GIRI MENANG – Dalam sebuah langkah proaktif untuk membentengi warisan budaya dari gerusan modernisasi, Yayasan Hikayat Sasak Lombok sukses menggelar Lomba Bekayat se-Pulau Lombok. Acara bergengsi yang berlangsung selama dua hari penuh, dari tanggal 28 hingga 29 Agustus 2026, di Masjid Baiturrahman Pelulan, Desa Kuripan Utara, Kabupaten Lombok Barat, ini menjadi panggung bagi para penutur hikayat tradisional untuk menampilkan kepiawaian mereka sekaligus menegaskan komitmen pelestarian seni tutur yang kaya nilai. Inisiatif ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah deklarasi bahwa budaya Sasak, khususnya seni Bekayat, akan terus hidup dan berkembang melintasi generasi.

Bekayat: Jantung Budaya dan Spiritualitas Suku Sasak

Untuk memahami signifikansi lomba ini, penting untuk menyelami lebih dalam apa itu Bekayat. Bekayat adalah salah satu bentuk seni pertunjukan sastra lisan tradisional suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang sarat akan nilai-nilai historis, filosofis, dan religius. Berbeda dengan sekadar bercerita, Bekayat merupakan seni bertutur yang dibacakan atau dinyanyikan dengan irama tertentu, seringkali diiringi musik sederhana, dan menyampaikan isi dari naskah-naskah kuno yang disebut "Lontar" atau "Jatilan". Naskah-naskah ini umumnya ditulis dalam aksara Sasak kuno atau aksara Jawa-Lombok (Jawa Kuno dengan sentuhan lokal) dan berbahasa Kawi atau Jawa Kuno, dengan beberapa bagian yang menggunakan bahasa Melayu klasik.

Secara historis, Bekayat memegang peranan krusial dalam masyarakat Sasak sebagai media pendidikan moral, penyebaran syiar Islam, dan transmisi pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebelum era literasi massal, Bekayat adalah "perpustakaan berjalan" yang menghidupkan kisah-kisah kepahlawanan, ajaran agama, nasihat hidup, silsilah raja-raja, hingga cerita rakyat yang membentuk identitas kolektif. Para penutur Bekayat, atau yang dikenal sebagai pembekayat, adalah figur-figur yang dihormati dalam masyarakat karena kemampuan mereka tidak hanya membaca dan menafsirkan naskah kuno, tetapi juga menghayatinya dalam sebuah pertunjukan yang memukau. Kisah-kisah yang dibawakan meliputi epos Ramayana dan Mahabharata versi lokal, hikayat para wali dan penyebar Islam di Nusantara, serta cerita-cerita tentang kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak.

Struktur pertunjukan Bekayat umumnya melibatkan tiga peran utama yang saling melengkapi:

  1. Penyair (Pembaca Tembang): Bertugas membaca atau melantunkan naskah kuno dalam tembang yang seringkali berparas Melayu atau Jawa Kuno. Peran ini membutuhkan kemampuan vokal, pemahaman irama, dan penghayatan yang mendalam terhadap teks.
  2. Pujangga (Penerjemah): Berperan sebagai jembatan komunikasi antara teks kuno dan audiens. Pujangga menerjemahkan secara langsung dan spontan isi tembang yang dilantunkan Penyair ke dalam bahasa Sasak murni, memastikan bahwa pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat dapat dipahami sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Keterampilan Pujangga sangat vital karena ia harus mampu menafsirkan nuansa bahasa kuno ke dalam konteks lokal tanpa kehilangan esensi.
  3. Penyaruk (Pengiring/Penyelaras Lagu): Bertugas mengiringi dan menyelaraskan lagu atau tembang yang dibawakan Penyair, seringkali dengan alat musik tradisional sederhana seperti rebana atau alat petik lokal, atau bahkan hanya dengan tepukan tangan dan vokal. Penyaruk juga dapat memberikan sautan atau penimpang (interjeksi atau komentar singkat) untuk menambah dinamika pertunjukan, meskipun dalam lomba ini penggunaannya dibatasi untuk menjaga fokus pada hikayat.

Ancaman Kepunahan dan Urgensi Pelestarian

Di era digital yang serbacepat ini, seni Bekayat menghadapi tantangan eksistensial yang serius. Gempuran budaya populer, akses mudah terhadap hiburan modern, dan kurangnya minat generasi muda terhadap tradisi lisan menjadi ancaman nyata. Banyak pembekayat senior yang kian menua, sementara regenerasi terhambat oleh kompleksitas mempelajari bahasa kuno dan teknik bertutur yang tidak mudah. Jika tidak ada upaya serius, bukan tidak mungkin Bekayat akan tergerus dan hanya menjadi catatan sejarah.

Inilah mengapa Lomba Bekayat yang diinisiasi oleh Yayasan Hikayat Sasak Lombok, bekerja sama dengan berbagai lembaga terkait seperti Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) dan pemerintah desa setempat, memiliki makna yang sangat mendalam. Ketua Panitia, Muhammad Hirsan, menegaskan bahwa lomba ini adalah "salah satu upaya melestarikan warisan tradisi dan memperkuat syiar Islam di Gumi Sasak yang terus digelorakan." Pernyataan ini menggarisbawahi dualisme tujuan: melestarikan budaya sekaligus meneguhkan nilai-nilai keislaman yang terintegrasi kuat dalam tradisi Sasak. Bekayat, dengan segala hikayatnya yang kaya akan ajaran moral dan etika Islam, menjadi media yang efektif untuk memperkuat karakter masyarakat di tengah arus globalisasi.

Kronologi dan Pelaksanaan Lomba Bekayat 2026

Persiapan Lomba Bekayat se-Pulau Lombok telah dimulai jauh hari sebelumnya, melibatkan koordinasi intensif antara Yayasan Hikayat Sasak Lombok dengan para tokoh adat, budayawan, dan perangkat desa. Pengumuman lomba disebarluaskan ke seluruh pelosok Lombok, menyasar komunitas-komunitas yang masih aktif melestarikan seni Bekayat, termasuk para guru ngaji, tokoh agama, dan seniman lokal. Target utama adalah mengidentifikasi dan memotivasi para penutur Bekayat dari berbagai wilayah untuk berpartisipasi.

Pada akhirnya, dari total tujuh tim yang terdaftar, empat tim berhasil hadir dan bertanding secara langsung di lokasi acara. Meskipun jumlah peserta yang berkompetisi sedikit di bawah ekspektasi awal, kehadiran empat tim ini sudah cukup membuktikan adanya dedikasi dan semangat tinggi untuk menjaga tradisi. Suasana di Masjid Baiturrahman Pelulan selama dua hari kompetisi sangat hidup. Aroma kemenyan dan lantunan tembang Bekayat memenuhi udara, menciptakan atmosfer sakral sekaligus meriah. Para penonton, yang terdiri dari masyarakat umum, tokoh adat, tokoh agama, dan perwakilan pemerintah daerah, memadati area masjid, menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Setiap penampilan disaksikan dengan seksama, dengan sesekali terdengar gumaman kagum atau tepuk tangan apresiasi.

Para dewan juri, yang terdiri dari budayawan, ahli bahasa Sasak, dan ulama yang memahami betul seluk-beluk Bekayat, bekerja keras menilai setiap penampilan. Mereka adalah sosok-sosok yang memiliki otoritas dan integritas tinggi dalam dunia Bekayat, memastikan objektivitas dan kualitas penilaian.

Yayasan Hikayat Sasak Lombok Gelar Lomba Bekayat

Kriteria Penilaian: Menjaga Kemurnian Tradisi

Panitia dan dewan juri menerapkan kriteria penilaian yang ketat dan terperinci, bukan semata-mata untuk menentukan pemenang, tetapi juga untuk menjaga kemurnian dan autentisitas seni Bekayat itu sendiri. Kriteria ini dirancang untuk memastikan bahwa tradisi Bekayat dilestarikan sesuai dengan kaidah aslinya, menghindari modernisasi yang berlebihan yang dapat mengikis esensinya. Tiga pilar utama penilaian meliputi:

  1. Penerjemahan Bahasa: Ini adalah aspek krusial. Pembacaan hikayat yang disampaikan dalam tembang berparas Melayu atau Jawa Kuno wajib diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Sasak murni, tanpa sedikit pun dicampur dengan bahasa Indonesia. Kriteria ini sangat penting karena bahasa Sasak adalah identitas utama suku Sasak. Penggunaan bahasa Indonesia dalam terjemahan dapat mengurangi nilai lokalitas dan autentisitas. Penilaian ini juga mencakup ketepatan interpretasi, kejelasan artikulasi, dan kekayaan kosakata Sasak yang digunakan oleh Pujangga.
  2. Etika dan Adab: Aspek ini mencakup tata cara berbusana yang sopan dan sesuai tradisi, serta keselarasan peran dalam tim. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang (Penyair, Pujangga, dan Penyaruk) yang harus menunjukkan kerja sama tim yang solid dan saling melengkapi. Etika panggung, ekspresi, gestur, dan interaksi antaranggota tim menjadi bagian dari penilaian. Hal ini mencerminkan pandangan masyarakat Sasak bahwa seni tidak hanya tentang keterampilan, tetapi juga tentang penghormatan terhadap nilai-nilai luhur dan kesantunan.
  3. Ketepatan Porsi Terjemahan: Penilaian ini melarang adanya improvisasi berlebihan yang bisa mengaburkan makna asli hikayat. Porsi kalimat yang dibaca oleh Penyair harus seimbang dengan kalimat yang diterjemahkan oleh Pujangga. Selain itu, penggunaan penimpang (sautan atau interjeksi) oleh Penyaruk harus dibatasi agar tidak keluar dari konteks cerita. Keseimbangan ini penting untuk memastikan bahwa pesan asli hikayat tersampaikan dengan utuh dan tidak terdistorsi oleh interpretasi atau tambahan yang tidak relevan. Penimpang yang berlebihan dapat mengganggu alur cerita dan mengurangi fokus pada esensi hikayat.

Para Pemenang: Bakat dan Dedikasi yang Diakui

Setelah melalui proses penilaian yang cermat, dewan juri mengumumkan para pemenang yang telah menunjukkan dedikasi dan keterampilan luar biasa dalam melestarikan Bekayat.

  • Juara 1: Diraih oleh utusan dari Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya. Tim ini diperkuat oleh Ustadz H. Ilham Zaki sebagai penerjemah (Pujangga), Ustadz Zaenal Abidin sebagai pembaca (Penyair), dan Abdullah sebagai penyarup. Kemenangan ini menunjukkan kombinasi sempurna antara pemahaman mendalam terhadap naskah, kemampuan penerjemahan yang fasih, dan harmoni dalam penyampaian.
  • Juara 2: Dimenangkan oleh perwakilan dari Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan. Tim ini diisi oleh H. Burhanudin sebagai penerjemah, Ustadz Sriaman sebagai pembaca, dan Sanusi sebagai penyarup. Penampilan mereka juga memukau dengan kekayaan narasi dan interpretasi yang kuat.
  • Juara 3: Diraih oleh Grup "Nemu Pusaka" dari Desa Jeringo. Tim ini terdiri dari Saparman, Lalu Mujib, dan Lalu Ahmad Shauta Azyan. Meskipun di posisi ketiga, penampilan mereka tetap diapresiasi karena semangat dan upaya mereka dalam menghidupkan kembali hikayat.

Selain itu, sebuah pengakuan khusus diberikan kepada Ustadz Zaenal Abidin yang berasal dari Mareje. Berkat penampilannya yang memukau sebagai Penyair (Pembaca Tembang) dari tim Desa Batu Jangkih, ia dinobatkan sebagai Pembaca Terbaik. Penilaian mutlak dari seluruh dewan juri serta apresiasi tinggi dari para penonton menjadi bukti nyata akan karisma, penghayatan, dan kemampuan vokal Ustadz Zaenal Abidin yang luar biasa. Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi lebih banyak individu untuk mendalami peran sebagai Penyair dalam seni Bekayat.

Langkah Strategis ke Depan: Edukasi dan Internasionalisasi

Keberhasilan lomba ini bukan hanya sebuah akhir, melainkan sebuah permulaan. Muhammad Hirsan mengungkapkan visi jangka panjang Yayasan Hikayat Sasak Lombok: "Lomba ini menjadi pemantik awal. Sebagai tindak lanjut, akan diadakan kursus bekayat di setiap desa melalui jaringan PPDI dan perangkat desa setempat bagi masyarakat yang ingin mempelajari tradisi ini."

Rencana kursus Bekayat di tingkat desa ini merupakan strategi yang sangat cerdas. Dengan memanfaatkan jaringan PPDI (Persatuan Perangkat Desa Indonesia) dan dukungan pemerintah desa, akses pendidikan Bekayat akan menjadi lebih merata dan terjangkau. Kursus ini diharapkan dapat menjaring generasi muda, memperkenalkan mereka pada kekayaan sastra lisan Sasak, dan melatih mereka untuk menjadi pembekayat masa depan. Kurikulum kursus kemungkinan akan mencakup pengenalan aksara Sasak, teknik membaca tembang, keterampilan penerjemahan, serta etika dan adab dalam ber-Bekayat. Ini adalah investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan tradisi.

Namun, ambisi Yayasan Hikayat Sasak Lombok tidak berhenti di tingkat lokal. Ada misi yang lebih besar untuk mengangkat Bekayat ke panggung global. "Ke depan, karya hikayat ini direncanakan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris guna mengenalkan budaya Sasak ke tingkat internasional," ujar Hirsan. Ide ini sangat visioner. Menerjemahkan hikayat-hikayat Sasak ke dalam bahasa Inggris akan membuka pintu bagi para akademisi, peneliti budaya, wisatawan, dan masyarakat internasional untuk memahami kedalaman filosofi dan keindahan sastra lisan Lombok.

Proses penerjemahan ini tentu tidak mudah. Dibutuhkan tim penerjemah yang tidak hanya mahir dalam bahasa Inggris, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang konteks budaya Sasak, nuansa bahasa kuno, dan makna spiritual yang terkandung dalam setiap hikayat. Potensi manfaatnya sangat besar:

  • Promosi Pariwisata Budaya: Hikayat yang diterjemahkan dapat menjadi daya tarik unik bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya otentik.
  • Pengakuan Akademis: Karya-karya ini dapat menarik perhatian universitas dan institusi penelitian di seluruh dunia, mendorong studi lebih lanjut tentang sastra lisan Nusantara.
  • Diplomasi Budaya: Mengenalkan Bekayat ke dunia internasional dapat memperkaya citra Indonesia sebagai negara yang kaya akan warisan budaya adiluhung.
  • Kebanggaan Lokal: Pengakuan global akan meningkatkan kebanggaan masyarakat Sasak terhadap budaya mereka sendiri.

Implikasi Lebih Luas: Penguatan Identitas dan Promosi Budaya

Lomba Bekayat 2026 dan rencana tindak lanjutnya memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar sebuah kompetisi. Ini adalah bagian integral dari upaya kolektif untuk:

  1. Penguatan Identitas Budaya: Di tengah arus globalisasi yang cenderung menyeragamkan, upaya melestarikan Bekayat adalah langkah vital untuk menjaga identitas khas suku Sasak. Ini mengingatkan generasi muda tentang akar budaya mereka, nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur, dan keunikan yang membedakan mereka dari budaya lain.
  2. Pewarisan Nilai-nilai Islam: Banyak hikayat Sasak yang mengandung ajaran Islam, etika moral, dan kisah-kisah teladan. Dengan melestarikan Bekayat, Yayasan Hikayat Sasak Lombok secara tidak langsung turut serta dalam syiar Islam melalui jalur budaya, menjadikannya relevan dan menarik bagi generasi muda.
  3. Pengembangan Sumber Daya Manusia: Program kursus Bekayat di desa-desa akan menciptakan generasi baru pembekayat yang terampil, memastikan bahwa tradisi ini tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang. Ini juga dapat membuka peluang bagi mereka yang menguasai Bekayat untuk menjadi pengajar atau pegiat budaya.
  4. Kontribusi terhadap Pariwisata Berkelanjutan: Lombok dikenal dengan keindahan alamnya. Dengan memperkuat dan mempromosikan Bekayat, Lombok dapat menambahkan dimensi budaya yang kaya pada penawaran pariwisatanya, menarik wisatawan yang mencari pengalaman lebih dari sekadar pantai dan gunung. Ini mendukung pariwisata berkelanjutan yang menghargai dan melestarikan budaya lokal.
  5. Memperkaya Khazanah Budaya Nasional: Bekayat adalah salah satu permata dalam mozaik budaya Indonesia yang begitu beragam. Upaya pelestariannya berkontribusi pada pengayaan khazanah budaya nasional dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam melestarikan tradisi lisan mereka.

Melalui kegiatan yang inspiratif ini, budaya Islam Sasak diharapkan terus hidup, menjadi kebanggaan lintas generasi, dan membawa nilai-nilai kebaikan dari Lombok ke kancah internasional. Lomba Bekayat 2026 adalah bukti nyata bahwa dengan semangat kolaborasi dan visi yang kuat, warisan leluhur dapat dijaga, dikembangkan, dan bahkan diperkenalkan ke seluruh penjuru dunia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *