Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) Mataram mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan menyabet gelar Juara II pada ajang World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026. Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan secara hibrida oleh lembaga Cakap Riset yang berkolaborasi dengan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), menarik perhatian berbagai inovator muda dari berbagai tingkatan pendidikan dan institusi di seluruh penjuru dunia. Tim yang membawa harum nama Nusa Tenggara Barat (NTB) ini dipimpin oleh Ayom Pandu Prakoso, alumni SMAN 1 Mataram, dengan anggota Diah Primadewi, alumni MAN 2 Mataram, dan Sifa Salsabila Pratama, alumni SMAN 6 Mataram.

Kemenangan ini dikonfirmasi melalui sesi wawancara resmi bersama Tim Humas dan Publikasi Biro HKA UNIZAR yang berlangsung di Ruang Sekretariat Fakultas Kedokteran UNIZAR pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam ajang tersebut, tim FK UNIZAR berhasil mengungguli puluhan peserta lainnya melalui gagasan inovatif yang sangat relevan dengan isu sosial di daerah asal mereka. Fokus utama yang diangkat adalah penanganan pernikahan dini melalui model pendidikan yang terstruktur dan tersertifikasi.

Konteks Krisis Pernikahan Dini di Nusa Tenggara Barat

Pemilihan tema penelitian oleh tim mahasiswa ini didasarkan pada realitas empiris yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara historis, NTB merupakan salah satu provinsi dengan angka dispensasi nikah dan pernikahan usia anak yang cukup tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan dari berbagai lembaga perlindungan anak, pernikahan usia dini di NTB dipicu oleh beragam faktor kompleks, mulai dari masalah ekonomi, pengaruh budaya lokal, hingga kurangnya akses terhadap pendidikan kesehatan reproduksi yang memadai.

Pernikahan dini bukan sekadar isu sosial, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Bagi mahasiswa kedokteran, isu ini berkaitan erat dengan risiko medis seperti angka kematian ibu (AKI) yang tinggi, risiko stunting pada anak yang dilahirkan, hingga gangguan kesehatan mental pada pasangan remaja. Dengan latar belakang pendidikan medis, Ayom dan timnya melihat adanya celah dalam intervensi yang sudah ada, sehingga mereka merancang sebuah solusi sistemik yang dapat diaplikasikan di tingkat komunitas.

Inovasi Y-CLIC: Model Pembelajaran dan Sertifikasi Berbasis Komunitas

Gagasan utama yang membawa mereka meraih podium juara bertajuk "Y-CLIC: Youth Community Learning & Certification Model To Prevent Early Marriage Through Contextual Life Skills Education." Konsep ini dirancang sebagai sebuah ekosistem pendidikan bagi remaja yang tidak hanya memberikan teori, tetapi juga pengakuan atas kompetensi keterampilan hidup (life skills) yang mereka miliki.

Sifa Salsabila Pratama menjelaskan bahwa Y-CLIC menekankan pada aspek pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada poin kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3) serta pendidikan berkualitas (SDG 4). Program ini menawarkan kurikulum pendidikan kontekstual yang mencakup kesehatan reproduksi, manajemen emosi, kesiapan mental, hingga literasi finansial dasar.

"Kami merancang kurikulum yang bisa dipelajari oleh remaja secara partisipatif. Program ini bertujuan memperkuat program pemerintah yang sudah ada, seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), namun dengan tambahan model sertifikasi. Sertifikasi ini berfungsi sebagai bentuk apresiasi dan validasi bahwa remaja tersebut telah memiliki kematangan kognitif dan sosial untuk menunda pernikahan hingga usia ideal," ujar Sifa dalam penjelasannya.

Kronologi Persiapan dan Peran Mentorship Akademik

Keberhasilan di tingkat internasional ini tidak diraih secara instan. Proses panjang dimulai sejak awal tahun 2026. Diah Primadewi menceritakan bahwa dorongan awal datang dari salah satu dosen FK UNIZAR, Ayu Anulus, SST., M.K.M., yang melihat potensi besar dalam tim ini. Mengingat kompetisi WISEC 2026 mewajibkan penggunaan bahasa Inggris dalam seluruh naskah dan presentasi, bimbingan pun dialihkan kepada drg. Sabrina Intan Zoraya, M.K.M., yang memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah internasional.

Proses bimbingan intensif dimulai pada Februari 2026 di lingkungan kampus UNIZAR. Selama kurang lebih tiga bulan, tim melakukan diskusi mendalam, riset literatur, hingga penyusunan scientific paper. Kolaborasi antara dosen pembimbing dan mahasiswa menghasilkan perpaduan ide yang kuat antara landasan teori medis dan inovasi sosial yang aplikatif.

Selama tahap seleksi, tim harus bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMP dan SMA hingga mahasiswa dari universitas ternama di dalam dan luar negeri. Dari ratusan pendaftar, panitia hanya memilih 20 tim terbaik untuk melaju ke babak final sebagai finalis. Tim FK UNIZAR berhasil melewati seluruh tahapan tersebut dengan performa yang konsisten, mulai dari penyusunan draf awal hingga penguatan konsep presentasi.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIZAR Raih Juara II Internasional di Ajang WISEC 2026 Angkat Isu Pernikahan Dini di NTB

Detail Kompetisi WISEC 2026: Panggung Inovasi Global

WISEC 2026 mengusung tema besar "From Local Ideas to Global Impact: Empowering Youth as Innovation Catalysts for a Sustainable Future." Tema ini menantang kaum muda untuk mencari solusi atas permasalahan di lingkungan sekitar mereka dan mengemasnya menjadi inovasi yang memiliki dampak global. Kompetisi ini mencakup berbagai subtema krusial, termasuk Kesehatan Masyarakat (Public Health), Pendidikan Berkualitas (Quality Education), Lingkungan Berkelanjutan (Sustainable Environment), hingga Inklusi Digital dan Kecerdasan Buatan (AI).

Rangkaian acara dilaksanakan secara hibrida untuk menjangkau peserta secara luas. Babak seleksi dan presentasi daring dilakukan melalui platform Zoom Meeting pada 16–17 Mei 2026. Sementara itu, puncak acara dan babak luring dijadwalkan berlangsung di Yogyakarta pada 27–28 Juni 2026. Keberhasilan meraih Juara II membuktikan bahwa argumen dan solusi yang ditawarkan mahasiswa UNIZAR memiliki standar kualitas internasional dan diakui oleh dewan juri yang terdiri dari pakar riset dan akademisi.

Reaksi dan Harapan Tim Pemenang

Ketua tim, Ayom Pandu Prakoso, menyatakan rasa syukur yang mendalam atas capaian ini. Bagi Ayom, kemenangan ini adalah pembuktian bahwa mahasiswa kedokteran tidak hanya harus berkutat dengan buku teks medis di laboratorium, tetapi juga harus peka terhadap dinamika sosial di masyarakat.

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Bagi kami, ini bukan hanya soal medali atau sertifikat, tetapi bagaimana kami bisa membawa isu krusial yang nyata terjadi di NTB ke forum internasional. Tantangan terbesar kami adalah membagi waktu antara jadwal perkuliahan kedokteran yang sangat padat dengan persiapan lomba. Namun, dukungan penuh dari fakultas dan bimbingan drg. Sabrina menjadi kunci keberhasilan kami," tutur Ayom.

Lebih lanjut, Ayom berharap agar konsep Y-CLIC tidak berhenti sebagai naskah esai semata. Ia memiliki ambisi agar model ini dapat diuji coba dan diimplementasikan secara nyata di desa-desa dengan angka pernikahan dini yang tinggi di NTB. Harapannya, inovasi ini dapat menjadi rujukan bagi pemangku kebijakan dalam menekan angka pernikahan usia anak di tingkat regional maupun nasional.

Implikasi bagi UNIZAR dan Pendidikan di Wilayah Timur Indonesia

Prestasi ini semakin memperkokoh posisi Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) sebagai institusi pendidikan yang progresif. Sebagai universitas swasta pertama di Nusa Tenggara Barat yang memiliki Fakultas Kedokteran, UNIZAR telah membuktikan kualitasnya dalam mencetak sumber daya manusia yang mampu bersaing secara global.

Keberhasilan Ayom, Diah, dan Sifa menjadi katalisator bagi mahasiswa lain di UNIZAR untuk terus berinovasi. Pencapaian ini sejalan dengan visi universitas yang berlandaskan nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin, yang menekankan pada keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan (sains), keteguhan iman, dan pengabdian nyata melalui amal.

Secara lebih luas, kemenangan ini memberikan sinyal positif bagi dunia pendidikan di wilayah Indonesia Timur. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan merupakan penghalang untuk menorehkan prestasi di kancah dunia, selama didukung oleh semangat riset yang kuat dan bimbingan akademis yang tepat sasaran.

Analisis Fakta: Pentingnya Peran Mahasiswa dalam Isu Berkelanjutan

Jika dianalisis secara mendalam, kemenangan tim FK UNIZAR pada WISEC 2026 memberikan beberapa poin penting terkait peran mahasiswa dalam pembangunan berkelanjutan:

  1. Relevansi Isu Lokal: Inovasi yang paling dihargai di tingkat internasional sering kali adalah inovasi yang berangkat dari masalah lokal yang nyata. Pernikahan dini di NTB adalah isu spesifik, namun solusinya memiliki relevansi global karena dialami oleh banyak negara berkembang lainnya.
  2. Pendekatan Multidisiplin: Meskipun berstatus mahasiswa kedokteran, tim ini mampu mengintegrasikan ilmu kesehatan dengan ilmu pendidikan dan sosiologi. Pendekatan lintas disiplin inilah yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah sosial yang kompleks.
  3. Keterampilan Komunikasi Internasional: Penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar dalam kompetisi ini menunjukkan bahwa mahasiswa daerah kini semakin kompetitif dalam literasi bahasa asing, sebuah prasyarat mutlak untuk berpartisipasi dalam diskursus global.

Dengan berakhirnya ajang WISEC 2026, tantangan selanjutnya bagi tim FK UNIZAR adalah bagaimana menjaga keberlanjutan ide mereka. Dukungan dari pemerintah daerah dan sektor swasta sangat diperlukan agar model Y-CLIC dapat ditransformasikan dari sebuah gagasan kompetisi menjadi program nyata yang menyelamatkan masa depan generasi muda di Nusa Tenggara Barat. Prestasi ini bukan sekadar akhir dari sebuah perlombaan, melainkan awal dari tanggung jawab sosial yang lebih besar bagi para calon dokter masa depan ini.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *