MATARAM – PT Bank NTB Syariah, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) andalan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), memproyeksikan peningkatan dividen signifikan pada tahun 2026 mendatang. Bank yang baru saja dinyatakan sehat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan predikat Peringkat Komposit 2 (PK-2) ini menargetkan perolehan dividen sebesar Rp82 miliar pada tahun 2026, naik dari realisasi dividen Rp72 miliar pada tahun 2025. Apresiasi Kinerja dan Proyeksi Dividen yang Menggembirakan Akhdiansyah, Anggota Komisi III DPRD NTB yang membidangi BUMD dan Aset, memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja manajemen PT Bank NTB Syariah, khususnya di bawah kepemimpinan yang baru. "Kita apresiasi kinerja dari manajemen baru PT Bank NTB Syariah. Realisasi dividen Rp 72 miliar di tahun 2025 dan target dividen naik Rp 82 miliar di tahun 2026," ungkap Akhdiansyah pada Senin (3/8). Ia menambahkan bahwa PT Bank NTB Syariah merupakan salah satu BUMD yang menjadi andalan Pemerintah Provinsi NTB karena konsisten memberikan kontribusi dividen tertinggi dibandingkan BUMD lainnya. Hal ini menunjukkan posisi strategis bank dalam mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTB. "Salah satu BUMD yang menjadi leading BUMD kita menghasilkan dividen tertinggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lain, terutama BUMD milik daerah lainnya," tegas Akhdiansyah. Optimisme terhadap peningkatan dividen pada tahun 2026 didasarkan pada tren kinerja bank yang terus membaik serta pengakuan OJK terhadap kesehatan finansialnya. Penguatan Tata Kelola Perusahaan: Mitigasi Risiko dan Audit Internal Meskipun memberikan apresiasi, Komisi III DPRD NTB juga tidak luput memberikan masukan konstruktif kepada manajemen PT Bank NTB Syariah. Fokus utama masukan tersebut adalah penguatan tata kelola perusahaan, yang mencakup dua aspek krusial: mitigasi risiko dan audit internal. "Kita juga memberikan beberapa saran, yaitu penguatan tata kelola perusahaan. Ada dua hal yang perlu diperkuat, yakni mitigasi risiko dan audit internal," ujar Akhdiansyah. Pentingnya audit internal ditekankan untuk memastikan operasional bank berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan. Audit internal yang efektif menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas layanan, efisiensi operasional, dan yang terpenting, pencapaian target-target strategis termasuk target dividen yang ambisius. Sementara itu, mitigasi risiko dianggap sebagai pelajaran berharga dari peristiwa yang sempat dihadapi Bank NTB pada tahun 2025. Saat itu, PT Bank NTB Syariah menjadi salah satu dari 28 bank di Indonesia yang terdampak insiden kejahatan siber (cyber crime), yang berujung pada hilangnya sebagian dana nasabah. Kejadian ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya memiliki sistem pertahanan siber yang kuat dan mekanisme pencegahan risiko yang matang. "Karena itu, mitigasi risiko harus dipersiapkan dengan baik agar kejadian serupa tidak terulang," terang Akhdiansyah. Penguatan mitigasi risiko tidak hanya bertujuan untuk melindungi aset dan reputasi bank, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik dan stabilitas sistem keuangan di daerah. Latar Belakang dan Konteks Keberhasilan PT Bank NTB Syariah PT Bank NTB Syariah, yang sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTB, telah bertransformasi menjadi bank syariah. Perubahan ini merupakan langkah strategis pemerintah provinsi untuk menjawab tuntutan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat akan layanan perbankan syariah yang kian diminati. Transformasi ini juga diharapkan dapat membuka peluang baru dalam pengembangan bisnis dan peningkatan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Status kesehatan bank yang dinyatakan sehat oleh OJK dengan predikat PK-2 merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Peringkat Komposit merupakan indikator kesehatan bank yang mencakup enam faktor penilaian: Profil Risiko (PR), Tata Kelola (TK), Permodalan (PM), Kualitas Aset Produktif (KAP), Rentabilitas (RB), dan Likuiditas (LQ). Predikat PK-2 mengindikasikan bahwa bank berada dalam kondisi sehat dengan beberapa area yang memerlukan perhatian lebih. Peningkatan dividen yang terus menerus menunjukkan bahwa bank mampu menghasilkan keuntungan yang stabil dan berkelanjutan. Hal ini sangat krusial bagi pemerintah daerah dalam membiayai berbagai program pembangunan dan pelayanan publik. Dividen yang disalurkan oleh BUMD menjadi salah satu sumber PAD yang penting, mengurangi ketergantungan pada dana transfer dari pemerintah pusat. Kronologi Perjalanan PT Bank NTB Syariah dan Tantangan yang Dihadapi Perjalanan PT Bank NTB Syariah tidak lepas dari tantangan. Transformasi menjadi bank syariah pada tahun 2021 menjadi tonggak penting yang memerlukan adaptasi signifikan dalam operasional, produk, dan sumber daya manusia. Perubahan ini sejalan dengan visi Pemprov NTB untuk menjadikan daerah ini sebagai pusat ekonomi syariah. Insiden kejahatan siber pada tahun 2025 menjadi ujian berat bagi manajemen bank, baik dalam hal teknis maupun kepercayaan nasabah. Kejadian tersebut menyoroti kerentanan sistem keuangan digital terhadap serangan siber dan pentingnya investasi berkelanjutan dalam teknologi keamanan. Respons cepat dan transparan dari manajemen bank dalam menangani insiden tersebut sangat krusial untuk memulihkan kepercayaan. Namun, dengan status kesehatan yang diakui OJK dan proyeksi dividen yang positif, PT Bank NTB Syariah menunjukkan resiliensi dan kemampuan adaptasi yang baik. Kinerja positif ini juga tidak lepas dari dukungan penuh dari pemegang saham, yaitu Pemerintah Provinsi NTB dan pemerintah kabupaten/kota se-NTB, serta kepercayaan dari masyarakat sebagai nasabah. Implikasi dan Dampak yang Lebih Luas Peningkatan kontribusi PT Bank NTB Syariah terhadap PAD Provinsi NTB memiliki implikasi yang luas bagi pembangunan daerah. Dividen yang lebih besar dapat dialokasikan untuk membiayai sektor-sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pengembangan UMKM. Hal ini secara langsung akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat NTB. Selain itu, kinerja positif bank syariah ini juga berkontribusi dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah di NTB. Dengan semakin berkembangnya layanan perbankan syariah, diharapkan dapat mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan masyarakat, serta menarik investasi yang selaras dengan prinsip-prinsip syariah. Penguatan tata kelola perusahaan, khususnya dalam mitigasi risiko, menjadi contoh penting bagi BUMD lain di Indonesia. Kejadian siber yang dialami Bank NTB memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapan dalam menghadapi ancaman keamanan digital di era digitalisasi yang semakin pesat. Optimisme Menyongsong Masa Depan Secara keseluruhan, Akhdiansyah menyatakan optimisme terhadap kinerja manajemen baru PT Bank NTB Syariah. Meskipun mewarisi berbagai persoalan dari masa lalu, pencapaian yang diraih selama satu tahun terakhir menunjukkan kinerja yang cukup baik dan mengindikasikan arah yang positif. "Secara keseluruhan, kita optimis dan percaya dengan manajemen baru PT Bank NTB Syariah," tegasnya. Kepercayaan ini menjadi modal penting bagi bank untuk terus berinovasi, meningkatkan layanan, dan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi kemajuan Provinsi NTB. Dengan pondasi kesehatan keuangan yang kuat dan fokus pada penguatan tata kelola, PT Bank NTB Syariah diprediksi akan terus menjadi lokomotif pembangunan ekonomi daerah di masa mendatang. Post navigation PLTP Ulumbu Beroperasi Lebih dari Satu Dekade, PLN Tegaskan Komitmen Keberlanjutan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat