GIRI MENANG – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dan energi melalui program "Menepi untuk Bumi 2026" yang dilaksanakan di pesisir Pantai Induk, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat pada Senin, 11 Mei 2026. Aksi penanaman 2.500 bibit pohon berbagai jenis, termasuk Cemara Laut, Jambu Batu, Kelengkeng, dan Flamboyan ini, merupakan upaya strategis untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir, menekan laju abrasi, serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Inisiatif ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Tahun 2026, menandai peran aktif perusahaan dalam Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terintegrasi dengan visi pembangunan energi nasional yang lebih hijau dan berkelanjutan. Fokus Utama: Aksi "Menepi untuk Bumi 2026" di Lombok Barat Program "Menepi untuk Bumi 2026" di Lombok Barat menjadi salah satu titik fokus implementasi komitmen PLN EPI dalam skala nasional. Pemilihan Pantai Induk di Desa Taman Ayu bukan tanpa alasan, mengingat wilayah pesisir ini, seperti banyak area pantai di Indonesia, menghadapi ancaman abrasi yang signifikan. Degradasi lingkungan pesisir dapat diperparah oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim global yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut, gelombang pasang yang ekstrem, hingga aktivitas antropogenik seperti penambangan pasir ilegal atau perusakan hutan mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami. Penanaman ribuan bibit pohon ini diharapkan dapat membentuk sabuk hijau alami yang berfungsi sebagai penahan gelombang, pelindung ekosistem pantai dari kerusakan, dan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna. Lebih jauh, keberadaan vegetasi pesisir yang kuat juga berperan penting dalam mencegah intrusi air laut ke lahan pertanian dan sumber air tawar masyarakat. Muhammad Aminuddin, Vice President Keselamatan, Kesehatan Kerja, Keamanan & Lingkungan Hidup (K3KL) PLN EPI, menjelaskan bahwa kegiatan ini melampaui sekadar seremoni. "Tujuan kami adalah mendukung ekosistem pesisir dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Kami berharap ini dapat memberikan manfaat nyata secara ekologi, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar pesisir," ujar Aminuddin di sela-sela kegiatan penanaman simbolis. Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala BLUD 1 Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Perikanan Wilayah Dislutkan NTB, Abdul Wahab, dan Camat Gerung, Fitriati Wahyuni, menunjukkan sinergi kuat antara PLN EPI dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal. Jenis bibit pohon yang dipilih, seperti Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), memiliki karakteristik yang sangat cocok untuk lingkungan pesisir. Pohon Cemara Laut dikenal memiliki sistem perakaran yang kuat dan mampu beradaptasi dengan kondisi tanah berpasir serta salinitas tinggi, menjadikannya pilihan ideal untuk stabilisasi garis pantai dan perlindungan dari abrasi. Selain itu, kerapatan tajuk pohon cemara laut juga mampu meredam kekuatan angin kencang yang seringkali melanda kawasan pantai. Di sisi lain, penanaman jenis pohon buah seperti Jambu Batu dan Kelengkeng juga diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi masyarakat sekitar dalam jangka panjang, melalui potensi hasil panen dan pemberdayaan ekonomi lokal, sekaligus menambah keanekaragaman vegetasi di area tersebut. Ini merupakan pendekatan yang menggabungkan aspek ekologi dengan potensi ekonomi masyarakat, menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Latar Belakang dan Konteks Program Nasional "Menepi untuk Bumi 2026" "Menepi untuk Bumi 2026" adalah inisiatif keberlanjutan dari PLN EPI yang dirancang sebagai respons terhadap tantangan lingkungan global dan nasional. Program ini merupakan bagian integral dari strategi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan untuk berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin 13 (Aksi Iklim), 14 (Kehidupan Bawah Air), dan 15 (Kehidupan di Darat). Pelaksanaan program yang serentak di berbagai wilayah di Indonesia – mencakup Sulawesi, Maluku, hingga Papua, dan tentu saja Nusa Tenggara Barat – menunjukkan skala komitmen PLN EPI dalam menjaga keseimbangan ekosistem di seluruh penjuru negeri. Ini bukan sekadar program lokal, melainkan gerakan nasional yang melibatkan banyak daerah pesisir yang rentan. Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional setiap tanggal 22 Mei menjadi momentum yang sangat relevan bagi PLN EPI untuk meluncurkan atau mengintensifkan program ini. Hari tersebut mengingatkan akan pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati, yang merupakan fondasi bagi ekosistem yang sehat dan produktif serta penyedia berbagai layanan ekosistem vital bagi kehidupan manusia. Kerusakan ekosistem pesisir, misalnya, tidak hanya berdampak pada abrasi tetapi juga mengancam kehidupan biota laut, seperti ikan dan krustasea, serta sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan hidup banyak masyarakat pesisir. Dengan menanam pohon, PLN EPI tidak hanya berinvestasi pada perlindungan fisik pantai, tetapi juga pada pemulihan habitat, peningkatan keanekaragaman hayati lokal, dan mitigasi dampak perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor energi primer, PLN EPI menyadari bahwa operasional bisnisnya memiliki dampak, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap lingkungan. Oleh karena itu, investasi dalam program konservasi lingkungan seperti "Menepi untuk Bumi" menjadi esensial untuk menyeimbangkan jejak karbon dan ekologis perusahaan, sekaligus membangun citra korporat yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Program TJSL bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia diatur dalam berbagai regulasi, yang menekankan bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berkewajiban untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan. "Menepi untuk Bumi" adalah manifestasi konkret dari kewajiban ini, menunjukkan bagaimana PLN EPI mengintegrasikan tujuan bisnis dengan tujuan keberlanjutan yang lebih luas. Program ini dirancang dengan pendekatan partisipatif, melibatkan masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, untuk memastikan keberlanjutan dan dampak jangka panjang. Peran PLN EPI dalam Konservasi Lingkungan dan Pembangunan Energi Berkelanjutan Komitmen PLN EPI tidak berhenti pada penanaman bibit. Muhammad Aminuddin menegaskan bahwa perusahaan akan melakukan pemantauan berkala untuk memastikan pohon yang ditanam dapat tumbuh subur dan memberikan dampak jangka panjang bagi pertahanan garis pantai. Aspek pemantauan ini sangat krusial, mengingat tingkat keberhasilan penanaman pohon seringkali bergantung pada perawatan pasca-penanaman, termasuk penyiraman yang memadai, pemupukan yang tepat, dan perlindungan dari serangan hama, penyakit, serta gangguan manusia. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan PLN EPI dalam menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek jangka pendek yang selesai setelah seremoni. Pemantauan dan evaluasi berkala akan memungkinkan adaptasi strategi jika diperlukan, guna memastikan investasi lingkungan ini membuahkan hasil maksimal. Lebih jauh, PLN EPI memaparkan komitmennya yang terintegrasi antara pelestarian alam dan pembangunan infrastruktur energi. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), PLN EPI saat ini tengah mengembangkan proyek regasifikasi unit. Proyek ini bertujuan untuk memastikan pasokan energi primer, khususnya gas, bagi pembangkit listrik di wilayah Lombok tetap stabil dan ramah lingkungan. Regasifikasi adalah proses mengubah gas alam cair (LNG) kembali menjadi gas untuk kemudian disalurkan ke pembangkit listrik. Penggunaan gas alam sebagai bahan bakar pembangkit listrik dianggap lebih bersih dibandingkan bahan bakar fosil lainnya seperti batu bara atau minyak, karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah serta polutan udara lainnya yang lebih sedikit. Ini merupakan langkah strategis dalam mendukung transisi energi yang lebih bersih di NTB, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang beremisi tinggi. Sebagai penyedia energi primer bagi subholding PLN, tugas utama PLN EPI adalah memastikan rantai pasok energi berjalan lancar dari hulu ke hilir. "Di NTB, kami tengah membangun infrastruktur untuk menyuplai gas ke pembangkit-pembangkit yang sudah ada," jelas Aminuddin. Pembangunan infrastruktur regasifikasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang kurang ramah lingkungan dan meningkatkan bauran energi baru terbarukan. Dengan demikian, PLN EPI tidak hanya berfokus pada aspek konservasi alam melalui penanaman pohon, tetapi juga secara aktif mendukung program energi nasional untuk mencapai target bauran energi bersih dan mengurangi emisi karbon, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris. Sinergi antara upaya konservasi lingkungan dan pembangunan infrastruktur energi yang berkelanjutan ini adalah inti dari visi PLN EPI. "Dengan langkah integratif antara pelestarian alam dan pembangunan infrastruktur energi, PLN EPI berharap kehadirannya dapat terus membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian bumi nusantara," tambah Aminuddin. Pendekatan holistik ini mencerminkan pemahaman bahwa energi dan lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini juga menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab ganda: memenuhi kebutuhan energi bangsa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. Dukungan dan Apresiasi dari Pemerintah Daerah dan Masyarakat Aksi peduli lingkungan PLN EPI ini mendapat sambutan hangat dan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Kehadiran perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Barat, Camat Gerung, dan Desa Kebun Ayu dalam kegiatan penanaman simbolis menjadi bukti nyata sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dalam mewujudkan tujuan bersama. Dukungan ini sangat krusial karena program konservasi lingkungan membutuhkan legitimasi, fasilitasi, dan partisipasi dari berbagai tingkat pemerintahan. Abdul Wahab, Kepala BLUD 1 Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Perikanan Wilayah Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, menekankan bahwa sinergi antara PLN EPI dan masyarakat sangat krusial dalam menjaga wilayah pesisir. "Aksi penanaman bibit pohon ini selaras dengan program pemerintah dalam mencegah abrasi pantai di wilayah Lombok," paparnya. Ia juga menyoroti pentingnya peran kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan masyarakat lokal dalam menjaga bibit yang telah ditanam. Pokdarwis Taman, sebagai pengelola Objek Wisata Pantai Induk, diharapkan menjadi garda terdepan dalam monitoring efektivitas kegiatan dan memastikan pohon tetap hidup dan berkembang. Keterlibatan aktif komunitas lokal, menurut Wahab, adalah kunci keberlanjutan program konservasi. Tanpa kepemilikan dan partisipasi masyarakat, program-program semacam ini akan sulit mencapai tujuan jangka panjangnya, karena masyarakatlah yang paling merasakan dampak dan memiliki kepentingan langsung terhadap kelestarian lingkungan mereka. Sementara itu, Camat Gerung, Fitriati Wahyuni, menyampaikan rasa terima kasihnya Post navigation SDN 1 Jembatan Kembar Lombok Barat Siap Harumkan Nama NTB di Kancah Adiwiyata Nasional 2026 Polemik Penertiban Pedagang Taman Narmada Berlarut, DPRD Lobar Berupaya Jadi Mediator