Gerung. Sebelum adanya penataan, area ini kerap diwarnai oleh kurangnya koordinasi antar pedagang, penempatan lapak yang kurang optimal, serta data UMKM yang belum terintegrasi. Hal ini tidak hanya mengurangi kenyamanan pengunjung tetapi juga menyulitkan upaya pembinaan dan monitoring dari pihak terkait. Langkah-langkah strategis yang diimplementasikan oleh AULB meliputi pengaturan lapak UMKM secara lebih tertib dan estetis, peningkatan koordinasi dan komunikasi antar pelaku usaha untuk menciptakan lingkungan yang kolaboratif, penguatan basis data UMKM yang terlibat dalam kegiatan CFN dan CFD untuk mempermudah identifikasi kebutuhan dan potensi, serta penguatan sistem pendampingan yang berkelanjutan. Penataan ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi pelaku usaha dan pengunjung, meningkatkan transaksi ekonomi, serta memberikan citra positif bagi kawasan Taman Kota Gerung sebagai pusat aktivitas UMKM yang modern dan terorganisir. Berdasarkan data awal yang dikumpulkan oleh AULB, sebelum penataan, diperkirakan terdapat lebih dari 150 pelaku UMKM yang berpartisipasi secara sporadis di CFN dan CFD setiap minggunya. Dengan penataan ini, diharapkan jumlah UMKM yang terintegrasi dapat meningkat, sekaligus memastikan mereka mendapatkan akses yang lebih baik terhadap pembinaan dan fasilitas. Peningkatan kualitas layanan dan produk, serta kemudahan akses bagi pengunjung, diproyeksikan dapat meningkatkan omzet keseluruhan UMKM di area tersebut hingga 20-30% dalam satu tahun pertama pasca-penataan. Menggali Potensi Lokal: Program Pendampingan Berbasis Desa Selain fokus pada penataan di pusat kota, AULB juga meluncurkan program pendampingan yang lebih terstruktur dan menjangkau hingga ke akar rumput, yaitu melalui pendekatan potensi desa. Program ini lahir dari kesadaran bahwa setiap desa di Lombok Barat memiliki karakteristik dan potensi unik, baik dari segi sumber daya alam, keahlian tradisional, maupun budaya lokal, yang dapat dikembangkan menjadi produk atau jasa UMKM bernilai tinggi. Tujuan utama dari program pendampingan berbasis desa ini adalah untuk mengidentifikasi dan menggali potensi usaha lokal yang belum teroptimalkan di setiap desa. Setelah potensi teridentifikasi, AULB akan memberikan pendampingan berkelanjutan kepada para pelaku UMKM, meliputi berbagai aspek penting seperti peningkatan kualitas produk, inovasi desain dan kemasan, strategi pemasaran (termasuk pemasaran digital), pengelolaan keuangan yang efektif, serta pengembangan jejaring pasar. Pendampingan ini dirancang untuk memberdayakan UMKM agar mampu bersaing tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menembus pasar regional, nasional, bahkan internasional. Sebagai bagian awal dari pelaksanaan program ambisius ini, Ketua Asosiasi UMKM Lombok Barat, Yeni Pancawati, melakukan serangkaian kunjungan langsung ke sejumlah pelaku UMKM di Kecamatan Gerung dan Kecamatan Lembar pada awal bulan April 2026. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah inisiatif proaktif untuk melihat secara langsung kondisi riil usaha, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta mendengarkan aspirasi dan masukan langsung dari para pelaku UMKM. Dalam kunjungan awal ini, tercatat sebanyak tiga UMKM di Kecamatan Gerung dan satu UMKM di Kecamatan Lembar dikunjungi, mewakili sektor-sektor yang beragam seperti olahan makanan, kerajinan tangan, dan produk pertanian. "Kunjungan ini sangat penting untuk memahami secara mendalam apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh para pelaku UMKM di tingkat desa," ujar Yeni Pancawati dalam wawancara terpisah. "Setiap UMKM memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Melalui pendekatan personal ini, kami bisa merancang program pendampingan yang lebih relevan dan berdampak langsung." Sinergi Kuat Antara Asosiasi dan Pemerintah Daerah: Pilar Utama Pembangunan Ekonomi Keberhasilan program-program yang digagas oleh AULB tidak dapat dilepaskan dari sinergi kuat dan dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, khususnya Dinas Koperasi dan UKM. Kemitraan strategis ini menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem UMKM yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Pemerintah daerah menyediakan kerangka kebijakan, fasilitas, serta dukungan anggaran, sementara asosiasi berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan pelaku UMKM, mengidentifikasi kebutuhan di lapangan, serta mengimplementasikan program-program pembinaan. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lombok Barat, Bapak Dr. H. Abdul Rahman, S.E., M.M., menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung inisiatif AULB. "Kami melihat Asosiasi UMKM Lombok Barat sebagai mitra strategis yang sangat proaktif. Penataan CFN dan CFD, serta program pendampingan berbasis desa, adalah langkah konkret yang sejalan dengan visi kami untuk menjadikan UMKM sebagai motor penggerak utama perekonomian daerah. Kami siap memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk pelatihan, fasilitasi perizinan, akses permodalan, maupun promosi produk," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Dinas Koperasi dan UKM telah mengalokasikan anggaran khusus untuk program peningkatan kapasitas UMKM dan fasilitasi pemasaran, termasuk melalui platform digital. Yeni Pancawati sendiri sangat menekankan pentingnya kolaborasi ini. "Sinergi antara asosiasi dan pemerintah daerah adalah faktor krusial dalam menciptakan ekosistem UMKM yang sehat dan berkelanjutan. Melalui penataan CFN dan CFD di Taman Kota Gerung dan pengembangan program potensi desa, kami ingin memastikan UMKM memiliki ruang usaha yang tertata sekaligus mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan. Dukungan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Koperasi menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM," tegasnya. Kemitraan ini mencerminkan pemahaman bahwa pembangunan ekonomi lokal adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak. Dampak Ekonomi dan Sosial yang Diharapkan Inisiatif AULB ini diharapkan membawa dampak positif yang signifikan bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Lombok Barat. Secara ekonomi, penataan CFN dan CFD akan menciptakan pusat transaksi yang lebih menarik dan efisien, berpotensi meningkatkan omzet penjualan UMKM dan menarik lebih banyak pengunjung, baik lokal maupun wisatawan. Sementara itu, program pendampingan berbasis desa akan mengidentifikasi produk-produk unggulan lokal yang dapat menjadi ikon baru daerah, menciptakan nilai tambah, dan membuka peluang pasar yang lebih luas. Data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Di Lombok Barat, kontribusi UMKM diperkirakan tidak jauh berbeda, dengan sektor ini menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga. Dengan penguatan UMKM, diharapkan dapat terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, pengurangan angka pengangguran, dan pemerataan ekonomi hingga ke pelosok desa. Peningkatan kualitas produk dan daya saing UMKM juga akan memperkuat citra Lombok Barat sebagai destinasi yang kaya akan produk-produk lokal berkualitas. Selain itu, program ini juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Pendampingan berkelanjutan tidak hanya berfokus pada aspek bisnis, tetapi juga pada peningkatan keterampilan manajerial dan kewirausahaan, yang pada gilirannya akan memberdayakan individu dan komunitas. UMKM yang kuat juga dapat menjadi agen perubahan sosial, mempromosikan praktik bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Suara dari Pelaku UMKM dan Masyarakat Para pelaku UMKM menyambut baik inisiatif ini dengan antusias. Ibu Siti Aminah, seorang pengusaha kuliner di Gerung yang kerap berjualan di CFD, mengungkapkan harapannya. "Dengan penataan ini, kami berharap tempat jualan menjadi lebih rapi dan nyaman. Dulu kadang berebut tempat, sekarang kalau ada aturan jelas pasti lebih tertib. Semoga juga pembeli makin ramai," ujarnya. Sementara itu, Bapak Wayan Suparta, pengrajin anyaman bambu dari Kecamatan Lembar yang baru saja dikunjungi oleh Ibu Yeni Pancawati, merasakan dampak positif dari kunjungan awal. "Kami senang sekali ada perhatian dari asosiasi. Selama ini kami hanya membuat produk berdasarkan kebiasaan. Dengan pendampingan, kami berharap bisa belajar membuat produk yang lebih inovatif dan punya nilai jual lebih tinggi, bahkan mungkin bisa masuk toko-toko besar," kata Wayan dengan semangat. Masyarakat umum juga mengapresiasi upaya penataan ini. "Taman Kota Gerung itu tempat favorit keluarga kami di akhir pekan. Kalau UMKM-nya lebih tertata, pasti lebih enak belanja dan jalan-jalan. Semoga kebersihan dan kenyamanannya juga terus terjaga," komentar Bapak Budi Santoso, salah seorang pengunjung rutin Taman Kota Gerung. Proyeksi Masa Depan dan Keberlanjutan Program Ke depan, Asosiasi UMKM Lombok Barat berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan pendampingan hingga ke lebih banyak desa-desa potensial. Mereka juga berencana untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan UMKM di Taman Kota Gerung, termasuk eksplorasi penggunaan teknologi digital untuk pemesanan dan pembayaran, serta pengembangan program promosi bersama. Target jangka panjangnya adalah menjadikan UMKM sebagai penggerak utama ekonomi daerah, berkontribusi secara signifikan terhadap PDB Lombok Barat, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Namun, tantangan tentu akan selalu ada, seperti keberlanjutan pendanaan, adaptasi terhadap perubahan tren pasar, dan menjaga semangat kolaborasi antar pihak. AULB berencana untuk secara rutin melakukan evaluasi program, menjalin kemitraan dengan lembaga keuangan non-bank, dan mendorong inovasi berkelanjutan di kalangan UMKM. Dengan fondasi yang kuat berupa sinergi antara asosiasi, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, visi untuk menjadikan Lombok Barat sebagai pusat UMKM yang maju dan berdaya saing tinggi bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah realitas yang semakin dekat. Pada akhirnya, inisiatif Asosiasi UMKM Lombok Barat ini bukan hanya tentang pengembangan bisnis, tetapi juga tentang pembangunan komunitas, pemberdayaan individu, dan penciptaan masa depan ekonomi yang lebih cerah dan inklusif bagi seluruh warga Lombok Barat. Melalui langkah-langkah konkret dan terukur, AULB membuktikan bahwa kolaborasi dan visi yang jelas adalah kunci untuk menghadapi tantangan dan meraih peluang di era ekonomi modern. Post navigation Bupati Lobar Cari Sekda, Seleksi Dilakukan Terbuka