Pengembangan industri tebu di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, bukan sekadar inisiatif agrikultur biasa, melainkan sebuah visi strategis yang berpotensi merevolusi struktur ekonomi wilayah tersebut secara fundamental. Dengan topografi dan iklim yang mendukung, Sumbawa diproyeksikan dapat menjadi "hub" gula baru yang vital di Indonesia Timur, berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani lokal. Namun, di balik potensi cerah ini, terdapat tantangan mendasar yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, terutama terkait akses permodalan dan disparitas biaya logistik. Potensi Revolusioner Tebu di Bumi Sumbawa Pulau Sumbawa, dengan lahan pertanian yang luas dan iklim tropis yang kondusif, telah lama diidentifikasi sebagai salah satu daerah prospektif untuk pengembangan komoditas tebu. Program pemerintah untuk mencapai swasembada gula nasional telah menempatkan wilayah ini dalam sorotan sebagai lumbung baru. Perusahaan seperti PT SMS (Sumbawa Sugar Mandiri) di Dompu telah berinvestasi dalam pembangunan pabrik gula, menjadi jangkar bagi pengembangan industri ini. Visi jangka panjang adalah mengurangi ketergantungan impor gula dan memberdayakan ekonomi lokal melalui peningkatan pendapatan petani. Kisah sukses awal dari petani tebu di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, menjadi bukti nyata potensi ini. Haji Muhammad Nur, salah satu pionir, menunjukkan peningkatan hasil panen tebu yang signifikan di lahannya. Dari 80 ton pada tahun 2023, produktivitas lahannya melonjak menjadi hampir 200 ton pada tahun 2025. Dengan harga bersih sekitar Rp 300.000 per ton, pendapatan kotor Haji Nur dari sekali panen dapat mencapai angka Rp 50-60 juta. "Alhamdulillah, untuk kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak bisa tercukupi," ungkap Nur, mencerminkan dampak langsung terhadap kualitas hidup keluarganya. Keberhasilan ini tidak hanya berhenti pada Haji Nur; petani lain seperti Amaq Siman juga telah mencapai hasil serupa, mengukuhkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, tebu mampu menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Tantangan di Balik Manisnya Potensi: Jarak, Akses Modal, dan Keadilan Meskipun terdapat kisah sukses individu, pengembangan industri tebu di Labangka belum merata. Haji Nur sendiri mengakui bahwa masih sedikit warga yang tertarik beralih ke komoditas ini. "Pokoknya masalah utamanya karena kan jauh tempatnya dari pabrik PT SMS di Dompu. Jauh, makanya kurang tertarik orang," keluhnya. Jarak geografis yang memisahkan lahan petani dari pabrik gula menjadi hambatan utama, terutama terkait biaya transportasi hasil panen yang membengkak, mengikis keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati petani. Selain kendala jarak, akses terhadap permodalan juga menjadi isu krusial. Selama tiga tahun berkecimpung, bantuan yang diterima Haji Nur dan rekan-rekannya sebatas bibit dan pelatihan budidaya dari pabrik. Mereka belum mendapatkan akses ke fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau bantuan peralatan tani yang sangat dibutuhkan untuk perluasan lahan dan peningkatan efisiensi. "Belum ada bantuan kredit. Cuma waktu bayaran, lewat bank BRI," jelas Nur. Keterbatasan modal ini menghambat petani untuk mengoptimalkan lahan, membeli alat-alat pertanian modern, atau bahkan mengelola biaya operasional yang tidak sedikit hingga masa panen tiba. Tanpa dukungan permodalan yang memadai, potensi pengembangan tebu dalam skala yang lebih besar akan sulit terwujud. Analisis Skala Usaha dan Disparitas Pendapatan Petani Abu Bakar, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Dompu, menyoroti bahwa pihak pabrik tidak seharusnya hanya terpaku pada angka produktivitas tebu yang melonjak, tetapi juga harus memikirkan aspek keadilan bagi setiap petani, terutama mereka yang lahannya jauh dari pabrik. Menurut Abu Bakar, skala lahan sangat menentukan kelayakan ekonomi penanaman tebu. "Kalau lahannya hanya satu hektare, untuk tanam tebu hasilnya nggak cukup," ujarnya. Ia memaparkan realitas pahit di balik angka pendapatan kotor yang tampak menggiurkan. Penghasilan Rp 20-30 juta per hektare per tahun, setelah dikurangi berbagai biaya operasional seperti pengolahan lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja, dan transportasi, mungkin tidak akan cukup untuk menopang biaya hidup modern, apalagi untuk membiayai pendidikan anak hingga jenjang perguruan tinggi. "Lahan ideal dan bisa menguntungkan harus lebih dari satu hektare. Jika kurang justru yang ada nanti justru hutang," tegasnya, menekankan pentingnya skala usaha yang ekonomis agar petani tidak terjerat lilitan utang. Analisis Abu Bakar menunjukkan bahwa di balik kesuksesan industri tebu di Dompu, terdapat ketimpangan biaya yang menggerogoti keuntungan petani di zona terjauh. Petani di desa-desa sekitar pabrik, seperti Sorinomo dan Pekat di Kabupaten Dompu, menikmati akses yang mudah dan biaya angkut yang relatif ringan. Mereka berada dalam posisi yang lebih menguntungkan karena efisiensi logistik. Sebaliknya, nasib petani di zona luar, seperti wilayah Tambora atau Bima, apalagi Labangka di Sumbawa, jauh berbeda. "Yang masih mahal memang angkutan transportasinya di zona luar. Angkutan di truknya kan mahal untuk membawa hasil panen ke pabrik," jelasnya. Ongkos logistik yang membengkak ini, menurutnya, dapat menghapus keuntungan petani dan mematikan minat mereka untuk mengembangkan tebu di wilayah pinggiran. Mewujudkan Keadilan Melalui Subsidi Silang Angkutan Tebu Menyikapi permasalahan disparitas biaya logistik ini, Abu Bakar secara lantang menyuarakan solusi konkret: pemberlakuan kebijakan subsidi silang angkutan tebu. "Harapan saya, PT SMS sebaiknya mempertimbangkan untuk memberlakukan subsidi silang aspek angkutan," pintanya. Mekanisme subsidi silang ini dirancang untuk menyeimbangkan beban biaya transportasi antara petani yang dekat dan yang jauh dari pabrik, sehingga semua petani dapat bernapas lega dan merasakan manfaat yang adil dari industri tebu. Konsep subsidi silang ini bisa diwujudkan dengan mengambil sebagian kecil dari keuntungan atau biaya angkut yang dibayarkan oleh petani di zona dekat pabrik, untuk kemudian disubsidikan kepada petani di zona jauh. Dengan demikian, biaya transportasi bagi petani di wilayah-wilayah terpencil dapat ditekan, membuat usaha mereka lebih menguntungkan dan berkelanjutan. "Supaya yang jauh-jauh di wilayah Bima, wilayah Tambora sana itu, tidak terlalu rugi lah karena tebu. Karena mereka memikirkan ongkos truknya," tutur Abu Bakar penuh harap. Penerapan kebijakan ini akan memiliki dampak berganda. Pertama, akan meningkatkan daya tarik penanaman tebu bagi petani di wilayah pinggiran, mendorong perluasan areal tanam dan peningkatan produksi secara keseluruhan. Kedua, akan menciptakan iklim usaha yang lebih adil dan inklusif, mengurangi kesenjangan ekonomi antarpetani. Ketiga, akan memperkuat citra PT SMS sebagai perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap komunitas petani mitra. Implikasi Lebih Luas: Menuju Sentra Gula Inklusif dan Berkelanjutan Harapan Abu Bakar terhadap subsidi silang bukan sekadar wacana. Baginya, ini adalah kunci untuk memeratakan keberhasilan sektor pertanian tebu, mengubah Dompu – dan secara lebih luas, Pulau Sumbawa – bukan hanya menjadi penghasil tebu, tetapi sentra gula yang inklusif, di mana setiap petani, di manapun lokasinya, memiliki peluang yang sama untuk menjadi petani yang sejahtera. Pemerintah daerah dan pusat juga memiliki peran krusial dalam mendukung inisiatif semacam ini. Kebijakan yang mendukung akses permodalan, seperti penyaluran KUR yang lebih mudah dan tepat sasaran, serta bantuan peralatan pertanian, akan melengkapi upaya pabrik dan memberdayakan petani secara holistik. Program-program penyuluhan yang intensif dan berkelanjutan juga penting untuk memastikan petani mengadopsi praktik budidaya terbaik, sehingga produktivitas dan kualitas tebu dapat terus meningkat. Secara makro, keberhasilan pengembangan industri tebu yang berkeadilan di Sumbawa akan memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian regional. Sektor ini akan menciptakan lapangan kerja, menggerakkan roda perekonomian lokal melalui rantai pasok yang panjang, mulai dari pembibitan, budidaya, panen, transportasi, hingga pengolahan di pabrik. Peningkatan pendapatan petani akan berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya akan memacu sektor-sektor ekonomi lainnya. Abu Bakar yakin, dengan subsidi silang dan dukungan komprehensif, geliat tebu tak hanya akan terdengar dari desa-desa sekitar pabrik, tetapi juga akan menggema dari lereng Tambora yang subur hingga wilayah Bima dan Labangka, Sumbawa. Semua wilayah ini akan menyatu dalam satu harmoni kemajuan yang berkeadilan, menjadikan Pulau Sumbawa benar-benar menjadi lumbung gula nasional yang makmur dan inklusif. Visi ini adalah janji untuk masa depan yang lebih cerah bagi ribuan petani dan masyarakat Sumbawa. Realisasinya akan sangat bergantung pada kolaborasi, inovasi kebijakan, dan komitmen kuat dari semua pemangku kepentingan, dari petani hingga pemerintah dan pihak swasta. Post navigation Hamparan Tebu di Kaki Tambora: Dari Krisis Jambu Mete Menuju Harapan Ekonomi dan Tantangan Infrastruktur PT Sumbawa Timur Mining Serahkan Program Partisipasi Desa (PPD) 2025 Senilai Rp1,26 Miliar, Perkuat Pemberdayaan Masyarakat di 12 Desa Dompu