DOMPU – Sebuah potret kemakmuran yang jarang ditemukan di pedesaan pertanian kini terpampang nyata di Dusun Aik Ampat, Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Deretan rumah permanen berdinding kokoh dengan kendaraan roda empat terparkir rapi di halaman, menjadi saksi bisu dari revolusi ekonomi yang dipicu oleh komoditas tebu. Pemandangan ini bukan sekadar anomali, melainkan manifestasi dari manisnya keuntungan yang dihasilkan dari perkebunan tebu di lereng Gunung Tambora, sebuah fenomena yang telah mengubah total lanskap sosial-ekonomi masyarakat setempat dalam beberapa tahun terakhir. Pergeseran Paradigma Pertanian: Dari Jagung ke Tebu Sebelumnya, Desa Pekat, seperti banyak desa lain di Nusa Tenggara Barat, sangat bergantung pada budidaya jagung. Namun, volatilitas harga, tingginya biaya produksi, dan kerentanan terhadap fluktuasi cuaca seringkali menjebak petani dalam siklus ketidakpastian ekonomi. Menyadari potensi yang lebih besar, para petani di Pekat secara bertahap mulai melirik tebu sebagai alternatif utama. Pergeseran ini, menurut Kepala Desa Pekat, Sahlan, bukanlah keputusan sembarangan, melainkan hasil dari kalkulasi bisnis yang matang dan pengamatan langsung di lapangan. “Petani melihat sendiri manfaatnya di lapangan. Tebu cukup sekali tanam, lalu bisa dipanen beberapa kali. Efisiensi inilah yang sebenarnya membuat roda ekonomi masyarakat melesat,” kata Sahlan, menggambarkan esensi perubahan yang terjadi. Salah satu keunggulan utama tebu yang menjadi daya tarik adalah sistem panen berulang atau Ratoon Cane. Berbeda dengan jagung yang membutuhkan pengolahan tanah dan penanaman benih baru setiap musim, tebu dapat dipanen berkali-kali dari satu kali tanam, seringkali hingga tiga atau empat kali keprasan (panen lanjutan) tanpa perlu menanam ulang. Ini secara drastis mengurangi biaya operasional, termasuk biaya benih, pengolahan lahan, dan tenaga kerja. Selain itu, karakteristik tanaman tebu yang relatif lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan tidak membutuhkan perawatan seintensif jagung, semakin menekan biaya pemeliharaan, sehingga margin keuntungan petani menjadi jauh lebih besar dan stabil. Data tidak langsung menunjukkan bahwa pergeseran ini telah menghasilkan peningkatan pendapatan petani secara signifikan. Investasi dalam budidaya tebu yang lebih efisien telah membebaskan modal petani untuk kebutuhan lain, termasuk peningkatan kualitas hidup, pendidikan anak, dan investasi pada aset produktif seperti kendaraan atau perbaikan rumah. Kisah Sukses Dusun Aik Ampat: Simbol Transformasi Dampak paling radikal dari revolusi tebu ini terlihat jelas di Dusun Aik Ampat. Dusun yang dulunya identik dengan kesederhanaan, kini menjelma menjadi contoh nyata kemajuan. Sekitar 99 persen kepala keluarga di dusun ini kini menggantungkan hidupnya secara penuh sebagai petani tebu. Kisah Dusun Aik Ampat menyimpan narasi historis yang kuat. Mayoritas warganya merupakan keturunan perantau dari Aik Ampat di Pulau Lombok yang datang puluhan tahun silam untuk mencari penghidupan baru. Mereka adalah generasi pertama yang berjuang membuka lahan, menghadapi tantangan alam dan keterbatasan sumber daya. Kini, memasuki generasi ketiga, kerja keras dan ketekunan mereka membuahkan hasil yang manis. Bangunan rumah sederhana yang dulu menjadi tempat berteduh, kini telah berganti menjadi rumah-rumah batu permanen yang modern, dilengkapi dengan fasilitas yang sebelumnya sulit terbayangkan. Transformasi ini bukan hanya sekadar peningkatan materi, tetapi juga simbol dari sebuah perjalanan panjang perjuangan dan keberhasilan dalam mewujudkan mimpi. Peningkatan taraf hidup ini juga tercermin dari kemampuan masyarakat untuk memiliki aset seperti kendaraan roda empat, yang sebelumnya merupakan barang mewah bagi sebagian besar penduduk pedesaan. Ini menunjukkan adanya peningkatan daya beli yang substansial dan perputaran ekonomi lokal yang semakin aktif. Peran Vital Infrastruktur Air: DAM Ombo Tonda sebagai Urat Nadi Keberhasilan budidaya tebu di Desa Pekat tidak lepas dari ketersediaan infrastruktur pendukung yang memadai, terutama pasokan air. Keberadaan DAM Ombo Tonda menjadi urat nadi utama pertanian di desa ini. Dengan pasokan air yang stabil sepanjang tahun, para petani dapat mengelola lahan tebu mereka secara produktif tanpa perlu cemas akan ancaman kekeringan, yang merupakan momok utama bagi pertanian di daerah kering. Ketersediaan air yang melimpah memungkinkan petani untuk menerapkan praktik irigasi yang optimal, memastikan pertumbuhan tanaman tebu yang subur dan hasil panen yang maksimal. Ini adalah faktor krusial, mengingat tebu merupakan tanaman yang membutuhkan cukup banyak air, terutama pada fase awal pertumbuhan. Intervensi pemerintah dalam pembangunan dan pemeliharaan DAM ini menunjukkan pentingnya sinergi antara kebijakan pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan riil masyarakat petani. Keberadaan DAM Ombo Tonda tidak hanya menopang pertanian tebu, tetapi juga menjadi jaminan ketahanan pangan bagi komoditas lain yang ditanam di Desa Pekat. Diversifikasi Pertanian dan Visi Jangka Panjang Meskipun tebu telah menjadi primadona, Desa Pekat tidak serta merta meninggalkan komoditas lama. Desa ini nyatanya masih memegang predikat sebagai produsen jagung terbesar di tingkat Kecamatan Pekat. Hal ini menunjukkan kebijaksanaan petani dalam menjaga diversifikasi sumber pendapatan dan ketahanan pangan. Di samping tebu dan jagung, petani juga mengombinasikan lahan mereka untuk menanam padi, tembakau, sayur-sayuran, hingga tanaman hortikultura. Pendekatan multi-komoditas ini merupakan strategi cerdas untuk mitigasi risiko, tidak bergantung pada satu komoditas saja, dan memanfaatkan potensi lahan secara maksimal. Pemerintah Desa Pekat kini melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan momentum kesejahteraan ini untuk memperkenalkan program diversifikasi pangan yang lebih ambisius. Warga mulai didorong menanam pohon buah-buahan produktif bernilai jual tinggi seperti durian, manggis, dan rambutan di lahan-lahan mereka. Program ini adalah bagian dari visi jangka panjang untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka peluang baru di sektor agrowisata atau industri pengolahan buah. “Kalau sekarang orang mengenal Pekat karena tebu dan jagungnya, ke depan kami bermimpi dan sedang menyiapkan desa ini agar dikenal juga sebagai daerah penghasil buah-buahan bernilai jual tinggi,” tutur Sahlan optimis, memproyeksikan masa depan Desa Pekat sebagai sentra produksi buah yang juga akan meningkatkan citra dan potensi ekonomi daerah. Tantangan Infrastruktur dan Harapan Kemitraan Korporasi Di tengah manisnya keberhasilan, Desa Pekat juga menghadapi tantangan, terutama terkait pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur logistik. Dengan menyusutnya anggaran dana desa, pemeliharaan jalan usaha tani menjadi kendala. Tahun lalu, Pemerintah Desa Pekat berhasil membuka empat ruas jalan usaha tani baru demi mempermudah jalur distribusi panen tebu menuju jalan utama. Namun, pengerjaan fasilitas pendukung krusial seperti gorong-gorong dan jembatan penghubung kecil masih terhambat dana. Jalan logistik yang memadai sangat penting untuk memastikan hasil panen dapat diangkut dengan cepat dan efisien ke pabrik, mengurangi biaya transportasi dan mencegah kerusakan hasil panen. Kondisi jalan yang buruk dapat menghambat roda ekonomi dan mengurangi keuntungan petani. Terkait hal ini, Sahlan sangat berharap ada intervensi dan kepedulian berkelanjutan dari pihak korporasi, khususnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), perusahaan produsen gula yang beroperasi di wilayah tersebut. Kemitraan antara petani, perusahaan, pemerintah daerah, dan para wakil rakyat sejauh ini diakui berjalan dengan sangat harmonis. PT SMS, sebagai pembeli utama tebu dari petani di Pekat, memiliki kepentingan strategis dalam memastikan kelancaran rantai pasokan dan kesejahteraan petani mitranya. Dukungan CSR dalam pembangunan infrastruktur dapat menjadi investasi jangka panjang yang saling menguntungkan, memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku bagi perusahaan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pihak PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), melalui perwakilannya dalam berbagai kesempatan, seringkali menegaskan komitmennya terhadap kemitraan yang berkelanjutan dan dukungan terhadap masyarakat sekitar. "Keberhasilan petani adalah keberhasilan kami juga. Kami percaya bahwa investasi dalam kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur pendukung pertanian adalah kunci untuk pertumbuhan jangka panjang bagi semua pihak," ujar salah satu perwakilan PT SMS yang tidak disebutkan namanya, mencerminkan semangat kolaborasi. Dampak Regional dan Model Pembangunan Pertanian Manisnya keuntungan tebu di Desa Pekat kini mulai memicu efek domino ke wilayah sekitarnya. Sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat dilaporkan mulai masif mengadopsi budidaya tebu sebagai alternatif komoditas unggulan baru. Ini menunjukkan bahwa model keberhasilan yang diterapkan di Pekat memiliki daya replikasi yang tinggi dan berpotensi menjadi lokomotif pembangunan ekonomi regional. Beberapa desa yang kini ikut tumbuh menjadi basis hijau perkebunan tebu di antaranya adalah Desa Nangamiro, Desa Calabai, Desa Sorinomo, Desa Doropeti, Desa Kadindi Barat & Kadindi Timur, serta Desa Beringin Jaya. Ekspansi budidaya tebu ini didukung dengan karakteristik ketersediaan lahan luas di Pulau Sumbawa serta pengembangan jaringan irigasi yang terus diperluas oleh pemerintah daerah. Sebagai hasilnya, Kecamatan Pekat kini resmi bertransformasi menjadi salah satu episentrum pertumbuhan industri tebu paling progresif di Kabupaten Dompu. Transformasi ini bukan hanya sekadar peningkatan produksi pertanian, tetapi juga menandai perubahan signifikan dalam struktur ekonomi lokal, dari subsisten menjadi lebih komersial dan terintegrasi dengan industri pengolahan. Analisis Implikasi: Membangun Kemandirian Ekonomi Pedesaan Keberhasilan Desa Pekat dalam mengoptimalkan budidaya tebu mempertegas satu teori ekonomi pedesaan yang krusial: ketika sektor pertanian hulu digarap dengan tepat, maka kesejahteraan masyarakat di hilir akan tumbuh bersamanya. Implikasi dari transformasi ini sangat luas, meliputi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Secara ekonomi, peningkatan pendapatan petani telah mendorong pertumbuhan ekonomi mikro di desa, memicu investasi lokal, dan meningkatkan daya beli masyarakat. Ini menciptakan efek multiplier, di mana uang yang dihasilkan dari tebu berputar kembali di ekonomi lokal, mendukung usaha kecil dan menengah, serta menciptakan lapangan kerja tambahan di sektor transportasi, perdagangan, dan jasa. Desa Pekat kini menjadi contoh nyata bagaimana pertanian modern dapat menjadi pilar utama pembangunan daerah dan pengentasan kemiskinan di pedesaan. Secara sosial, kemakmuran yang dirasakan telah meningkatkan kualitas hidup penduduk. Akses terhadap pendidikan yang lebih baik, fasilitas kesehatan, dan gaya hidup yang lebih layak menjadi kenyataan. Selain itu, dengan adanya stabilitas ekonomi, potensi urbanisasi dapat ditekan, bahkan mungkin memicu migrasi balik dari kota ke desa karena prospek ekonomi yang menjanjikan. Ini juga dapat memperkuat kohesi sosial dan kemandirian masyarakat desa. Namun, keberhasilan ini juga membawa tantangan untuk menjaga keberlanjutan. Diversifikasi pangan yang sedang digalakkan menjadi sangat penting untuk menghindari risiko monokultur dan menjaga ketahanan pangan lokal. Ketergantungan berlebihan pada satu komoditas bisa rentan terhadap fluktuasi harga global atau hama penyakit. Oleh karena itu, langkah Pemerintah Desa Pekat untuk mengembangkan komoditas buah-buahan bernilai tinggi adalah strategi yang bijaksana untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan berkelanjutan di masa depan. Pemerintah Kabupaten Dompu, melalui dinas terkait, terus memantau dan memberikan dukungan teknis serta kebijakan untuk memastikan keberlanjutan model pembangunan ini. "Desa Pekat adalah bukti bahwa dengan inovasi, kemitraan yang kuat, dan dukungan infrastruktur, sektor pertanian mampu menjadi tulang punggung pembangunan daerah yang signifikan. Kami berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif serupa di seluruh Dompu," ungkap seorang pejabat dari Dinas Pertanian Kabupaten Dompu, menyoroti Pekat sebagai model yang patut dicontoh. Kesuksesan Desa Pekat bukan hanya cerita tentang tebu dan keuntungan, melainkan narasi inspiratif tentang ketangguhan, visi, dan semangat kolaborasi yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang, serta mewujudkan mimpi kemakmuran di jantung pedesaan Indonesia. Post navigation Transformasi Ekonomi Kaki Tambora: Desa Beringin Jaya Sukses Berbasis Tebu, Namun Terganjal Infrastruktur dan Dukungan Kebijakan