Selong, Lombok Timur – Sebuah inisiatif vital yang mengusung tema "Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Pertanian Pekarangan Rumah" kini tengah digulirkan di Dusun Dasan Tinggi, Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Program pengabdian masyarakat ini digagas oleh tim dosen dan mahasiswa STMIK Lombok dengan tujuan mulia untuk membangun kemandirian pangan di tingkat keluarga, khususnya bagi para ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung perekonomian informal. Program ini bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan sebuah upaya sistematis yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Reguler.

Latar Belakang dan Urgensi Program

Kondisi ekonomi di Dusun Dasan Tinggi, seperti banyak wilayah pedesaan lainnya, masih dihadapkan pada kerentanan yang signifikan. Kepala Dusun Dasan Tinggi, Hapni, mengungkapkan bahwa dari total 212 Kepala Keluarga (KK) yang ada, sebagian besar terdaftar sebagai penerima bantuan sosial, termasuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Data ini mengindikasikan adanya tantangan ekonomi yang nyata, yang secara langsung berdampak pada ketahanan pangan keluarga. Survei lapangan lebih lanjut menunjukkan bahwa pengeluaran harian untuk kebutuhan pangan pokok, seperti sayur dan lauk, rata-rata berkisar antara Rp25.000 hingga Rp100.000 per hari. Angka ini menjadi beban yang cukup berat, mengingat pendapatan suami yang mayoritas berprofesi sebagai buruh tani sangat tidak menentu dan sangat bergantung pada siklus musim tanam.

Permasalahan semakin kompleks dengan minimnya literasi keuangan di kalangan ibu rumah tangga. Kondisi ini seringkali membuat alokasi pendapatan yang terbatas menjadi kurang optimal, bahkan rentan terhadap godaan pinjaman konsumtif yang berbunga tinggi. Keadaan ini mendorong STMIK Lombok untuk merancang sebuah program yang tidak hanya fokus pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi dan pengelolaan keuangan keluarga secara cerdas.

"Kami prihatin melihat potensi pekarangan rumah yang belum tergarap optimal, sementara di sisi lain, banyak keluarga yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pangan pokoknya. Melalui program ini, kami ingin mengubah pekarangan kosong menjadi sumber pangan yang produktif, yang pada akhirnya dapat menekan pengeluaran keluarga sekaligus meningkatkan kualitas gizi rumah tangga," ujar Mardi, Ketua Tim Pengabdian STMIK Lombok, saat menjelaskan motivasi di balik program ini pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Kronologi Pelaksanaan Program

Program "Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Pertanian Pekarangan Rumah" ini merupakan hasil dari proposal pengabdian masyarakat yang diajukan pada tahun 2025 dan mulai direalisasikan pelaksanaannya pada tahun 2026. Pelatihan intensif bagi puluhan ibu rumah tangga di Dusun Dasan Tinggi telah dilaksanakan selama periode Mei hingga Juni 2026. Rangkaian kegiatan pelatihan ini dirancang secara komprehensif, mencakup empat tema utama yang dipilih berdasarkan hasil identifikasi mendalam terhadap kebutuhan mitra sasaran melalui survei lapangan dan wawancara langsung dengan perangkat desa serta warga setempat.

Keempat pilar pelatihan tersebut adalah:

  1. Manajemen Keuangan Keluarga: Fokus pada pencatatan keuangan sederhana, penyusunan anggaran prioritas, pemahaman potensi penghematan, serta kesadaran akan risiko utang konsumtif dan pentingnya menabung.
  2. Budidaya Sayuran Pekarangan: Memberikan keterampilan praktis dalam menanam sayuran menggunakan metode polybag dan vertikultur, memanfaatkan lahan terbatas secara maksimal.
  3. Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos: Mengajarkan teknik pembuatan kompos, seperti metode Takakura yang mudah dan murah, untuk menghasilkan pupuk organik berkualitas dari limbah rumah tangga.
  4. Kewirausahaan Mikro Berbasis Rumah Tangga: Membekali peserta dengan pengetahuan dasar untuk mengembangkan potensi ekonomi dari hasil kebun pekarangan mereka.

Pendekatan Pembelajaran yang Inovatif dan Partisipatif

Pendekatan "learning by doing" menjadi ciri khas utama dalam pelaksanaan program ini. Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi diajak untuk terlibat aktif dalam setiap tahapan praktik. Mardi menjelaskan, "Pelatihan kami lakukan secara partisipatif dan aplikatif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga melakukan praktik langsung, mulai dari menanam bibit di polybag, memasang sistem vertikultur sederhana dari bahan bekas, hingga membuat kompos dengan metode Takakura yang mudah dan murah. Kami ingin memastikan bahwa setiap peserta benar-benar mampu mempraktikkan ilmu yang telah diberikan."

Metode ini terbukti efektif dalam membangun kepercayaan diri dan kapasitas para ibu rumah tangga. Menah, salah satu peserta yang mengaku sangat antusias, berbagi pengalamannya, "Saya baru sadar selama ini pekarangan saya sia-sia. Setelah pelatihan, saya bisa menanam sayuran sendiri dan hasilnya langsung saya konsumsi. Uang belanja jadi bisa dihemat." Pernyataannya ini mencerminkan perubahan paradigma yang mulai terjadi di kalangan peserta, dari melihat pekarangan sebagai area kosong menjadi aset produktif.

Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan

Tim pengabdian STMIK Lombok tidak berhenti pada tahap pelatihan. Mereka secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi setiap dua minggu sekali selama masa pendampingan. Kegiatan ini mencakup pengecekan pertumbuhan tanaman, evaluasi catatan keuangan peserta, serta pendampingan teknis budidaya dan pengomposan. Pendekatan intensif ini bertujuan untuk memastikan keberhasilan teknis di lapangan, membangun rasa percaya diri ibu-ibu dalam mengelola pekarangan dan keuangan keluarga secara mandiri, serta menciptakan ruang bagi berbagi pengalaman dan pemecahan masalah yang dihadapi di lapangan.

Dosen STMIK Lombok Bina Ibu-Ibu Rumah Tangga Optimalkan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga

Dampak Awal dan Proyeksi Ke Depan

Hasil sementara dari program ini menunjukkan perkembangan positif yang signifikan. Rata-rata peserta kini telah mampu membuat pencatatan keuangan sederhana dan telah mempraktikkan budidaya sayuran di pekarangan masing-masing. Beberapa peserta bahkan sudah mulai menikmati hasil panen perdana, merasakan langsung manfaat ekonomi dari kegiatan berkebun.

Secara kuantitatif, jika program ini berhasil dioptimalkan, setiap keluarga diproyeksikan dapat menghemat pengeluaran belanja sayuran hingga 30-50 persen setiap bulannya. Penghematan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan keluarga dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada utang yang tidak sehat.

"Saya berharap program ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi keluarga. Ibu-ibu yang dulu tidak produktif kini mulai memiliki aktivitas dan keterampilan baru yang bermanfaat. Mereka menjadi lebih percaya diri karena mampu berkontribusi secara nyata terhadap perekonomian keluarga," tambah Mardi.

Pembentukan Kelompok Ibu Rumah Tangga Produktif dan Ekosistem Pemberdayaan Berkelanjutan

Lebih jauh lagi, kesuksesan program ini tidak hanya berhenti pada aspek teknis. Tim pelaksana, bersama dengan perwakilan Pemerintah Desa Sambelia, khususnya Kepala Dusun Dasan Tinggi, berencana membentuk sebuah kelompok ibu rumah tangga produktif. Kelompok ini akan menjadi motor penggerak dalam pengembangan pertanian pekarangan dan manajemen keuangan keluarga di wilayah tersebut.

Kelompok ini akan berfungsi sebagai wadah untuk:

  • Bertukar pengalaman: Memfasilitasi ibu-ibu untuk berbagi praktik terbaik dan tantangan dalam berkebun dan mengelola keuangan.
  • Berbagi bibit dan hasil panen: Menciptakan sistem saling bantu dalam penyediaan bibit unggul dan distribusi hasil panen.
  • Mengembangkan usaha bersama: Potensi untuk mengembangkan unit usaha mikro berbasis produk olahan sayuran atau kompos di masa mendatang.

"Kelompok ini difokuskan pada pengelolaan kebun pekarangan, pengolahan kompos, serta penguatan literasi keuangan. Kami ingin menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan, di mana para ibu tidak hanya menerima manfaat selama program berlangsung, tetapi juga mampu melanjutkan dan mengembangkan sendiri kegiatan ini setelah program selesai," jelas Mardi.

Sinergi yang kuat antara perguruan tinggi (STMIK Lombok), masyarakat Dusun Dasan Tinggi, dan pemerintah desa menciptakan sebuah ekosistem pemberdayaan yang adaptif terhadap kebutuhan lokal dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Melalui pendekatan community empowerment, ibu-ibu rumah tangga tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat, melainkan telah bertransformasi menjadi agen perubahan dalam upaya penguatan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.

Harapan dan Replikasi Model Pemberdayaan

Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di dusun-dusun lain di Kabupaten Lombok Timur, mengingat potensi lahan pekarangan yang masih sangat besar untuk dioptimalkan di wilayah tersebut.

Tujuan akhir yang diusung sangat ambisius namun realistis: mencetak keluarga yang mandiri secara pangan dan keuangan, serta secara signifikan mengurangi angka migrasi kerja perempuan yang seringkali disebabkan oleh tekanan ekonomi. "Kami ingin ibu-ibu di Dusun Dasan Tinggi tidak perlu lagi meninggalkan anak dan keluarga hanya karena terdesak utang. Dengan pekarangan yang produktif dan pengelolaan keuangan yang baik, mereka bisa tetap di rumah, merawat anak, sekaligus berkontribusi pada perekonomian keluarga," pungkas Mardi, menegaskan visi besar di balik inisiatif ini.

Program pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Dengan dukungan berkelanjutan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemendikbudristek, program semacam ini memiliki potensi besar untuk mendukung pencapaian target pembangunan nasional, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga di seluruh Indonesia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *