Perhelatan akbar tahunan Alunan Budaya Desa Pringgasela, yang tahun ini memasuki edisi kesepuluhnya, resmi dibuka dengan meriah melalui kegiatan car free day di sekitar Tugu Juang Pringgasela Raya, atau yang lebih dikenal dengan Tugu Mopra. Acara pembukaan yang dihadiri oleh ribuan warga ini diawali dengan sesi jalan santai yang dilepas langsung oleh Wakil Bupati Lombok Timur, Edwin Hadiwijaya, menandai dimulainya serangkaian agenda budaya yang akan berlangsung. Semangat Kebersamaan dan Apresiasi Pemerintah Daerah Wakil Bupati Lombok Timur, Edwin Hadiwijaya, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme masyarakat Pringgasela yang terlihat begitu aktif dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Ia menekankan bahwa Alunan Budaya bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah bukti nyata kekompakan dan dedikasi masyarakat Pringgasela dalam melestarikan adat istiadat serta kekayaan budaya leluhur mereka. Keberhasilan ini, menurut Edwin, melampaui sekadar pengakuan atas keindahan kain tenun Pringgasela yang telah mendunia, melainkan juga memperlihatkan kekuatan sosial dan budaya yang terjalin erat. "Pemerintah daerah akan selalu memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan-kegiatan positif yang berbasis kemasyarakatan seperti Alunan Budaya ini," ujar Edwin dengan tegas. "Pembangunan di Lombok Timur tidak akan pernah bisa berjalan lancar tanpa adanya masyarakat yang sehat, rukun, dan memiliki optimisme yang tinggi, sebagaimana yang dicontohkan oleh warga Pringgasela." Lebih lanjut, Edwin menyoroti manfaat multifaset dari kegiatan jalan sehat. Selain aspek kesehatan jasmani yang jelas, kegiatan ini juga berfungsi sebagai wadah strategis untuk mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan rasa kebersamaan, serta memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga. Ia menambahkan, aktivitas fisik yang dikombinasikan dengan elemen kegembiraan, seperti doorprize yang dibagikan kepada peserta beruntung, mampu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seluruh partisipan. Dalam kesempatan tersebut, Edwin juga mengimbau seluruh peserta untuk senantiasa menjaga ketertiban dan kebersihan di sepanjang rute yang dilalui, serta mengajak mereka untuk menikmati momen kebersamaan dengan penuh suka cita. Tema "Srimananti": Refleksi Identitas dan Harapan Alunan Budaya Desa Pringgasela tahun 2026 mengusung tema yang sarat makna: "Srimananti". Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. "Srimananti" dipilih untuk secara komprehensif merepresentasikan berbagai elemen penting yang menjadi fondasi identitas Pringgasela. Tema ini mencakup harapan masyarakat, peran vital perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, serta identitas kain tenun khas Pringgasela yang telah berhasil menembus pasar internasional. Dalam konteks budaya Pringgasela, "Srimananti" dapat diartikan sebagai sebuah konsep keberlanjutan dan keseimbangan. Ini mencerminkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan, bagaimana peran perempuan dalam menenun kain dan juga dalam struktur sosial masyarakat terus dijaga dan ditingkatkan, serta bagaimana harapan untuk masa depan terus tumbuh seiring dengan pelestarian warisan masa lalu. Kharisma Event Nusantara: Pengakuan Skala Nasional Keikutsertaan Alunan Budaya dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) semakin menegaskan status dan potensi acara ini sebagai salah satu agenda pariwisata dan budaya unggulan di Indonesia. KEN adalah program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang bertujuan untuk mempromosikan berbagai acara unggulan dari seluruh daerah di Indonesia, baik yang berskala nasional maupun internasional. Masuknya Alunan Budaya ke dalam kalender KEN memberikan platform yang lebih luas untuk promosi, tidak hanya di tingkat lokal maupun nasional, tetapi juga berpotensi menarik perhatian wisatawan mancanegara. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat Pringgasela, terutama para pengrajin tenun, melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan apresiasi terhadap produk kerajinan lokal. Rangkaian kegiatan Alunan Budaya tahun ini dipastikan akan menyajikan berbagai atraksi seni dan budaya yang memukau, dirancang untuk memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung. Keberagaman acara yang disajikan diharapkan mampu menarik berbagai kalangan, mulai dari pecinta seni, budayawan, hingga wisatawan umum yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Lombok Timur. Jejak Sepuluh Tahun Alunan Budaya Pringgasela Perhelatan Alunan Budaya Pringgasela yang memasuki dekade kesepuluh ini merupakan sebuah perjalanan panjang yang penuh makna. Dimulai dari inisiatif sederhana untuk memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya lokal, acara ini telah berkembang menjadi sebuah festival yang dinantikan setiap tahunnya. Tahun Pertama (Perkiraan 2017): Inisiasi awal Alunan Budaya kemungkinan berfokus pada pengenalan kembali kain tenun Pringgasela kepada generasi muda dan masyarakat luas, serta menampilkan pertunjukan seni tradisional sederhana. Tahun-tahun Awal (2017-2020): Festival mulai berkembang dengan penambahan elemen-elemen budaya lain seperti tarian, musik tradisional, dan kuliner khas. Partisipasi masyarakat mulai meningkat, dan acara ini mulai dikenal di tingkat kabupaten. Periode Pertumbuhan (2021-2023): Alunan Budaya mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Beberapa kegiatan mulai terstruktur, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pelaku seni, semakin intensif. Upaya untuk memasukkan Alunan Budaya ke dalam agenda pariwisata daerah mulai digencarkan. Pengakuan Nasional (2024-2026): Puncak dari perkembangan ini adalah pengakuan Alunan Budaya sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN). Hal ini menandai pencapaian signifikan dalam hal popularitas dan potensi pariwisata. Tema-tema yang lebih mendalam dan representatif mulai diusung, seperti "Srimananti" pada tahun ini. Selama sepuluh tahun perjalanannya, Alunan Budaya Pringgasela telah menjadi ikon penting dalam upaya pelestarian budaya di Lombok Timur. Festival ini tidak hanya menjadi ajang pamer kekayaan budaya, tetapi juga sarana edukasi, interaksi sosial, dan pendorong ekonomi kreatif bagi masyarakat Pringgasela. Dampak dan Implikasi Lebih Luas Perhelatan Alunan Budaya Pringgasela memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar acara seremonial. Pelestarian Budaya: Festival ini berperan vital dalam menjaga kelangsungan tradisi, termasuk seni tenun yang merupakan mata pencaharian utama sebagian masyarakat Pringgasela. Dengan adanya apresiasi yang terus menerus, para pengrajin termotivasi untuk terus berkarya dan mewariskan keahlian mereka. Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Peningkatan kunjungan wisatawan yang didorong oleh Alunan Budaya dan status KEN secara langsung memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Mulai dari penjualan kain tenun, cinderamata, hingga penyediaan jasa akomodasi dan kuliner, semuanya berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan. Penguatan Identitas Lokal: Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat Pringgasela untuk merefleksikan dan merayakan identitas budaya mereka. Tema-tema yang diangkat dalam Alunan Budaya seringkali merupakan representasi dari nilai-nilai, sejarah, dan aspirasi masyarakat Pringgasela. Promosi Pariwisata: Dengan masuknya Alunan Budaya dalam kalender KEN, Lombok Timur semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata budaya yang menarik. Hal ini dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata secara keseluruhan. Kolaborasi Antar Stakeholder: Keberhasilan Alunan Budaya tidak lepas dari kolaborasi apik antara pemerintah daerah, masyarakat, pelaku seni, pengrajin, serta berbagai pihak swasta. Sinergi ini menjadi model penting untuk pengembangan acara-acara serupa di masa depan. Dengan tema "Srimananti" dan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta pengakuan skala nasional, Alunan Budaya Pringgasela 2026 diproyeksikan akan menjadi salah satu perhelatan budaya paling sukses dan berdampak di tahun ini, meneguhkan Pringgasela sebagai pusat kebudayaan yang terus berdenyut di jantung Lombok Timur. Post navigation Bank NTB Syariah Perkuat Komitmen Lingkungan Melalui Aksi Penanaman Mangrove dalam Rangkaian HUT ke-62