Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) tahun 2026 di Universitas Mataram (Unram) resmi dimulai dengan suasana penuh antusiasme dan komitmen terhadap aksesibilitas pendidikan. Sebagai salah satu pusat pelaksana ujian terbesar di wilayah Nusa Tenggara Barat, Unram menyambut 14.581 peserta yang terdaftar untuk memperebutkan kursi di berbagai program studi unggulan. Di balik angka partisipasi yang masif tersebut, penyelenggaraan tahun ini menonjolkan aspek kemanusiaan dan inklusivitas yang kuat, dibuktikan dengan hadirnya lima peserta penyandang disabilitas yang mendapatkan fasilitas serta pendampingan khusus dari pihak universitas. Ujian yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 21 hingga 30 April 2026 ini tidak sekadar menjadi ajang seleksi akademis, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bagi para pejuang pendidikan dengan kebutuhan khusus. Dari total peserta difabel tersebut, komposisinya mencakup penyandang tunadaksa, tunarungu, hingga tunanetra. Kehadiran mereka di tengah ribuan peserta reguler menjadi simbol penting bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih impian di jenjang pendidikan tinggi. Universitas Mataram, melalui koordinasi ketat dengan Unit Penunjang Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK), telah memastikan bahwa infrastruktur digital maupun fisik siap melayani kebutuhan spesifik para peserta tersebut. Perjuangan Alwa Suci Ristiyani: Bangkit dari Kegagalan SNBP Di tengah hiruk-pikuk pelaksanaan ujian pada Rabu, 22 April 2026, sosok Alwa Suci Ristiyani menarik perhatian banyak pihak. Alwa, seorang remaja asal Kediri, Desa Gelogor, merupakan penyandang tunadaksa yang mengikuti UTBK dengan penuh keteguhan hati. Bagi Alwa, perjalanannya menuju ruang ujian di Unram bukanlah jalan yang mulus. Ia harus melewati fase emosional yang cukup berat sebelum akhirnya memantapkan diri menghadapi tes berbasis komputer ini. Sebelum mengikuti jalur SNBT, Alwa telah mencoba peruntungannya melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), sebuah jalur masuk tanpa tes yang menitikberatkan pada nilai rapor dan prestasi akademik selama sekolah menengah. Namun, keberuntungan belum berpihak padanya. Kegagalan di jalur prestasi tersebut sempat membuat Alwa merasa terpuruk. Ia mengakui bahwa tekanan psikologis dan kelelahan mental atau burnout sempat menghampirinya selama masa persiapan di kelas 12. "Saya mulai serius belajar itu dua hari setelah dinyatakan tidak lolos SNBP. Sebelumnya memang sudah mencicil dari awal kelas 12, tapi sempat burnout. Setelah pengumuman itu, saya menyadari bahwa tidak ada waktu untuk meratapi keadaan. Saya harus langsung bangkit lagi," ungkap Alwa saat ditemui di sela-sela waktu istirahat ujiannya. Motivasi yang ia bangun kembali dalam waktu singkat menunjukkan resiliensi yang luar biasa, sebuah kualitas yang sering kali menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi seleksi ketat tingkat nasional. Alwa menjatuhkan pilihannya pada Program Studi Teknik Informatika, sebuah bidang yang dikenal memiliki tingkat persaingan yang sangat kompetitif di Universitas Mataram. Ia menyadari bahwa bidang tersebut menuntut logika dan kemampuan matematis yang kuat. Meskipun ia mengaku bahwa matematika merupakan tantangan terbesarnya, hal itu tidak menyurutkan keberaniannya. Ia tetap berusaha memberikan yang terbaik pada setiap butir soal yang disajikan di layar monitor. "Matematika memang jadi tantangan, tapi saya tetap berusaha menjawab semampu saya," imbuhnya dengan nada optimistis. Kesiapan Infrastruktur dan Pendampingan Khusus UPA TIK Universitas Mataram menyadari bahwa melayani peserta difabel memerlukan pendekatan yang berbeda dari peserta reguler. Oleh karena itu, UPA TIK Unram sebagai garda terdepan dalam penyediaan fasilitas teknologi informasi telah melakukan persiapan matang jauh sebelum hari pelaksanaan. Fasilitas khusus yang disediakan mencakup perangkat lunak pembaca layar (screen reader) untuk peserta tunanetra, pengaturan ruang ujian yang mudah diakses bagi pengguna kursi roda atau alat bantu jalan, serta penempatan pengawas yang memiliki sensitivitas dan kemampuan dasar untuk membantu peserta difabel. Pihak panitia menekankan bahwa pendampingan yang diberikan bersifat pasif-suportif, artinya petugas akan membantu mobilitas dan kendala teknis perangkat, namun tetap menjaga integritas ujian agar peserta mengerjakan soal secara mandiri. Untuk peserta tunarungu, panitia menyediakan instruksi tertulis yang jelas guna memastikan mereka tidak tertinggal informasi penting saat ujian dimulai. Keberadaan lift dan jalur landai (ramp) di gedung-gedung lokasi UTBK juga dipastikan berfungsi dengan baik guna mendukung mobilitas peserta seperti Alwa. Langkah ini merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) di tingkat pusat, yang kemudian diimplementasikan secara detail oleh Unram. Kesiapan teknis ini sangat krusial mengingat UTBK-SNBT 2026 menggunakan sistem keamanan digital yang ketat untuk mencegah kecurangan, namun di sisi lain harus tetap ramah bagi pengguna dengan keterbatasan fisik. Data dan Konteks Seleksi Nasional 2026 Secara nasional, UTBK-SNBT tetap menjadi jalur dengan kuota terbesar dalam penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN). Di Universitas Mataram sendiri, tren pendaftar terus menunjukkan kenaikan yang signifikan dari tahun ke tahun. Angka 14.581 peserta pada tahun 2026 mencerminkan posisi Unram sebagai destinasi pendidikan favorit, tidak hanya bagi siswa di Pulau Lombok, tetapi juga dari Pulau Sumbawa dan provinsi tetangga lainnya. Berdasarkan data historis, program studi di rumpun sains dan teknologi (Saintek) seperti Teknik Informatika, Kedokteran, dan Teknik Sipil, serta program studi di rumpun sosial dan humaniora (Soshum) seperti Hukum dan Manajemen, selalu menjadi pilihan dengan keketatan tertinggi. Pilihan Alwa pada Teknik Informatika menempatkannya pada persaingan di mana rasio penerimaan sering kali mencapai 1 banding 20 atau lebih. Pelaksanaan UTBK tahun ini juga ditandai dengan pembaruan materi ujian yang lebih menekankan pada Tes Potensi Skolastik (TPS), literasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta penalaran matematika. Perubahan kurikulum ujian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif dan daya nalar calon mahasiswa, bukan sekadar hafalan materi pelajaran. Hal inilah yang dirasakan oleh Alwa sebagai tantangan, di mana penalaran logika dalam matematika menjadi komponen krusial dalam penilaian. Komitmen Inklusivitas dan Reaksi Institusi Keberhasilan Unram dalam memfasilitasi peserta difabel mendapat apresiasi dari berbagai kalangan akademisi dan pemerhati pendidikan. Langkah ini dinilai sebagai implementasi nyata dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang. Rektor Universitas Mataram dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa kampus harus menjadi "rumah kedua" bagi semua mahasiswa, tanpa memandang latar belakang fisik maupun sosial. Dukungan terhadap peserta difabel dalam UTBK adalah pintu masuk utama untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif. Jika para peserta ini nantinya dinyatakan lolos seleksi, Unram berkomitmen untuk terus menyediakan fasilitas penunjang selama masa perkuliahan, mulai dari beasiswa khusus hingga aksesibilitas sarana prasarana kampus. Upaya ini juga secara langsung berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin keempat mengenai "Pendidikan Berkualitas" yang menjamin akses pendidikan yang inklusif dan merata, serta poin kesepuluh mengenai "Berkurangnya Kesenjangan" yang bertujuan memberdayakan dan mendorong partisipasi sosial, ekonomi, dan politik bagi semua orang. Implikasi dan Harapan Masa Depan Pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 di Universitas Mataram memberikan pesan kuat kepada masyarakat luas bahwa sistem seleksi nasional semakin matang dalam mengakomodasi keberagaman. Bagi peserta seperti Alwa, kesempatan untuk mengikuti ujian dengan fasilitas yang memadai adalah bentuk pengakuan atas hak-hak mereka sebagai warga negara. Keberaniannya untuk bangkit dari kegagalan SNBP dan menghadapi tantangan di jalur SNBT menjadi inspirasi bagi ribuan peserta lainnya yang mungkin juga sedang berjuang dengan keraguan diri. Analisis dari para ahli pendidikan menyarankan bahwa di masa depan, universitas perlu lebih proaktif dalam menjangkau calon mahasiswa difabel sejak bangku sekolah menengah. Program sosialisasi yang lebih intensif mengenai ketersediaan fasilitas khusus di perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa difabel untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah rangkaian ujian berakhir pada 30 April 2026, hasil UTBK akan diumumkan secara serentak pada jadwal yang telah ditetapkan oleh panitia pusat. Bagi 14.581 peserta di Unram, masa tunggu tersebut akan menjadi periode penuh harap. Namun, terlepas dari hasil akhir nanti, keberhasilan menyelenggarakan ujian yang inklusif dan tertib telah menjadi kemenangan tersendiri bagi Universitas Mataram dalam upayanya menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dalam pendidikan. Dengan semangat yang ditunjukkan oleh Alwa Suci Ristiyani dan dukungan infrastruktur dari Unram, UTBK-SNBT 2026 bukan sekadar rutinitas administratif tahunan. Ini adalah manifestasi dari tekad bangsa untuk memastikan bahwa setiap talenta, apa pun kondisinya, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi masa depan Indonesia melalui jalur pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkeadilan. Post navigation PTUN Mataram Menangkan Universitas Mataram dalam Gugatan Sengketa Kode Etik dan Pencalonan Rektor yang Diajukan Prof Hamsu Kadryan