Dompu, Nusa Tenggara Barat – Kabupaten Dompu, yang dikenal dengan potensi pertaniannya yang melimpah, kini tengah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pilar utama dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional, khususnya pada komoditas gula. Peningkatan jumlah petani tebu pemula yang signifikan dari tahun ke tahun menjadi indikator kuat bahwa sektor ini menawarkan manfaat ekonomi yang konkret bagi masyarakat lokal. Dengan hamparan lahan tidur yang masih luas dan belum tergarap optimal, Dompu memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi sentra produksi gula yang tidak hanya memenuhi kebutuhan Nusa Tenggara Barat, tetapi juga wilayah Indonesia Timur secara keseluruhan. Momentum ini semakin diperkuat oleh keselarasan kebijakan strategis nasional dan dukungan politik yang solid dari tingkat daerah hingga pusat.

Pengembangan Tebu di Dompu: Potensi Ekonomi dan Pertumbuhan Petani

Dalam beberapa tahun terakhir, Dompu telah menyaksikan lonjakan minat yang luar biasa dari masyarakat untuk beralih atau menambahkan budidaya tebu ke dalam portofolio pertanian mereka. Fenomena ini bukan tanpa alasan; keberhasilan para petani tebu yang lebih dulu menekuni komoditas ini telah menjadi bukti nyata akan potensi ekonomi yang menjanjikan. Lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif, atau dikenal sebagai lahan tidur, kini mulai diaktifkan kembali dengan penanaman tebu, membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan rumah tangga petani. Data awal menunjukkan bahwa pendapatan petani tebu dapat meningkat signifikan dibandingkan komoditas tradisional lain yang memiliki fluktuasi harga tinggi, seperti jagung yang selama ini menjadi primadona di Dompu. Rata-rata pendapatan per hektar lahan tebu di Dompu, meskipun bervariasi tergantung musim dan praktik budidaya, menunjukkan tren positif yang menarik lebih banyak petani untuk berpartisipasi dalam program ini.

Perkiraan luas lahan tidur yang potensial di Dompu mencapai puluhan ribu hektar, menjadikannya cadangan strategis untuk pengembangan perkebunan tebu skala besar. Tanah di Dompu yang didominasi oleh jenis vulkanik dan aluvial, serta dukungan curah hujan yang cukup, sangat ideal untuk budidaya tebu. Pemerintah daerah diharapkan memainkan peran sentral dalam memfasilitasi percepatan penanaman tebu di seluruh lahan tidur yang potensial. Ini mencakup penyediaan akses terhadap bibit unggul, bimbingan teknis mengenai praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), serta dukungan infrastruktur irigasi yang memadai untuk memastikan pasokan air yang stabil. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas petani, yang menjadi tulang punggung produksi.

Visi Strategis Menuju Sentra Gula Nasional

Potensi Dompu untuk menjadi sentra produksi gula nasional sangat tinggi, didukung oleh beberapa faktor kunci yang saling melengkapi. Pertama, pengembangan tebu sejalan dengan platform kebijakan strategis nasional terkait ketahanan pangan. Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Prabowo Subianto, menempatkan kedaulatan pangan sebagai prioritas utama. Swasembada gula adalah salah satu agenda krusial dalam visi ini, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Kesenjangan antara produksi gula nasional dan konsumsi diperkirakan mencapai jutaan ton setiap tahunnya. Sebagai contoh, pada tahun 2023, konsumsi gula nasional diperkirakan mencapai sekitar 7,2 juta ton, sementara produksi gula kristal putih (GKP) dalam negeri hanya sekitar 2,4 juta ton. Defisit sebesar kurang lebih 4,8 juta ton ini yang coba diatasi melalui program-program intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan tebu di berbagai daerah potensial, termasuk Dompu. Dengan demikian, setiap upaya peningkatan produksi di Dompu akan secara langsung berkontribusi pada pencapaian target swasembada nasional.

