Menjelang perhelatan akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 yang dijadwalkan berlangsung di Nusa Tenggara Barat (NTB), kesiapan infrastruktur olahraga menjadi perhatian utama. Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Lasarus, S.Sos., M.Si., baru-baru ini melakukan kunjungan kerja untuk meninjau langsung kondisi Gelora Olahraga (GOR) Turide di Kota Mataram. GOR yang telah berdiri sejak era 1980-an ini direncanakan menjadi salah satu venue utama penyelenggaraan PON 2028. Namun, hasil peninjauan mendapati bahwa kondisi GOR Turide saat ini dinilai sudah tidak layak dan membutuhkan revitalisasi komprehensif untuk memenuhi standar ajang olahraga nasional. Evaluasi Kritis Kondisi GOR Turide dan Rencana Revitalisasi Dalam kunjungannya, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi GOR Turide. "GOR ini dibangun pada tahun 1980-an dan kondisinya saat ini sudah tidak layak," tegasnya. Ia mengemukakan bahwa untuk menjadi tuan rumah PON 2028, kompleks olahraga ini idealnya harus direvitalisasi secara menyeluruh. Konsep revitalisasi yang diusulkan mencakup pembongkaran total bangunan eksisting untuk kemudian digantikan dengan stadion baru yang memiliki kapasitas memadai, diperkirakan antara 20.000 hingga 40.000 penonton. Perkiraan awal anggaran untuk pembangunan stadion baru ini mencapai angka yang signifikan, yaitu sekitar Rp700 miliar. Angka ini mencerminkan skala proyek yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas olahraga modern berstandar internasional. Namun, dengan rentang waktu yang semakin menipis menuju PON 2028, Lasarus mengakui bahwa pembangunan stadion baru secara menyeluruh dari nol menjadi tantangan besar. Waktu yang tersedia tidak memungkinkan untuk menyelesaikan proyek sebesar itu sesuai jadwal yang ditentukan. Menghadapi kendala waktu ini, Komisi V DPR RI mengusulkan pendekatan yang lebih pragmatis dan realistis. Skema renovasi terlebih dahulu menjadi opsi yang dipertimbangkan agar GOR Turide dapat segera digunakan dan memenuhi persyaratan minimal untuk menjadi tuan rumah PON 2028. "Kalau pembongkaran dilakukan sekarang, waktunya tidak cukup. Untuk sementara, kemungkinan ditempuh pola renovasi terlebih dahulu. Setelah PON selesai, baru dilakukan revitalisasi secara menyeluruh," jelas Lasarus. Pendekatan ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara kebutuhan infrastruktur dan keterbatasan waktu. Potensi Pengembangan GOR Turide Menjadi Kompleks Olahraga Modern Kawasan GOR Turide memiliki luas lahan sekitar 11 hektare, sebuah aset yang sangat berharga untuk dikembangkan menjadi kompleks olahraga yang lebih modern dan terintegrasi. Lasarus melihat potensi besar dalam pengembangan kawasan ini. Penataan kawasan di masa depan tidak hanya akan mencakup stadion utama, tetapi juga lintasan atletik yang representatif, serta venue yang memadai untuk berbagai cabang olahraga. Beberapa cabang olahraga yang dipertimbangkan untuk dipusatkan di area ini antara lain pencak silat, bulu tangkis, bola basket, dan bola voli. Bahkan, terdapat gagasan untuk mengoptimalkan penggunaan satu gedung untuk mengakomodasi beberapa cabang olahraga tersebut secara bersamaan, guna efisiensi ruang dan biaya. Pengembangan kompleks olahraga yang komprehensif ini tidak hanya akan bermanfaat untuk PON 2028, tetapi juga akan memperkuat posisi NTB sebagai destinasi olahraga di tingkat nasional maupun internasional. Keberadaan Sirkuit Mandalika, Bandara Internasional Lombok yang telah teruji melayani penerbangan internasional, serta infrastruktur jalan yang memadai, menjadi modal penting yang dimiliki NTB. Lasarus berpendapat bahwa sebuah stadion yang representatif akan menjadi pelengkap sempurna dari ekosistem olahraga yang sedang dibangun di NTB. "Siapa tahu suatu saat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia. Sangat mungkin salah satu venue pertandingan penting berada di NTB. Infrastruktur pendukung seperti bandara dan akses jalan sudah sangat baik. Tinggal stadion ini yang perlu dibenahi," ungkapnya, menyiratkan visi jangka panjang untuk NTB sebagai pusat olahraga. Prioritas Renovasi untuk Kebutuhan PON 2028 Mengingat keterbatasan waktu dan anggaran untuk revitalisasi total, fokus prioritas renovasi GOR Turide akan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik cabang olahraga yang akan dipertandingkan di PON 2028. Jika GOR Turide nantinya akan difokuskan sebagai venue utama untuk cabang olahraga atletik, maka lintasan atletik akan menjadi prioritas utama perbaikan. Pembenahan tribun penonton dan fasilitas pendukung lainnya juga akan dilakukan agar memenuhi standar kelayakan. "Yang paling penting adalah lintasan atletiknya. Sementara tribun penonton cukup dirapikan agar layak digunakan. Untuk cabang atletik, jumlah penonton biasanya tidak terlalu banyak," jelas Lasarus. Pernyataan ini menunjukkan strategi adaptif dalam memanfaatkan infrastruktur yang ada semaksimal mungkin untuk memenuhi tuntutan penyelenggaraan PON. Skema Pendanaan dan Kolaborasi Pemerintah Pusat-Daerah Mengenai pembiayaan renovasi, nilai pasti dari anggaran yang dibutuhkan masih dalam tahap perhitungan rinci. Lasarus menegaskan bahwa Pemerintah Pusat melalui Komisi V DPR RI siap berkoordinasi dan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB dalam membahas skema pembagian pendanaan. "Kami akan bertemu dengan Gubernur untuk membahas pembagian pendanaan antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTB. Yang jelas, karena NTB sudah ditetapkan sebagai tuan rumah PON, pasti akan ada jalan keluarnya," tegasnya, memberikan jaminan dukungan dari pemerintah pusat. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah ini menjadi kunci utama dalam mewujudkan persiapan PON 2028 yang optimal. Pendanaan yang terbagi dan terencana dengan baik akan memastikan bahwa proyek renovasi dapat berjalan sesuai jadwal dan anggaran yang tersedia. Tanggapan Pemerintah Provinsi NTB dan Langkah Selanjutnya Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Provinsi NTB, Lalu Kusuma Wijaya, menyambut baik kunjungan dan masukan dari Komisi V DPR RI. Ia menyatakan bahwa hasil peninjauan tersebut akan menjadi bahan diskusi penting dalam pertemuan lanjutan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. "Selanjutnya tentu akan ada usulan-usulan yang dibahas bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Komisi V DPR RI. Harapannya, apa yang disampaikan tadi bisa segera masuk dalam tahap perencanaan sehingga persiapan NTB sebagai tuan rumah PON 2028 dapat berjalan sesuai target," ujar Kusuma Wijaya. Pihaknya juga mengonfirmasi bahwa pemerintah daerah telah memiliki kajian awal mengenai kondisi GOR Turide, termasuk estimasi kebutuhan pembiayaan dan detail pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, ia menekankan bahwa semua rencana tersebut masih memerlukan pendetailan perencanaan yang lebih matang sebelum dapat dihitung secara pasti kebutuhan anggarannya. "Estimasi awal sudah ada, termasuk perkiraan pembiayaan dan pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, semuanya masih membutuhkan pendetailan perencanaan. Setelah perencanaannya selesai, baru dapat dihitung secara pasti kebutuhan anggarannya," jelasnya. Kusuma Wijaya kembali menegaskan bahwa estimasi anggaran Rp700 miliar adalah untuk revitalisasi total. Mengingat sisa waktu yang terbatas, skema revitalisasi menyeluruh memang sulit untuk direalisasikan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, prioritas akan diberikan pada renovasi yang esensial untuk venue cabang olahraga tertentu, terutama atletik, agar siap digunakan saat PON 2028. "Kalau melihat sisa waktu yang ada, revitalisasi total akan sulit dicapai. Karena itu, kemungkinan yang diprioritaskan adalah renovasi untuk venue cabang olahraga tertentu, terutama atletik, agar siap digunakan saat PON," katanya. Ia menambahkan bahwa secara fisik, bangunan GOR Turide memang sudah tua dan membutuhkan pembaruan besar. Namun, revitalisasi total kemungkinan baru dapat diwujudkan setelah PON 2028 usai, seiring dengan rencana pengembangan kawasan yang lebih luas. Implikasi Jangka Panjang dan Visi Olahraga NTB Peninjauan dan diskusi mengenai GOR Turide ini membuka diskusi yang lebih luas tentang visi olahraga NTB. Kesiapan infrastruktur yang memadai tidak hanya krusial untuk kesuksesan PON 2028, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi NTB. Dengan potensi pariwisata yang kuat, pengembangan fasilitas olahraga yang representatif dapat menjadikan NTB sebagai destinasi olahraga unggulan, menarik berbagai kejuaraan nasional dan internasional di masa depan. Pembangunan dan renovasi GOR Turide, meskipun dihadapkan pada kendala waktu dan anggaran, mencerminkan komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung perkembangan olahraga nasional. Strategi renovasi yang adaptif dan kolaborasi pendanaan yang kuat menjadi kunci keberhasilan dalam mempersiapkan NTB sebagai tuan rumah PON 2028 yang sukses dan meninggalkan warisan infrastruktur olahraga yang berkualitas. Keputusan untuk melakukan renovasi bertahap, dengan fokus pada kebutuhan mendesak PON 2028 dan revitalisasi total pasca-acara, menunjukkan pendekatan yang bijaksana dalam mengelola sumber daya dan memaksimalkan manfaat jangka panjang bagi Provinsi NTB. Post navigation Gubernur NTB Luncurkan Tim Reaksi Cepat Infrastruktur untuk Perbaikan Jalan 24 Jam Responsif Kontroversi Tiket Masuk Porprov NTB 2026: KONI NTB Tegaskan Larangan Pungutan, PSSI NTB Bungkam