PRAYA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus menunjukkan performa impresif sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), selaku pengembang dan pengelola kawasan, mengumumkan bahwa nilai investasi kumulatif di KEK Mandalika telah mencapai angka Rp 6,018 triliun hingga akhir tahun 2025. Capaian monumental ini tidak hanya merefleksikan kepercayaan investor terhadap potensi kawasan, tetapi juga telah berhasil menyerap sebanyak 26.002 tenaga kerja, menandai pertumbuhan ekosistem pariwisata terintegrasi yang signifikan dan berdampak positif pada perekonomian daerah serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Visi Strategis KEK Mandalika dan Peran ITDC KEK Mandalika didirikan dengan visi ambisius untuk menjadi destinasi pariwisata kelas dunia yang berkelanjutan, memadukan keindahan alam dengan fasilitas modern. Sebagai salah satu dari 10 Bali Baru yang dicanangkan pemerintah, Mandalika diposisikan sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi di Nusa Tenggara Barat dan ikon pariwisata nasional. ITDC, sebagai BUMN pengelola kawasan, memiliki mandat untuk mengembangkan infrastruktur dasar, menarik investasi, dan memastikan keberlanjutan operasional pariwisata di area seluas 1.034 hektar ini. Sejak awal pengembangannya, ITDC telah berupaya keras menciptakan iklim investasi yang kondusif dan lingkungan pariwisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun internasional. Direktur Operasi ITDC, Troy Waroka, dalam sebuah acara diskusi santai bersama media di Mandalika pada Jumat (23/5), menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mempercepat pengembangan kawasan. “Pertumbuhan iklim investasi dan aktivitas pariwisata di KEK Mandalika menunjukkan bahwa kami berada di jalur yang benar. Hingga akhir tahun 2025, kami mencatat investasi kumulatif Rp 6,018 triliun dan penyerapan tenaga kerja 26.002 orang. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata kontribusi kami terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Troy Waroka, yang juga menyampaikan rasa optimisme terhadap prospek masa depan kawasan. Peningkatan Kepercayaan Investor dan Diversifikasi Bisnis Salah satu indikator kuat keberhasilan KEK Mandalika adalah peningkatan jumlah pelaku usaha yang beroperasi di kawasan. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 27 pelaku usaha telah aktif menjalankan berbagai aktivitas bisnis. Sektor-sektor yang dicakup sangat beragam, mulai dari hospitality (perhotelan dan resor), lifestyle tourism (hiburan dan gaya hidup), mixed-use development (pengembangan multifungsi), utilitas kawasan, hingga pendukung motorsport ecosystem. Keberagaman ini mencerminkan strategi ITDC untuk membangun ekosistem pariwisata yang komprehensif dan terintegrasi, tidak hanya bergantung pada satu jenis daya tarik semata. Troy Waroka lebih lanjut menjelaskan bahwa kehadiran investor, baik domestik maupun internasional, telah memperkuat fondasi pengembangan kawasan. Investor-investor dari berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Spanyol, Amerika Serikat, dan Maroko telah menanamkan modalnya di Mandalika. Kehadiran investor asing ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari dunia usaha global terhadap potensi dan prospek The Mandalika sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia. “Masuknya berbagai investor menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap potensi dan prospek The Mandalika sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia. Kawasan ini mempunyai daya tarik kuat melalui konsep integrated tourism destination yang memadukan sport tourism, hospitality, area komersial, ruang terbuka hijau, serta fasilitas publik,” sebut Troy Waroka. Keberadaan sirkuit balap internasional Mandalika, yang menjadi tuan rumah ajang MotoGP dan World Superbike, telah menjadi magnet utama yang menarik perhatian global dan mendorong investasi di sektor-sektor terkait. ITDC terus berupaya memperkuat ekosistem investasi ini melalui peningkatan kualitas destinasi, pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan, serta penyediaan utilitas kawasan yang memadai. Langkah-langkah ini krusial untuk memastikan Mandalika tidak hanya menarik investasi awal, tetapi juga mampu mempertahankan dan mengembangkan investasi jangka panjang, serta mendukung keberlanjutan operasional seluruh pelaku usaha. Tren Positif Sektor Pariwisata: Kunjungan, Lama Tinggal, dan Okupansi Hotel Selain pertumbuhan investasi, aktivitas pariwisata di The Mandalika juga menunjukkan tren yang sangat positif. Data terbaru mengungkapkan bahwa pada periode Januari hingga April 2026, total kunjungan wisatawan ke kawasan mencapai 285.003 pengunjung. Angka ini menandakan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, menunjukkan daya tarik Mandalika yang semakin kuat di mata wisatawan. Yang lebih menggembirakan adalah peningkatan rata-rata lama tinggal (length of stay) wisatawan. Pada periode yang sama, rata-rata lama tinggal wisatawan meningkat menjadi 2,33 hari, naik dari 1,96 hari pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini adalah indikator penting keberhasilan pengembangan destinasi, karena wisatawan yang tinggal lebih lama cenderung menghabiskan lebih banyak uang untuk akomodasi, makanan, minuman, belanja, dan aktivitas lainnya. Hal ini secara langsung memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta sektor hospitality di sekitar kawasan. Bersamaan dengan itu, rata-rata okupansi hotel di kawasan Mandalika juga menunjukkan tren positif, meningkat menjadi 44,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 41,55 persen. Meskipun masih ada ruang untuk pertumbuhan lebih lanjut, peningkatan okupansi ini menunjukkan bahwa hotel-hotel di Mandalika semakin diminati, terutama dengan adanya berbagai acara dan atraksi yang diselenggarakan secara berkala. “Peningkatan length of stay dan okupansi menunjukkan wisatawan mulai menjadikan The Mandalika sebagai destinasi dengan durasi tinggal yang lebih panjang. Kondisi ini memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal, UMKM, dan sektor hospitality di sekitar kawasan,” tambah Troy. Peningkatan Konektivitas Udara sebagai Katalis Pertumbuhan Penguatan aktivitas pariwisata di The Mandalika tidak dapat dilepaskan dari peningkatan konektivitas udara menuju Lombok. Data dari InJourney Airports, anak perusahaan dari BUMN holding pariwisata InJourney yang membawahi pengelolaan bandara, menunjukkan pertumbuhan yang substansial. Total jumlah penumpang di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pada periode Januari hingga April 2026 mencapai 850.319 penumpang. Angka ini meningkat sekitar 18,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tidak hanya jumlah penumpang, total pergerakan pesawat juga tumbuh pesat sekitar 35,3 persen dibandingkan tahun 2025. Peningkatan frekuensi penerbangan dan kapasitas kursi ini sangat krusial dalam memfasilitasi arus wisatawan menuju Lombok dan Mandalika. Saat ini, berbagai maskapai nasional dan internasional, termasuk Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, dan Scoot, melayani 11 rute domestik dan 2 rute internasional menuju Lombok. Rute domestik mencakup kota-kota besar di Indonesia, sementara rute internasional membuka akses langsung dari pasar-pasar penting di Asia. Peningkatan konektivitas ini adalah hasil dari upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, ITDC, InJourney, dan maskapai penerbangan untuk menjadikan Lombok lebih mudah dijangkau oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Dampak Sosial Ekonomi dan Implikasi Lebih Luas Pembangunan KEK Mandalika bukan hanya tentang investasi besar dan peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga tentang dampak sosial-ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal. Penyerapan 26.002 tenaga kerja mencakup berbagai sektor, mulai dari konstruksi, perhotelan, jasa pariwisata, hingga UMKM pendukung. Ini berarti ribuan keluarga di sekitar Mandalika mendapatkan penghasilan dan peningkatan kualitas hidup. Program-program pemberdayaan UMKM lokal juga menjadi fokus ITDC, memastikan bahwa masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam pengembangan pariwisata. Produk-produk lokal, kerajinan tangan, dan kuliner khas Lombok mendapatkan pasar yang lebih luas berkat kehadiran wisatawan. Secara nasional, KEK Mandalika memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi pariwisata terkemuka di dunia. Keberhasilan Mandalika menarik investasi asing dan meningkatkan kunjungan wisatawan memberikan sinyal positif kepada investor global bahwa Indonesia adalah tujuan investasi yang menarik dan aman. Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendiversifikasi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada satu wilayah saja. Tantangan dan Prospek Masa Depan Meskipun pencapaian yang telah diraih sangat membanggakan, pengembangan KEK Mandalika tentu tidak lepas dari tantangan. Keberlanjutan lingkungan, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan menjadi aspek-aspek yang terus menjadi perhatian ITDC. Menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya serta lingkungan adalah kunci utama untuk memastikan kesuksesan jangka panjang Mandalika. Ke depan, ITDC berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas infrastruktur, mengembangkan lebih banyak atraksi dan fasilitas pariwisata, serta memperluas jaringan konektivitas. Fokus juga akan diberikan pada pengembangan pariwisata berkelanjutan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal dan menjaga kelestarian alam Lombok yang memukau. Dengan landasan investasi yang kuat dan tren pariwisata yang positif, KEK Mandalika siap untuk terus berkembang menjadi ikon pariwisata global yang membanggakan Indonesia. Melalui sinergi antara pemerintah, BUMN seperti ITDC dan InJourney, serta seluruh pemangku kepentingan, Mandalika diproyeksikan akan terus menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Indonesia di masa mendatang. Post navigation Polres Lombok Tengah Dalami Kasus Perundungan Berujung Pembakaran di Pondok Pesantren Batukliang: Satu Santri Tewas, Desakan Keadilan Menguat Misteri Kematian Nadya Mahasiswi Unram Terus Menyelimuti, Penantian Hasil Puslabfor Menjadi Kunci Utama