Kedua, adanya keselarasan politik yang kuat antara kepala daerah yang terpilih, baik di tingkat Provinsi NTB maupun Kabupaten Dompu, dengan presiden baru Indonesia, Prabowo Subianto. Keselarasan "satu perahu besar" ini secara politis akan sangat memudahkan koordinasi dan "perkawinan" kepentingan kebijakan di antara keduanya. Hal ini krusial dalam upaya akselerasi ketahanan gula nasional, memungkinkan alokasi anggaran yang lebih mudah dari pusat ke daerah, penetapan regulasi yang mendukung investasi dan petani, serta implementasi program yang terintegrasi dari pusat hingga daerah. Dukungan politik semacam ini menjadi katalisator penting dalam mengatasi berbagai hambatan birokrasi, mempercepat proses perizinan, dan memobilisasi sumber daya yang diperlukan untuk pengembangan skala besar, yang seringkali menjadi kendala utama dalam proyek-proyek pertanian strategis.

Dukungan Legislatif dan Kebijakan RPJMD

Menyadari potensi besar ini, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB, Ir. Muttaqun, telah menegaskan komitmennya. Ia memastikan bahwa tebu telah masuk dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2025–2029, baik di tingkat kabupaten Dompu maupun provinsi NTB. "Sudah kami sampaikan dalam RPJMD baik di kabupaten maupun provinsi untuk masuk dalam program tahun ini," tegas Muttaqun, mengindikasikan bahwa komitmen ini telah mendapatkan persetujuan awal dari berbagai pihak terkait.

Inklusi tebu dalam RPJMD merupakan langkah strategis yang sangat signifikan. RPJMD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode lima tahun, yang menjamin alokasi sumber daya, program kerja pemerintah daerah, dan prioritas pembangunan akan fokus pada pengembangan komoditas ini. Ini berarti tebu akan mendapatkan dukungan anggaran, kebijakan, dan program-program konkret yang berkelanjutan. Muttaqun menambahkan bahwa peluang tebu untuk masuk sebagai komoditi unggulan daerah kategori holtikultura sangat terbuka lebar, bahkan memiliki prioritas tinggi. Dia dan para rekan legislatif di tingkat kabupaten dan provinsi berkomitmen penuh untuk memperjuangkan hal ini melalui jalur kebijakan dan pengawasan.

Menurut politisi Partai Nasdem ini, pertimbangan utama mengapa tebu terus-menerus disuarakan agar mendapat atensi banyak pihak adalah karena komoditas ini merupakan bagian integral dari program kedaulatan pangan yang digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada kemandirian dan keberlanjutan. Kehadiran perkebunan tebu di Dompu, yang telah diawali oleh pihak swasta seperti PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) dengan mendirikan pabrik gula, menjadi fondasi kuat yang perlu didukung dan diperluas. Ini adalah contoh konkret bagaimana inisiatif swasta dapat bersinergi dengan visi pemerintah untuk mencapai tujuan yang lebih besar, menciptakan ekosistem industri gula yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Peluang Tebu Makin Menjanjikan, Sudah Selayaknya Masuk RPJMD Kabupaten dan Provinsi

Peran Vital Sektor Swasta dan Sinergi Mitra

Kehadiran PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Dompu menandai babak baru dalam pengembangan industri tebu di wilayah tersebut. Perusahaan ini tidak hanya membangun pabrik gula modern, tetapi juga secara proaktif menggandeng petani sekitar dan bahkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai mitra strategis dalam mengelola perkebunan tebu. Model kemitraan ini terbukti efektif dalam memberdayakan masyarakat lokal, menyediakan pelatihan mengenai teknik budidaya modern, akses pasar yang terjamin, serta kepastian harga bagi petani, sehingga meminimalkan risiko fluktuasi harga komoditas. Kolaborasi ini menunjukkan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu peningkatan produksi dan kesejahteraan.

Muttaqun menekankan pentingnya kerja sama semua pihak agar lahan perkebunan tebu di Dompu dapat diperluas secara signifikan, dan status arealnya menjadi jelas. Legalitas lahan adalah kunci untuk menarik investasi lebih lanjut, memberikan kepastian hukum bagi petani, dan mencegah konflik agraria di masa depan. "Kami ingin tebu tidak hanya dimanfaatkan potensinya tapi juga harus bisa dikelola untuk kesejahteraan masyarakat Dompu," tegasnya, menggarisbawahi bahwa tujuan akhir dari pengembangan tebu adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh, bukan sekadar keuntungan ekonomis semata.

PT SMS, sebagai pelopor, telah menunjukkan komitmen investasi jangka panjang di Dompu. Sejak awal operasionalnya, perusahaan ini telah menginvestasikan modal besar untuk pembangunan fasilitas pabrik, pengadaan alat berat modern, serta program kemitraan dengan petani yang terstruktur. Diperkirakan, pabrik gula PT SMS memiliki kapasitas pengolahan yang signifikan, mampu menyerap produksi tebu dari ribuan hektar lahan, sehingga menjamin pasar bagi petani. Kemitraan dengan TNI dalam program ketahanan pangan juga memberikan dimensi keamanan dan disiplin dalam pengelolaan lahan, serta membantu mengatasi potensi konflik lahan dan memastikan kelancaran operasional.

Marga Harun: Tebu sebagai Lokomotif Ekonomi Kerakyatan

Secara terpisah, anggota DPRD NTB dari daerah pemilihan Dompu, Marga Harun, turut memberikan pandangannya yang komprehensif. Ia menilai bahwa tebu saat ini telah bertransformasi menjadi industri pertanian yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan di Dompu secara signifikan. Terlebih lagi, pengembangan perkebunan tebu yang dikelola PT SMS bersama petani sekitar telah berhasil menaikkan taraf hidup masyarakat secara nyata, terlihat dari peningkatan daya beli dan kualitas hidup. "Ini menurut pandangan saya berdasarkan observasi langsung di lapangan," kata Marga, mengutip pengamatannya.

Marga Harun menguraikan beberapa berkah lain dari keberadaan perkebunan tebu di Dompu. Selain meningkatkan taraf hidup, sektor ini juga berkontribusi signifikan dalam mengurangi angka pengangguran lokal. Dengan kebutuhan tenaga kerja yang stabil, baik di lahan pertanian mulai dari penanaman hingga panen, maupun di pabrik pengolahan, banyak pemuda Dompu mendapatkan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan. Selain itu, pendapatan asli daerah (PAD) juga ikut terdongkrak melalui pajak dan retribusi dari aktivitas ekonomi di sektor tebu, yang kemudian dapat digunakan untuk mendanai pembangunan daerah.

Mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) NTB itu menilai sudah selayaknya perkebunan tebu mendapat perhatian yang setara dengan komoditas unggulan Dompu yang lain, seperti jagung. Hal ini didasari oleh lonjakan pertumbuhan perkebunan tebu yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan potensi yang setara atau bahkan lebih besar dalam jangka panjang. Jika jagung telah lama menjadi primadona, kini tebu siap menjadi bintang baru yang menopang ekonomi daerah.

Putra daerah asal Dompu dan putra Wakil Bupati Dompu Syirajuddin ini juga menganggap bahwa upaya pemerintah kabupaten untuk mendorong perkembangan komoditas tebu dalam rangka mengembangkan aspek ekonomi masyarakat sudah cukup maksimal. Namun, ia melihat ada area yang bisa dioptimalkan lebih lanjut. "Saya rasa yang dibutuhkan saat ini adalah perlu menghadirkan bibit-bibit unggul agar bisa menambah gairah masyarakat untuk tidak hanya fokus berkebun jagung tapi juga tebu sehingga perkembangan ekonomi daerah bisa bergerak di banyak komoditi," jelasnya. Diversifikasi komoditas pertanian akan membuat ekonomi daerah lebih resilient terhadap fluktuasi harga komoditas tunggal dan menciptakan stabilitas ekonomi jangka panjang.

Tantangan dan Kebutuhan Masa Depan

Marga Harun berkomitmen penuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *