Praya, Lombok Tengah – Upaya komprehensif untuk mengatasi masalah gizi buruk, khususnya stunting, serta mendorong transformasi digital di sektor kesehatan masyarakat terus digalakkan di berbagai wilayah Indonesia. Dalam konteks ini, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Lombok mengambil peran proaktif melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berfokus pada pemanfaatan teknologi digital. Program inovatif ini bertujuan untuk memperkuat layanan Posyandu dan meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi kesehatan esensial, terutama yang berkaitan dengan tumbuh kembang balita. Melalui inisiatif ini, STMIK Lombok berupaya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di tengah masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan stunting yang menjadi prioritas nasional.

Latar Belakang dan Urgensi Pencegahan Stunting

Stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia, meskipun telah menunjukkan penurunan, masih memerlukan perhatian serius untuk mencapai target nasional. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga menghambat perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas di masa dewasa, dan membebani sistem kesehatan serta ekonomi negara. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting membutuhkan pendekatan multisektoral, termasuk peningkatan edukasi gizi dan kesehatan ibu dan anak di tingkat komunitas.

Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan dasar masyarakat, terutama dalam pemantauan kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan balita. Posyandu memainkan peran krusial dalam menyelenggarakan imunisasi, penimbangan balita, pemberian vitamin A, serta edukasi gizi bagi ibu hamil dan menyusui. Namun, Posyandu seringkali menghadapi keterbatasan dalam hal diseminasi informasi yang efektif dan jangkauan edukasi yang luas. Metode penyampaian informasi yang masih tradisional terkadang kurang efisien untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di era digital ini.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, pemanfaatan media digital menjadi peluang besar untuk memperluas akses informasi dan memperkuat edukasi kesehatan kepada masyarakat. Literasi digital, kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, membuat, dan mengomunikasikan informasi menggunakan teknologi digital, menjadi semakin penting dalam mendukung inisiatif kesehatan berbasis komunitas. Di daerah pedesaan seperti Lombok Tengah, kesenjangan digital (digital divide) seringkali menjadi hambatan. Oleh karena itu, program yang tidak hanya menyediakan teknologi tetapi juga melatih masyarakat untuk menggunakannya secara efektif menjadi sangat relevan.

Inisiatif Strategis STMIK Lombok: Digitalisasi Posyandu dan Edukasi Stunting

Menjawab tantangan tersebut, dosen STMIK Lombok melaksanakan program bertajuk "Pemanfaatan Website sebagai Media Edukasi Tumbuh Kembang Balita untuk Mendukung Pencegahan Stunting dan Digitalisasi Layanan Posyandu." Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun Pendanaan 2026, yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dukungan ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat.

Ketua STMIK Lombok, Maulana Ashari, M.Kom., menekankan pentingnya mengarahkan pemanfaatan teknologi pada kebutuhan nyata masyarakat. “Transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemanfaatan website dalam kegiatan Posyandu merupakan salah satu langkah untuk mendekatkan teknologi kepada masyarakat sekaligus memperkuat edukasi dan pelayanan,” ujarnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tidak hanya terbatas pada lingkungan akademis.

Kronologi Pelaksanaan Program dan Metode Pelatihan yang Komprehensif

Rangkaian kegiatan pelatihan, yang diketuai oleh Sofiansyah Fadli, M.Kom, dilaksanakan secara intensif selama empat hari dalam periode Mei hingga Agustus 2026. Lokasi yang dipilih adalah Dusun Lanji, Desa Darmaji, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, sebuah wilayah yang representatif untuk menguji efektivitas program di tingkat komunitas. Sebanyak 20 peserta terlibat dalam program ini, terdiri atas 10 kader Posyandu, 8 orang tua balita, dan 2 tenaga kesehatan. Pemilihan peserta yang beragam ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pengetahuan yang komprehensif, di mana kader sebagai ujung tombak pelayanan, orang tua sebagai penerima manfaat langsung, dan tenaga kesehatan sebagai pendukung profesional, semuanya memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam memanfaatkan teknologi digital.

Program ini dirancang untuk meningkatkan literasi digital peserta sekaligus memberikan keterampilan praktis dalam memanfaatkan website sebagai media edukasi dan pendukung digitalisasi layanan Posyandu. Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi empat tahapan utama yang saling berkesinambungan:

  1. Sosialisasi Program dan Literasi Digital: Pada tahap awal ini, peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya literasi digital dalam era informasi saat ini. Mereka juga diedukasi tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara tepat dan bertanggung jawab untuk mendukung berbagai kegiatan Posyandu. Sesi ini juga mencakup pengenalan konsep dasar internet, keamanan siber sederhana, dan etika penggunaan media digital.
  2. Pelatihan Dasar Pemanfaatan dan Pengelolaan Website: Tahap ini merupakan inti dari pelatihan teknis. Kader dan peserta lainnya diperkenalkan dengan penggunaan website sebagai media edukasi tumbuh kembang balita. Pelatihan mencakup cara mengakses informasi, navigasi situs, serta dasar-dasar pengelolaan konten, seperti mengunggah artikel, gambar, atau video edukasi. Peserta diajarkan untuk memahami struktur website yang telah dibangun dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam memperbarui atau menambahkan informasi relevan.
  3. Penerapan Teknologi dan Praktik Pengelolaan Layanan Posyandu: Setelah memahami konsep dan dasar teknis, peserta diajak untuk mempraktikkan pemanfaatan website dalam konteks kegiatan Posyandu yang sesungguhnya. Misalnya, mereka berlatih bagaimana menggunakan website untuk menjadwalkan kegiatan Posyandu, mengumumkan informasi imunisasi, atau menyajikan infografis mengenai status gizi balita. Tahap ini juga mendorong peserta untuk mengidentifikasi bagaimana website dapat diintegrasikan dengan sistem pencatatan manual yang sudah ada untuk efisiensi yang lebih baik.
  4. Pendampingan, Evaluasi, dan Keberlanjutan Program: Tahap terakhir ini krusial untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan. Tim dosen STMIK Lombok memberikan pendampingan intensif, menjawab pertanyaan, dan membantu peserta mengatasi kendala teknis yang mungkin timbul. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan kemampuan dan pemahaman peserta. Selain itu, tahap ini juga merumuskan strategi untuk menjaga keberlanjutan website dan pemanfaatannya oleh komunitas secara mandiri.

Ketua Pelaksana Program, Sofiansyah Fadli, M.Kom, menjelaskan bahwa kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mempraktikkan pemanfaatan teknologi. “Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui bahwa teknologi dapat digunakan untuk mendukung Posyandu, tetapi juga mampu menggunakannya secara langsung. Karena itu, kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, praktik, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan dan evaluasi,” ungkap Sofiansyah, menekankan pendekatan praktis dan berkelanjutan dari program ini.

Dampak Positif dan Peningkatan Kapasitas Peserta

Pelaksanaan program ini menunjukkan hasil yang sangat positif terhadap peningkatan kemampuan peserta, baik dari kalangan kader Posyandu maupun orang tua balita. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan, kader Posyandu telah menunjukkan kemampuan yang signifikan dalam mengelola website yang didesain sebagai media pendukung edukasi dan layanan Posyandu. Capaian ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan mampu meningkatkan keterampilan digital kader secara substansial, menjadikan mereka lebih percaya diri dan kompeten dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan Posyandu. Mereka kini tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga kontributor aktif dalam penyebaran informasi kesehatan.

Pada kelompok orang tua balita, hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang jelas terkait pemanfaatan media digital dan akses informasi tumbuh kembang balita. Sebelumnya, banyak orang tua mungkin kesulitan mencari informasi yang akurat dan terpercaya. Dengan website yang telah tersedia secara daring, peserta kini memiliki media yang dapat terus diakses kapan saja dan di mana saja, bahkan setelah kegiatan pelatihan selesai. Ini berarti akses terhadap informasi penting mengenai gizi, imunisasi, dan tahapan perkembangan anak tidak lagi terbatas pada sesi Posyandu bulanan, tetapi menjadi sumber daya yang tersedia secara berkelanjutan.

Peran Kunci Kader Posyandu dan Dukungan Komunitas

Kader Posyandu merupakan salah satu unsur penting dalam penerapan teknologi di tingkat masyarakat. Mereka adalah jembatan antara fasilitas kesehatan dan masyarakat, serta figur yang dipercaya di lingkungan mereka. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan kader menjadi bagian utama dari program ini. Dengan keterampilan digital baru, kader diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi penggerak pemanfaatan teknologi di lingkungan Posyandu, menginspirasi warga lain untuk turut serta.

Ketua Tim Penggerak Posyandu, Asti Emisi Habibah, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat menjadi sarana tambahan yang sangat efektif bagi kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. “Dengan adanya pelatihan ini, kader menjadi lebih memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan dalam kegiatan Posyandu. Kami berharap kemampuan yang sudah diperoleh dapat terus digunakan sehingga pelayanan dan edukasi kepada masyarakat menjadi lebih mudah,” kata Asti. Pernyataan ini menunjukkan optimisme dan komitmen dari pihak komunitas untuk mengadopsi inovasi digital demi pelayanan yang lebih baik.

Pemberdayaan Orang Tua Balita dan Akses Informasi yang Lebih Mudah

Orang tua balita adalah bagian tak terpisahkan dari keberhasilan program ini, karena keberhasilan edukasi tumbuh kembang anak tidak terlepas dari peran aktif keluarga. Melalui pemanfaatan website, orang tua memperoleh alternatif media yang mudah diakses untuk mendapatkan informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. Ini sangat penting mengingat seringkali orang tua memiliki keterbatasan waktu atau akses untuk datang langsung ke Posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya.

Salah seorang orang tua balita, Titin, yang mengikuti kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya. “Dengan adanya website ini, kami sebagai orang tua menjadi lebih mudah mendapatkan informasi mengenai tumbuh kembang anak. Informasi yang tersedia juga menjadi tambahan pengetahuan bagi kami untuk lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujarnya. Titin juga berharap pemanfaatan media digital tersebut dapat terus dikembangkan sehingga masyarakat semakin mudah memperoleh informasi yang bermanfaat. Testimoni ini menggarisbawahi dampak langsung program terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran orang tua.

Sinergi Multisektoral dan Keberlanjutan Program

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita adalah bagian integral dalam menjaga kualitas kesehatan anak. Edukasi kepada orang tua dan penguatan peran kader menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting. Melalui pemanfaatan website sebagai media edukasi, orang tua diharapkan semakin mudah memperoleh informasi yang akurat dan relevan mengenai tumbuh kembang balita, serta semakin sadar akan pentingnya melakukan pemantauan secara rutin dan proaktif.

Program ini juga berhasil memperkuat sinergi antara kader Posyandu, orang tua balita, dan tenaga kesehatan. Ketiga unsur tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam memberikan edukasi dan mendukung pemantauan tumbuh kembang anak. Kader sebagai pelaksana di lapangan, orang tua sebagai pengambil keputusan di rumah, dan tenaga kesehatan sebagai ahli yang memberikan panduan, semuanya terhubung melalui platform digital ini.

Sofiansyah menjelaskan bahwa teknologi ditempatkan sebagai alat bantu yang strategis, bukan sebagai pengganti peran esensial kader maupun tenaga kesehatan. “Website merupakan media pendukung. Peran kader dan tenaga kesehatan tetap sangat penting dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Teknologi membantu memperluas akses informasi sehingga masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dengan lebih mudah,” tegas Sofiansyah. Penegasan ini penting untuk memastikan bahwa sentuhan personal dan keahlian manusia tetap menjadi inti dari pelayanan kesehatan.

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang dengan visi jangka panjang, tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan selama empat hari. Website yang telah tersedia secara daring diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh kader, orang tua, dan masyarakat sebagai media edukasi tumbuh kembang balita yang dinamis dan selalu terbarui. Pendampingan dan evaluasi berkelanjutan menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga keberlanjutan program. Dengan adanya kader yang telah memiliki kemampuan mengelola website, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat terus berjalan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan spesifik Posyandu di Dusun Lanji.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Dengan website yang sudah tersedia dan kader yang telah memiliki kemampuan pengelolaan, kami berharap pemanfaatan teknologi ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Sofiansyah, menggarisbawahi komitmen tim pengabdian terhadap dampak jangka panjang.

Secara keseluruhan, program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata STMIK Lombok dalam mengintegrasikan teknologi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan teknologi di lingkungan Posyandu diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendukung layanan masyarakat yang lebih informatif, adaptif, dan sesuai dengan perkembangan era digital, sekaligus menjadi model bagi inovasi serupa di seluruh Indonesia dalam mengatasi tantangan kesehatan vital seperti stunting.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *