Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Hj. Sari Yuliati, secara resmi menghadiri dan memberikan apresiasi tinggi dalam rangkaian acara Wisuda Takhasus Santri Pondok Pesantren (Ponpes) NU Abhariyah yang berlokasi di Desa Terong Tawah, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, pada Selasa, 4 Agustus 2026. Kehadiran pimpinan parlemen ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga membawa misi penguatan akses pendidikan bagi santri di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui penyaluran berbagai bantuan strategis, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP), bantuan infrastruktur senilai Rp 100 juta, hingga program sanitasi lingkungan pesantren.

Dalam pidato utamanya di hadapan belasan wisudawan dan ratusan wali santri, Sari Yuliati menekankan bahwa pencapaian akademik yang diraih oleh para santri pada hari ini merupakan sebuah fondasi awal, bukan garis finis. Ia menegaskan pentingnya paradigma belajar sepanjang hayat (long-life learning) sebagai modal utama dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks. "Wisuda hari ini bukanlah titik akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan langkah awal yang sangat krusial untuk mengembangkan pengetahuan lebih dalam dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada masyarakat," ujar Sari dalam sambutannya yang disambut antusias oleh keluarga besar Ponpes NU Abhariyah.

Inspirasi Pendidikan: Menuntut Ilmu Tanpa Batas Usia

Guna memotivasi para santri agar terus mengejar pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Sari Yuliati membagikan refleksi personal mengenai perjalanan akademiknya sendiri. Di tengah kesibukannya sebagai Wakil Ketua DPR RI dan Bendahara Umum Partai Golkar, Sari mengungkapkan bahwa saat ini dirinya masih tercatat sebagai kandidat Doktor Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Pengakuan ini menjadi sorotan karena ia tetap konsisten menuntut ilmu meski usianya kini telah mendekati setengah abad.

"Di usia saya yang hampir setengah abad ini, semangat saya untuk menuntut ilmu tidak pernah surut. Saya ingin adik-adik santri melihat bahwa usia bukanlah penghalang. Teruslah membaca, memperluas cakrawala berpikir, dan yang terpenting, tingkatkan kualitas keimanan serta akhlakul karimah," tambahnya. Pesan ini ditujukan untuk mematahkan stigma bahwa pendidikan pesantren hanya berfokus pada aspek tradisional, melainkan harus mampu bersaing secara intelektual di level nasional maupun internasional.

Komitmen Nyata Melalui Bantuan PIP dan KIP Kuliah

Salah satu agenda utama dalam kunjungan kerja ini adalah penyerahan secara simbolis bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Program ini merupakan inisiatif strategis pemerintah yang diperjuangkan melalui jalur legislasi dan pengawasan di DPR RI untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak. Sari Yuliati menegaskan komitmennya bahwa faktor ekonomi tidak boleh menjadi alasan bagi seorang santri untuk putus sekolah atau berhenti mondok.

"Kami tidak ingin mendengar ada santri yang harus berhenti di tengah jalan hanya karena kendala biaya. Pendidikan adalah hak dasar," tegas Sari. Selain PIP untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, ia juga menyosialisasikan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi para santri yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Melalui program ini, bantuan biaya pendidikan disalurkan per semester langsung kepada mahasiswa, guna menjamin keberlangsungan studi mereka hingga meraih gelar sarjana.

Pihak pesantren mencatat bahwa sejak tahun 2019, Sari Yuliati telah secara konsisten memfasilitasi penyaluran PIP bagi seluruh santri di Ponpes NU Abhariyah tanpa terkecuali. Hal ini berdampak signifikan pada tingkat retensi siswa di sekolah tersebut, di mana mayoritas santri berasal dari kalangan menengah ke bawah yang rentan secara ekonomi.

Dukungan Infrastruktur dan Fasilitas Operasional Pesantren

Selain bantuan pendidikan yang bersifat personal bagi santri, Sari Yuliati juga menyerahkan bantuan hibah sebesar Rp 100 juta yang diperuntukkan bagi pembangunan dan pengembangan fasilitas di lingkungan Pondok Pesantren NU Abhariyah. Dana ini diharapkan dapat mempercepat penyelesaian gedung-gedung asrama atau ruang kelas yang memadai guna menunjang kenyamanan proses belajar mengajar.

Tak berhenti di situ, sektor kesehatan lingkungan juga menjadi perhatian serius. Sari membawa program sanitasi pesantren yang bertujuan untuk meningkatkan standar kebersihan dan kesehatan di lingkungan pondok. Program ini mencakup pembangunan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang higienis serta sistem pengelolaan air bersih. Infrastruktur kesehatan ini dianggap vital mengingat pola hidup komunal di pesantren memerlukan standar sanitasi yang tinggi guna mencegah penyebaran penyakit.

Motivasi Santri, Wakil Ketua DPR RI Hj Sari Yuliati Serahkan Bantuan PIP dan Program Sanitasi di Ponpes NU Abhariyah

Sebagai bentuk dukungan mobilitas, Sari Yuliati juga memfasilitasi pengadaan satu unit kendaraan operasional (melalui kemitraan dengan BPKH). Kendaraan ini telah dimanfaatkan oleh pihak pesantren untuk berbagai keperluan mendesak, seperti mengantar santri yang sakit ke fasilitas kesehatan hingga mendukung kegiatan dakwah di luar lingkungan pesantren.

Menghadapi Era Digital dan Tantangan Zaman

Dalam analisisnya mengenai masa depan santri, Sari Yuliati mengingatkan bahwa era digitalisasi membawa perubahan yang sangat cepat, bahkan seringkali melampaui dinamika regulasi atau hukum yang ada. Oleh karena itu, ia mendorong santri untuk menjadi generasi yang adaptif terhadap teknologi informasi tanpa kehilangan jati diri sebagai insan religius.

"Dunia berubah sangat cepat. Saya berharap santri Abhariyah tidak hanya unggul dalam kitab kuning dan pemahaman agama, tetapi juga fasih dalam menggunakan teknologi untuk kemaslahatan umat. Kalian harus menjadi agen perubahan (agent of change) yang membawa manfaat bagi nusa, bangsa, dan agama," jelasnya. Adaptasi teknologi dipandang sebagai kunci agar lulusan pesantren dapat berperan aktif di berbagai sektor, mulai dari ekonomi syariah, literasi digital, hingga kepemimpinan publik.

Kedekatan Emosional dan Apresiasi Pengasuh Pesantren

Pengasuh Pondok Pesantren NU Abhariyah, Ustadz Imam Kafali, menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya atas dedikasi Sari Yuliati. Menurutnya, hubungan antara Sari Yuliati dengan keluarga besar Abhariyah sudah melampaui batas hubungan formal antara pejabat negara dan konstituen.

"Ibu Sari sudah seperti bagian dari keluarga besar kami. Beliau sering berkata bahwa setiap datang ke Abhariyah, beliau merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Kedekatan emosional inilah yang membuat bantuan-bantuan yang diberikan terasa sangat tulus dan tepat sasaran," ungkap Imam Kafali yang juga menjabat sebagai Ketua BM Kosgoro 1957 NTB.

Imam Kafali menambahkan bahwa transparansi dalam pengelolaan bantuan PIP di pesantrennya sangat dijaga. Sistem yang diterapkan adalah orang tua santri mencairkan dana tersebut secara langsung, yang kemudian digunakan untuk menyelesaikan kewajiban administrasi pesantren. "Alhamdulillah, wali santri di sini sangat taat dan mengerti bahwa bantuan ini adalah amanah untuk kelancaran pendidikan anak-anak mereka," imbuhnya.

Rekam Jejak dan Perlindungan Santri

Selain fokus pada pendidikan dan infrastruktur, Sari Yuliati juga mendapatkan apresiasi atas keberaniannya dalam menyuarakan isu-isu sensitif terkait perlindungan santri. Sebagai Ketua Umum Kosgoro 1957, ia dikenal vokal dalam memberikan perhatian pada kasus-kasus kekerasan yang menimpa santri di Pulau Lombok. Langkah ini dinilai sebagai bentuk kepedulian yang komprehensif, tidak hanya memberikan bantuan materiil tetapi juga memberikan perlindungan hukum dan rasa aman bagi komunitas pesantren di NTB.

Penutup: Mencetak Generasi Unggul dari Labuapi

Wisuda Takhasus tahun 2026 ini diikuti oleh 16 santri yang telah berhasil menyelesaikan masa pendidikan intensif selama tujuh tahun di Ponpes NU Abhariyah. Masa pendidikan yang panjang tersebut merupakan bukti ketekunan para santri dalam mendalami ilmu agama dan pengetahuan umum secara terintegrasi.

Dengan dukungan berkelanjutan dari tokoh nasional seperti Sari Yuliati, Pondok Pesantren NU Abhariyah diharapkan terus berkembang menjadi pusat keunggulan (center of excellence) pendidikan Islam di Lombok Barat. Keberhasilan penyaluran program PIP dan KIP Kuliah, ditambah dengan penguatan infrastruktur senilai ratusan juta rupiah, menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara lembaga legislatif dan institusi pendidikan keagamaan dapat menciptakan dampak transformatif bagi masyarakat akar rumput.

Sari Yuliati menutup kunjungannya dengan doa dan harapan agar para wisudawan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. "Semoga keberhasilan hari ini menjadi pijakan menuju masa depan yang lebih gemilang, membanggakan orang tua, dan menjadi amal jariyah bagi almamater tercinta," pungkasnya. Peristiwa ini menandai babak baru bagi Ponpes NU Abhariyah dalam mencetak kader bangsa yang tangguh secara intelektual, kokoh secara spiritual, dan siap menghadapi tantangan zaman di masa depan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *