Pemasangan baliho ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan yang menampilkan wajah Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, H. Rachmat Hidayat, bersama Hj. Putu Selly Andayani di berbagai titik strategis wilayah Bumi Gora, Nusa Tenggara Barat, telah memicu diskursus publik yang menarik. Fenomena visual ini tidak sekadar dipandang sebagai ucapan seremonial semata, melainkan dibaca oleh para pengamat sebagai langkah komunikasi politik yang terukur, inklusif, dan sarat akan pesan ideologis partai nasionalis di tengah masyarakat yang majemuk.

Sejak memasuki pertengahan Februari 2026, wajah Rachmat Hidayat dan Putu Selly Andayani mulai mendominasi ruang publik di pusat-pusat keramaian Kota Mataram dan beberapa kabupaten lainnya di NTB. Penggunaan baliho sebagai media komunikasi massa memang bukan hal baru dalam konstelasi politik lokal. Namun, pemilihan momentum Ramadan—bulan yang secara kultural sangat sakral bagi mayoritas masyarakat NTB—memberikan dimensi baru pada strategi pengenalan figur yang dilakukan oleh pasangan ini.

Analisis dari Perspektif Komunikasi Politik dan Sosiokultural

Dr. Agus, M.Si., seorang pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, menyatakan bahwa kehadiran baliho tersebut merupakan manifestasi dari strategi politik yang berpijak pada nilai-nilai sosiokultural. Menurutnya, Ramadan di Indonesia, khususnya di NTB, telah bertransformasi menjadi peristiwa sosial yang melampaui batas-batas ritual ibadah individual.

"Dalam perspektif komunikasi politik, baliho ini adalah medium yang sarat akan makna sosial. PDIP, sebagai partai kader, menunjukkan watak ideologisnya yang menempatkan konsistensi dan gagasan sebagai fondasi. Menggunakan momentum Ramadan adalah langkah cerdas karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang merangkul dan mudah diterima oleh masyarakat yang religius," ujar Agus.

Lebih jauh, Agus menekankan bahwa pola komunikasi yang dibangun Rachmat Hidayat mencerminkan ajaran Soekarno tentang pentingnya pemimpin untuk menjadi penyambung aspirasi rakyat. Seorang pemimpin nasionalis, dalam pandangan tersebut, tidak boleh memaksakan simbol-simbol yang asing, melainkan harus mampu melebur ke dalam jiwa masyarakatnya. Tindakan Rachmat yang secara rutin memberikan perhatian pada hari besar keagamaan—baik Islam maupun agama lainnya—dianggap sebagai praktik nyata dari nilai pluralisme yang dianut oleh PDIP di NTB.

Kontekstualisasi Sejarah dan Ideologi Nasionalisme

Untuk memahami mengapa langkah Rachmat Hidayat dianggap penting, kita perlu menilik latar belakang keterlibatan PDIP di NTB. Sebagai partai yang memiliki basis massa terstruktur, PDIP NTB di bawah kepemimpinan Rachmat Hidayat dikenal memiliki konsistensi dalam menjaga eksistensi kader di tengah masyarakat.

Strategi ini bukan sekadar persiapan jangka pendek menuju kontestasi elektoral 2029. Sejarah menunjukkan bahwa politik elektoral yang berhasil di Indonesia sering kali dipengaruhi oleh tingkat pengenalan (awareness) dan kesukaan (likability) yang dibangun jauh hari sebelum pemungutan suara. Dengan terus hadir di ruang publik, Rachmat Hidayat sedang melakukan investasi sosial yang berkelanjutan.

Ajaran Bung Karno mengenai kemanusiaan dan keadilan sosial menjadi benang merah yang ditarik oleh Rachmat dalam merespons fenomena baliho ini. Ia menegaskan bahwa nasionalisme dan agama tidak pernah bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi; agama memberikan arah moral bagi individu, sementara nasionalisme menjadi ruang bersama bagi keberagaman etnis dan keyakinan yang ada di Indonesia.

Dimensi Kebersamaan: Peran Hj. Putu Selly Andayani

Rachmat Hidayat dan Selly Andayani Sampaikan Pesan Keberagaman Lewat Baliho Ramadan 

Kehadiran Hj. Putu Selly Andayani dalam baliho tersebut memberikan tambahan warna pada narasi komunikasi yang dibangun. Selly, yang memiliki rekam jejak sebagai kandidat Wali Kota Mataram pada Pilkada 2020, dipandang oleh publik sebagai figur yang memiliki modal sosial kuat.

Bagi kalangan pengamat, pelibatan Selly bukan sekadar upaya personal branding, melainkan bagian dari strategi partai untuk mengoptimalkan figur-figur potensial yang dimiliki. Dalam tradisi partai kader, memperkenalkan figur yang memiliki basis pendukung loyal dan rekam jejak birokrasi maupun politik merupakan langkah strategis untuk memperkuat penetrasi di wilayah perkotaan seperti Mataram.

Dinamika Politik Menuju 2029

Meskipun saat ini Indonesia masih berada dalam siklus pasca-pemilu, pergerakan di lapangan menunjukkan bahwa mesin politik partai-partai besar tidak pernah benar-benar berhenti. Pengamat menilai bahwa pemilu 2029 tidak akan datang secara tiba-tiba, sehingga konsistensi kehadiran menjadi kunci utama.

Jika dirunut dari kronologi keterlibatan politik Rachmat Hidayat, ia konsisten menggunakan pendekatan humanis dalam setiap komunikasi publiknya. Ia tidak hanya muncul saat ada agenda elektoral, melainkan hadir melalui program-program sosial yang menyentuh akar rumput. Baliho Ramadan ini menjadi salah satu penanda bahwa ia ingin mempertahankan citra sebagai sosok yang moderat, inklusif, dan dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Tanggapan Resmi dan Visi Kemanusiaan

Menanggapi berbagai spekulasi mengenai tujuan pemasangan baliho tersebut, Rachmat Hidayat memberikan penegasan bahwa motivasi utamanya adalah penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan. "Ramadan adalah bulan empati dan kesabaran. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan semangat perjuangan untuk kemanusiaan yang lebih luas," ungkap Rachmat.

Ia bahkan mengaitkan semangat Ramadan dengan isu geopolitik global, merujuk pada pesan Bung Karno tentang kemerdekaan Palestina. Baginya, nasionalisme yang benar adalah nasionalisme yang juga peduli pada keadilan global. Keberpihakan pada kaum yang lemah dan tertindas adalah inti dari pesan yang ingin ia sampaikan melalui baliho tersebut.

"Nasionalisme tidak pernah bertentangan dengan agama. Politik bagi saya adalah kerja nilai yang harus dijalankan terus-menerus, bukan sekadar kerja lima tahunan," tegas Rachmat. Ia menganggap ruang publik sebagai tempat berdialog yang sehat, di mana setiap masyarakat berhak memberikan tafsir atas langkah politik yang ia ambil.

Analisis Implikasi dan Dampak Sosial

Secara strategis, langkah Rachmat Hidayat memiliki beberapa implikasi signifikan:

  1. Penguatan Identitas Partai: PDIP NTB berhasil mengukuhkan diri sebagai partai yang tidak hanya sekadar bicara politik praktis, tetapi juga peduli pada ritme kehidupan keagamaan masyarakat.
  2. Mitigasi Politik Identitas: Dengan merangkul simbol-simbol keagamaan secara inklusif, Rachmat Hidayat meminimalisir potensi konflik sektarian dan justru memposisikan dirinya sebagai jembatan antar kelompok.
  3. Branding Figur: Baliho tersebut secara efektif menjaga relevansi nama Rachmat Hidayat dan Putu Selly Andayani di benak masyarakat NTB, sebuah aset penting untuk menatap masa depan politik regional.

Sebagai penutup, fenomena baliho Ramadan ini adalah potret dari dialektika antara aktor politik dan realitas sosial di NTB. Bahwa di balik setiap pesan visual, terdapat upaya sadar untuk merawat ingatan publik dan membangun kepercayaan yang berkelanjutan. Bagi Rachmat Hidayat, politik adalah ruang untuk menebar pesan kebaikan, sebuah misi yang ia jalankan di tengah dinamika masyarakat NTB yang terus berkembang. Ke depan, konsistensi ini akan menjadi ujian sejauh mana nilai-nilai yang ia bawa dapat diterjemahkan menjadi dukungan riil dalam peta politik masa depan di Bumi Gora.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *